Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Co-Founder and CEO Ula, Nipun Mehra. (IST)

Co-Founder and CEO Ula, Nipun Mehra. (IST)

Start-up Ula Raih Pendanaan Seri A US$ 20 Juta

Rabu, 3 Februari 2021 | 19:00 WIB
Emanuel Kure (emanuel.kure@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Ula, start-up marketplace berbasis di Indonesia yang fokus pada transformasi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), mengumumkan perolehan pendanaan Seri A senilai US$ 20 juta, atau sekitar Rp 290 miliar.

Pendanaan tersebut dipimpin oleh Quona Capital, salah satu investor utama dalam putaran pendanaan awal Ula, bersama B Capital Group. Beberapa investor sebelumnya, yakni Lightspeed India dan Sequoia Capital India, juga berpartisipasi dalam pendanaan kali ini. 

“Perolehan pendanaan akan digunakan untuk memaksimalkan rencana ekspansi Ula ke depan, pengembangan  produk dan layanan, serta  peluncuran kategori produk baru,” ungkap Co-Founder and CEO Ula, Nipun Mehra, dalam keterangannya, Rabu (3/2).

Platform Ula pertama kali diluncurkan pada Januari 2020 dengan tim yang berada di Indonesia, India, dan Singapura. Sampai saat ini, Ula telah melayani lebih dari 20.000 toko yang mayoritas berlokasi di Provinsi Jawa Timur.

Ulfa juga tengah membentuk tim teknologi di Indonesia, India, dan Singapura, serta merekrut berbagai peran kunci dalam manajemen kategori, analitik, kredit, serta pemimpin P&L kota di Indonesia.

Ula Menawarkan  kemudahan bertransaksi melalui teknologi. Layanan yang tersedia bertujuan untuk mendigitalisasi struktur rantai pasok, memudahkan pengelolaan stok, dan manajemen keuangan  untuk UMKM.

Peritel UMKM

Nipun melanjutkan, peritel kecil, atau UMKM, sangat terintegrasi dengan ekonomi dan budaya Indonesia. Mereka merupakan wirausahawan dan pengusaha mikro yang jika dibandingkan dengan peritel modern sebetulnya menjalankan  bisnis dengan biaya sangat efisien.

Namun di lain pihak, bisnis mereka yang berskala kecil menjadikan segmen usaha yang paling rentan di dalam rantai penjualan ritel.

“Mereka menghadapi beberapa tantangan dalam bisnis, seperti terbatasnya ketersediaan produk, tingginya harga produk di pasaran untuk dapat mereka jual, layanan yang belum maksimal, dan juga modal kerja yang terbatas,” ujarnya.

Tantangan tersebut tidak hanya terbatas pada satu kategori saja. Semua kategori mengalaminya, termasuk fast moving consumer goods (FMCG),  barang-barang konsumsi, pakaian, elektronik, dan kategori lain memiliki  tantangan yang sama.

Founder Ula berdiri di atas satu tujuan yang sama ingin menyelesaikan permasalahan di dalam industri, yaitu dengan menghadirkan pendekatan yang mengutamakan peritel,” pungkas Nipun.

Editor : Abdul Muslim (abdul_muslim@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN