Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Surat utang. Foto ilustrasi: DAVID

Surat utang. Foto ilustrasi: DAVID

Surat Utang Rp 71 Triliun Siap Diluncurkan

Farid Firdaus, Minggu, 5 April 2020 | 18:46 WIB

JAKARTA, investor.id – Sebanyak 59 perusahaan berencana menerbitkan surat utang hingga Rp 71,08 triliun. Rinciannya, 40 perusahaan swasta dengan target emisi Rp 44,08 triliun dan 19 emiten BUMN beserta anak usahanya dengan proyeksi emisi senilai Rp 27 triliun.

Hal tersebut terungkap dari daftar mandat pemeringkatan yang diterima oleh PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) hingga 31 Maret 2020. Berdasarkan jenis surat utang, penawaran umum berkelanjutan (PUB) mengambil porsi paling besar dengan rencana emisi Rp 31,87 triliun. Lalu, disusul surat utang jangka menengah (medium term notes/MTN) sebesar Rp 10,11 triliun.

Sementara itu, rencana emisi dari penerbitan obligasi mencapai Rp 9,55 triliun, rencana realisasi PUB sebanyak Rp 9,09 triliun, sukuk Rp 5,95 triliun, sekuritisasi Rp 3,5 triliun, dan surat berharga komersial Rp 1 triliun.

Head of Economy Research Pefindo Fikri C Permana menjelaskan, pihaknya memprediksi imbal hasil (yield) surat utang negara (SUN) dan surat utang korporasi akan mulai bergerak turun pada kuartal II-2020. Berbagai stimulus yang telah dikeluarkan Bank Indonesia (BI) dan pemerintah melalui Kementrian Keuangan, yang juga dilakukan oleh hampir seluruh bank sentral dunia diharapkan mampu mengurangi risiko di pasar surat utang Indonesia dan global.

“Sikap dovish BI dan hampir semua bank sentral global yang dovish, bahkan beberapa bank sentral telah mengambil kebijakan ultra-loose monetary policy,” jelas Fikri kepada Investor Daily, Minggu (5/4).

Khusus Indonesia, lanjut Fikri, BI telah diperbolehkan untuk berperan serta di pasar primer SUN. Langkah ini diharapkan akan memberikan tambahan likuiditas, kemudahan intervensi, dan meningkatkan kepercayaan pelaku pasar.

Fikri menambahkan, kebijakan intervensi moneter yang dilakukan BI tersebut akan menjadi bentuk quantitative easing versi Indonesia. Selain menghadirkan tambahan likuiditas di pasar keuangan, pengaruhnya juga berdampak pada stabilitas sistem keuangan yang relatif terjaga. “Karena hal ini merupakan bentuk intervensi moneter, dan bukan merupakan bentuk seignorage atau helicopter money, maka kami beranggapan risiko inflasi ataupun anjloknya nilai tukar rupiah dapat dimarjinalkan,” jelas dia.

Namun, intervensi BI tersebut tidak datang tanpa resiko. Menurut Fikri, risiko bisa muncul apabila periode pemulihan lebih panjang dari perkiraan. Hal ini bisa dipicu oleh tingkat tabungan nasional yang masih rendah. Sehingga, strategi intervensi BI hendaknya juga diikuti oleh investor dometik. Di samping itu, terdapat keterbertasan BI dalam melakukan intervensi.

Lebih lanjut, masih ada sejumlah tantangan yang dihadapi pasar surat utang tahun ini. Misalnya, proses penanganan wabah virus Korona (Covid-19) di dalam negeri dan global khususnya mitra perekonomian Indonesia. Selain itu, sentimen harga minyak dunia dan komoditas yang rendah bisa menambah tekanan pada posisi defisit neraca transaksi berjalan dan penerimaan negara. Belum lagi, masih besarnya tekanan terhadap nilai tukar rupiah disertai dengan menguatnya dolar Amerika Serikat (AS) di pasar global.

Secara terpisah, Head of Fixed Income Research PT Mandiri Sekuritas Handy Yunianto mengatakan, dengan adanya volatilitas yang tinggi karena pandemi Covid-19, permintaan terhadap obligasi korporasi sepertinya agak menurun. Namun,permintaan pasar masih tetap ada untuk obligasi dengan peringkat yang bagus dan tenor relatif pendek.

Pihaknya menilai, pasar obligasi dalam negeri bisa lebih marak lagi apabila muncul data stastistik yang menunjukkan jika penanganan Covid-19 dinilai berhasil. Di sisi lain, dari sentimen global ada perbaikan dengan kombinasi stimulus fiskal dan kebijakan moneter yang menurunkan kekhawatiran investor terhadap dampak Covid-19. Hal tersebut tercermin dari volatility index (VIX) yang terus turun.

Sementara itu, dari pasar domestik, lanjut Handy, pergerakan yield surat utang akan sangat dipengaruhi dari perkembangan pembiayaan defisit anggaran yang meningkat dan pergerakan rupiah. “Jika sentimen global terus membaik dan rupiah bisa stabil menguat, ada potensi yield membaik atau turun. Yang penting dicermati juga statistik perkembangan Covid-19, jika angkanya ada perbaikan maka penurunan yield akan lebih sustained,” ujar dia.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN