Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Direktur Utama BRI Sunarso (tengah), Wakil Direktur BRI Catur Budi Harto (kiri), dan Direktur Keuangan BRI Viviana Dyah Ayu Retno (kanan) dalam konferensi pers pemaparan kinerja keuangan triwulan IV-2020 secara virtual, Jumat (29/1).

Direktur Utama BRI Sunarso (tengah), Wakil Direktur BRI Catur Budi Harto (kiri), dan Direktur Keuangan BRI Viviana Dyah Ayu Retno (kanan) dalam konferensi pers pemaparan kinerja keuangan triwulan IV-2020 secara virtual, Jumat (29/1).

EKSPANSI KREDIT DITARGETKAN 6-7%

Sunarso: Likuiditas BRI Melimpah, Penerbitan Obligasi Belum Diperlukan

Jumat, 29 Januari 2021 | 14:29 WIB
Nida Sahara ( nida.sahara@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Kondisi likuiditas yang melimpah membuat PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) belum berminat untuk menerbitkan obligasi di tahun ini. Meski demikian, perseroan masih memiliki plafon obligasi sebesar Rp 15 triliun yang jatuh tempo tahun 2021.
Menurut Direktur Utama BRI Sunarso, perseroan sebenarnya mengantongi izin untuk penerbitan obligasi berkelanjutan. Namun, likuiditas perseroan masih terjaga dengan loan to deposit ratio (LDR) 83,7% pada tahun 2020. Untuk bisa melakukan ekspansi kredit dengan target 6-7% secara tahunan (year on year/yoy) pada 2021, Sunarso menilai dana pihak ketiga (DPK) masih bisa menutup untuk penyaluran kredit tersebut.

"Kami mengantongi izin issue bond berkelanjutan, tapi kami lihat dulu kebutuhan likuiditas. LDR kan di level 83,7%, maka untuk mencapai LDR optimal 90% saja, artinya ada range 6% untuk menumbuhkan LDR. Kalau dana masyarakat tidak berubah saja, maka tantangan kami bukan likuiditas. Jadi bond diperlukan nggak? belum, jawaban sementara belum diperlukan," ucap Sunarso dalam pemaparan kinerja kuartal IV-2020 secara virtual, Jumat (29/1).

Ia menjelaskan, BRI telah menghimpun dana pihak ketiga (DPK) mencapai Rp 1.121,1 triliun atau tumbuh 9,78% (yoy). Perolehan tersebut didorong oleh komposisi dana murah (current account saving account/CASA) perseroan yang sebesar 56,67% dari total DPK atau senilai Rp 668,93 triliun. Dengan begitu, kebutuhan untuk penerbitan surat utang di tahun ini masih belum diperlukan BRI.

Dengan bank BUMN ini memasang target pertumbuhan kredit antara 6-7% (yoy), BRI memperkirakan LDR tahun 2021 akan berada di level 85%.

"Fokus BRI adalah menumbuhkan kredit, khususnya segmen mikro dan ultra mikro," imbuhnya.

PUB Rp 15 Triliun
Sunarso menjelaskan lebih lanjut, BRI masih memiliki plafon obligasi senilai Rp 15 triliun, yang merupakan bagian dari Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) III-2019 dengan target dana sebesar Rp 20 triliun. PUB tersebut memiliki jatuh tempo pada tahun ini.

"Penerbitan PUB III tahap pertama sebesar Rp 5 triliun telah dilakukan perseroan pada November 2019," imbuhnya. 

Editor : Esther Nuky (esther@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN