Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bank Indonesia. Foto: Uthan A Rachim

Bank Indonesia. Foto: Uthan A Rachim

Surplus NPI Dapat Meredam Sentimen Negatif Global

Minggu, 11 Agustus 2019 | 10:30 WIB
Thereis Love Kalla (thereis.kalla@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id -- Bank Indonesia mencatat Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) kuartal II/2019 surplus US$ 0,4 miliar.

Director Research & Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nicodemus menyatakan bahwa surplusnya NPI dapat menjadi bantalan yang bagus bagi saham dan rupiah untuk merespon positif.

Di tengah situasi global yang belum kondusif karena perang dagang Amerika Serikat dan TIongkok, surplusnya NPI bisa menjadi bantalan ekonomi dalam negeri dalam meredam sentimen negatif global.

Adapun kondisi tersebut juga akan direspon positif pasar modal dalam negeri. “Karena sebetulnya apabila faktor fundamental ekonomi kita membaik, tentu semua saham akan menggeliat. Karena memberikan impact yang positif terhadap perekonomian dalam negeri,” ungkap Nico.

Menurut Nico sejauh ini prospek ekonomi di Indonesia memang masih inline. Tetapi kehilangan momentum di kuartal I kemarin. “ Gross Domestic Product (GDP) kita kuartal II seharusnya lebih dari 5.10 malah loyo ke 5.05. Apalagi GDP ini merupakan yang terendah apabila kita bandingkan dengan kuartal pertama atau GDP 2018,” tegas Nico.

Adapun ekspetasi ini bukan tanpa sebab. Menurut Nico seharusnya dengan adanya event lebaran dan pemilu kemarin bisa menjadi momentum untuk pulihnya ekonomi Indonesia.

Sementara itu dalam meredam sentimen negatif perang dagang AS dengan Tiongkok, Nico mengharapkan pemerintah Indonesia dapat menyiapkan negara tujuan ekspor lain, tanpa bergantung terhadap TIongkok.

Pasalnya Presiden AS Donald Trump berencana mengenakan tarif  tambahan untuk setiap ekspor Tiongkok ke AS senilai US$ 300 miliar. Jika kebijakan ini memang benar diterapkan maka Indonesia juga merasakan dampaknya.

“Dampaknya akan terasa karena transaksi perdagangan terbesar kita berada di TIongkok, apabila TIongkok melambat tentu pengiriman eksport kita akan terganggu, maka ekspor kita juga ikut terganggu ke tingkat pertumbuhan dalam negeri,” kata dia.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN