Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
PT Vale Indonesia Tbk (INCO) bersama dengan Zhejiang Huayou Cobalt Company Limited (Huayou) telah menandatangani perjanjian kerangka kerja sama (framework cooperation agreement/FCA) untuk mengembangkan fasilitas pengolahan High-Pressure Acid Leaching (HPAL) di Pomalaa, Kolaka, Sulawesi Tenggara (Proyek HPAL Pomalaa). (Foto: Ist)

PT Vale Indonesia Tbk (INCO) bersama dengan Zhejiang Huayou Cobalt Company Limited (Huayou) telah menandatangani perjanjian kerangka kerja sama (framework cooperation agreement/FCA) untuk mengembangkan fasilitas pengolahan High-Pressure Acid Leaching (HPAL) di Pomalaa, Kolaka, Sulawesi Tenggara (Proyek HPAL Pomalaa). (Foto: Ist)

Sumitomo Cabut, Vale (INCO) dan Huayou Teken Perjanjian Kerangka Kerja Sama Proyek Pomalaa

Kamis, 28 April 2022 | 19:24 WIB
Thresa Sandra Desfika (thresa.desfika@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – PT Vale Indonesia Tbk (INCO) bersama dengan Zhejiang Huayou Cobalt Company Limited (Huayou) telah menandatangani perjanjian kerangka kerja sama (framework cooperation agreement/FCA) untuk mengembangkan fasilitas pengolahan High-Pressure Acid Leaching (HPAL) di Pomalaa, Kolaka, Sulawesi Tenggara (Proyek HPAL Pomalaa).

FCA ditandatangani oleh CEO Vale Febriany Eddy dan CFO Vale Bernardus Irmanto dengan Pimpinan Huayou Xuehua Chen. Penandatanganan tersebut juga disaksikan oleh Presiden Komisaris Vale Deshnee Naidoo.

Baca juga: Sumitomo Hengkang dari Proyek Smelter Nikel Vale Indonesia (INCO)

Para Pihak pada prinsipnya telah menyepakati hal-hal pokok yang terkait dengan Proyek HPAL Pomalaa, yang meliputi Huayou akan membangun dan melaksanakan Proyek HPAL Pomalaa, dan PT Vale akan memiliki hak untuk mengakuisisi hingga 30% saham Proyek HPAL Pomalaa tersebut.

Lalu, Proyek HPAL Pomalaa akan mengadopsi dan menerapkan proses, teknologi dan konfigurasi HPAL Huayou yang telah teruji untuk memproses bijih limonit dan bijih saprolit kadar rendah dari tambang PT Vale di Pomalaa, untuk menghasilkan Produk Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) dengan potensi kapasitas produksi hingga mencapai 120.000 metrik ton nikel per tahun.

Kemudian, kedua perusahaan akan bekerja sama untuk meminimalkan jejak karbon proyek dan selanjutnya para pihak sepakat untuk tidak menggunakan pembangkit listrik tenaga batu bara captive sebagai sumber listrik dalam bentuk apapun untuk pengoperasian Proyek HPAL Pomalaa.

Para pihak akan menandatangani perjanjian-perjanjian definitif tidak lebih dari jangka waktu enam bulan setelah penandatanganan FCA ini. Beberapa konstruksi yang telah dimulai melalui kegiatan pendahuluan yang dilakukan PT Vale akan tetap berjalan bahkan dipercepat dengan adanya kesepakatan ini dengan tujuan untuk menyelesaikan pembangunan dalam periode tiga tahun.

Febriany mengatakan, pihaknya menghargai bahwa mitra kami datang dengan agenda rendah karbon, bukan untuk menggunakan pembangkit listrik tenaga batu bara.

“FCA ini merupakan bukti keselarasan komitmen keberlanjutan kami yang sangat penting bagi PT Vale. Huayou telah membuktikan rekam jejaknya dalam konstruksi dan operasi HPAL di Indonesia. Kami yakin bahwa kedua pihak dapat menjadi pelengkap yang baik satu sama lain,” terang Febriany dalam keterangan resmi, Kamis (28/4/2022).

Sementara itu, Deshnee Naidoo menambahkan, ini merupakan tonggak penting yang mencerminkan komitmen jangka panjang pihaknya untuk mengembangkan sumber daya nikel Indonesia yang berkelas dunia.

Baca juga: Dipimpin Altara Ventures, Saturdays Raih Pendanaan Seri A

PT Vale berkomitmen untuk memperluas operasi di Indonesia dan mendukung masa depan negeri yang berkelanjutan sebagai perusahaan pertambangan yang terpercaya dan bertanggung jawab, menciptakan nilai dan peluang pada masyarakat di mana beroperasi.

Sebelumnya, Sumitomo Metal Mining Co Ltd (SMM) memutuskan untuk keluar dari proyek fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) nikel di Pomalaa, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara milik PT Vale Indonesia Tbk (INCO). Langkah itu diambil perusahaan industri pengolahan logam asal Jepang tersebut, dengan menghentikan studi kelayakan (feasibility study) proyek yang akan menghasilkan produk untuk bahan baku baterai kendaraan listrik ini.

Editor : Theresa Sandra Desfika (theresa.sandra@investor.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN