Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Summarecon Agung. Foto ilustrasi: Investor Daily/Emral

Summarecon Agung. Foto ilustrasi: Investor Daily/Emral

Summarecon Agung Pertahankan Peringkat di Posisi "idA"

Nabil Al Faruq, Kamis, 12 September 2019 | 13:40 WIB

JAKARTA, investor.id – PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) mempertahankan peringkat “idA” kepada PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) dengan prospek stabil. Peringkat tersebut juga diberikan untuk Obligasi Berkelanjutan II tahun 2015, Obligasi Berkelanjutan II Fase II tahun 2017, dan Obligasi Berkelanjutan III tahun 2018.

“Selain mempertahankan peringkat perseroan serta obligasinya, Pefindo juga mempertahankan peringkat “idA(sy)” untuk Sukuk Ijarah I Fase II Tahun 2014,” ujar Manajemen Pefindo dalam keterangan resminya, Kamis (12/9).

Pefindo menambahkan, peringkat tersebut mencerminkan posisi pasar perseroan yang kuat di dalam industri properti, kualitas aset yang baik, dan pendapatan berulang yang cukup. Namun, peringkat dibatasi oleh struktur permodalan yang agresif dan perlindungan arus kas yang kurang kuat, risiko pengembangan proyek baru di area baru, dan karakteristik industri property yang sensitif terhadap perubahan kondisi makroekonomi.

Sebagai informasi, perseroan telah membagikan dividen sebesar 10% dari perolehan laba bersih tahun 2018 pada tanggal 19 Juli 2019. Nilai dividen yang didistribusikan mecapai Rp 69 miliar atau setara dengan Rp 5 per saham.

Direktur Utama Summarecon, Adrianto P Ardi mengatakan, rapat umum pemegang saham (RUPS) tahunan perseroan memutuskan total dividen 10% dari raihan laba bersih tahun lalu mencapai Rp 690 miliar.

Sedangkan sisa laba bersih dibukukan sebagai dana cadangan dan laba ditahan. Sebagaimana diketahui, perseroan berhasil membukukan pendapatan sebesar Rp 5,6 triliun atau turun 0,4% dibanding tahun sebelumnya. Meskipun demikian, laba bersih perusahaan meningkat 30% menjadi Rp 690,6 miliar.

Perseroan mencatat unit bisnis pengembangan properti tetap menjadi penyumbang utama pendapatan sebesar 61%. Total pendapatan dari unit bisnis ini mencapai Rp 3,4 triliun, turun 5% dari tahun sebelumnya yang mencapai Rp 3,6 triliun. Sisanya disumbangkan unit bisnis investasi dan manajemen properti.

Dari unit ini, Summarecon berhasil mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 7% menjadi Rp 1,49 triliun. Unit bisnis tersebut juga memberikan kontribusi pada pendapatan total perusahaan mencapai 26% yang datang dari keberhasilan bisnis mal dan ritel.

Target 2019

Lebih lanjut, tahun ini perseroan membidik penjualan unit properti (marketing sales) sebesar Rp 4 triliun atau hampir sama dengan perolehan tahun lalu. Hingga kini, realisasi marketing sales perseroan telah mencapai 50% dari total target tahun ini. “Realisasi marketing sales perseroan hingga Mei sudah mencapai Rp 2 triliun atau 50% dari target tahun ini,” ujar Adrianto.

Adrianto menambahkan, perseroan optimistis terhadap peningkatan kinerja keuangan tahun ini. Apalagi Pemilihan umum berjalan relatif aman, lancar, dan kondusif. “Kami yakin setelah ini tingkat kepercayaan konsumen pada pasar properti akan pulih dan tumbuh. Pemodal yang tadinya menahan uangnya untuk beli properti mulai mau menggulirkan uangnya. Situasi itu akan menggairahkan kembali penjualan properti,” ujarnya.

Perseroan bergerak di bidang properti yang diklasifikasikan menjadi tiga divisi: pengembangan properti, properti investasi, serta leisure dan hospitality. Proyek properti utama berlokasi di Kelapa Gading, Serpong, Bekasi, Bandung, Karawang dan Makassar.

Pada 30 Juni 2019, pemegang saham Perusahaan terdiri dari PT Semarop Agung 33,52%, PT Sinarmegah Jayasentosa 6,60%, BNYMSANV RE AMS RE Stichting D APG ST RE E ES Pool-2039846201 5,61%, Liliawati Rahardjo 0,85%, Harto Djojo Nagaria 0,14%, dan lainnya termasuk publik 53,29%. 

 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN