Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Vale. Foto ilustrasi: IST

Vale. Foto ilustrasi: IST

Sumitomo dan Vale Indonesia Segera Ekspansi 'Smelter'

Farid Firdaus, Selasa, 19 November 2019 | 14:37 WIB

JAKARTA, investor.id – Sumitomo Metal Mining Co Ltd, mitra strategis PT Vale Indonesia Tbk (INCO), segera menyelesaikan definitive feasibility study untuk proyek pengolahan nikel (smelter) di Pomalaa, Sulawesi Tenggara menjelang akhir tahun ini. Selanjutnya, kedua pihak akan masuk ke proses pendanaan investasi.

Hal itu terungkap dalam kesimpulan pertemuan dengan analis yang digelar perseroan, baru-baru ini. Sumitomo dan Vale telah memulai uji kelaikan definitif sejak April 2018. Jika berjalan sesuai rencana, proyek Pomalaa ditargetkan mulai beroperasi pada pertengahan 2020. Perkiraan produksinya mencapai 40 ribu ton nikel bercampur sulfida.

“Dengan struktur produksi jangka panjang 150 ribu ton nikel per tahun, pabrik high pressure acid leaching (HPAL) nikel ini akan menjadi yang ketiga (di luar Jepang),” jelas manajemen Sumitomo, Selasa (19/11).

Di Asia Tenggara, Sumitomo Metal Mining telah memiliki dua pabrik HPAL di Filipina. Pertama, bersama perusahaan terafiliasinya, Coral Bay Nickel Corporation yang berlokasi di Palawan. Kedua, melalui perusahaan patungan, THPAL Corp yang terletak di Provinsi Surigao del Norte.

Sebelumnya, manajemen Vale Indonesia menyebutkan, smelter Pomalaa diproyeksikan menghabiskan dana investasi sebesar US$ 2,8 miliar. Rinciannya, sekitar US$ 2,5 miliar untuk pembangunan pabrik dan sebesar US$ 300 juta untuk investasi tambang.

Proyek Pomalaa merupakan salah satu proyek strategis Vale yang akan menjadi fokus perseroan ke depan. Saat ini, perseroan juga tengah bernegosiasi dengan mitra asal Tiongkok untuk membangun smelter di Bahodopi, Morowali, Sulawesi Tengah. Investasi di Bahodopi diperkirakan mencapai US$ 2,1 miliar, yang terdiri atas US$ 1,8 miliar untuk smelter dan US$ 300 juta untuk investasi tambang.

Sementara itu, hingga kuartal III-2019, pendapatan Vale Indonesia mencapai US$ 506,46 juta atau turun 12,61% dibandingkan periode sama tahun lalu US$ 579,59 juta. Laba periode berjalan perseroan turun signifikan menjadi US$ 160 ribu dari US$ 55,2 juta (year on year/yoy). Namun, laba periode berjalan itu lebih baik dibandingkan semester I-2019 ketika perseroan masih membukukan rugi periode berjalan US$ 26,17 juta.

Pencapaian tersebut seiring dengan realisasi produksi dan penjualan nikel matte Vale Indonesia. Selama Januari-September 2019, perseroan memproduksi 50.531 ton nikel dalam matte, turun 6,81% dari 54.227 ton dibanding periode yang sama tahun lalu. Adapun volume penjualan perseroan selama Januari-September 2019 mencapai 50.831 ton, turun 6,85% dari 54.569 ton pada periode sama tahun lalu.

MIND ID

Sementara itu, holding industri pertambangan, Mining Industry Indonesia (MIND ID) menargetkan akuisisi 20% saham Vale Indonesia rampung sebelum tutup tahun ini atau lebih cepat dari target semula. Sebab, saat ini valuasi akuisisi pengambialihan saham Vale telah ditentukan.

Dalam pernyataan resmi sebelumnya, MIND ID dan Vale Indonesia bersama pemegang sahamnya berencana melakukan penandatangan definitif  pada akhir 2019, dan penyelesaian keseluruhan transaksi maksimal enam bulan setelah perjanjian definitif.

Baru-baru ini, Wakil Menteri I BUMN Budi Gunadi Sadikin mengatakan, harga akuisisi saham Vale mengacu pada harga pasar di suatu titik tertentu. Dia enggan menjelaskan lebih lanjut, apakah harga pasar yang dimaksud adalah harga ketika perjanjian pendahuluan akuisisi diteken pada 11 Oktober 2019 atau saat perjanjian definitif nanti.

“Angkanya sudah ada, Cuma belum boleh disebutkan sekarang. Kita harapkan akhir tahun ini penyelesaiannya, supaya mereka (Vale) bisa rights issue, lalu transaksi,” jelas Budi.

Sebagai informasi, ketika masih menjabat sebagai direktur utama PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) sekaligus CEO MIND ID, Budi pernah mengatakan bahwa valuasi 20% saham Vale ditaksir di bawah US$ 1,5 miliar. Penilaian itu berasal dari kajian internal. Namun, kini Budi tidak lagi merujuk kepada angka tersebut. “Sekarang prosesnya bukan di saya, tapi di teman-teman Inalum,” ujarnya.

Berdasarkan surat Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia Nomor 1706/32/DJB/2019 tanggal 8 Oktober 2019, Pemerintah Republik Indonesia telah menunjuk Inalum sebagai perwakilannya dalam mengambil alih 20% saham Vale untuk memenuhi kewajiban divestasinya.

Aksi ini dilanjutkan pada 11 Oktober, ketika MIND ID dan Vale Indonesia bersama dengan para pemegang sahamnya, Vale Canada Ltd dan Sumitomo Metal Mining Co Ltd menandatangani perjanjian pendahuluan untuk mengambil alih 20% saham divestasi Vale.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA