Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Komisaris Utama PT Syailendra Capital Jos Parengkuan (tengah) bersama Direktur Utama Syailendra Fajar Rachman Hidajat  (kedua kanan) dan jajaran manajemen lainnya memperlihatkan Sertifikat Pencatatan perdana reksa dana exchange trade fund (ETF) Syailendra ETF MSCI Indonesia ESG Universal Index di Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (5/5/2020). Foto: Humas BEI

Komisaris Utama PT Syailendra Capital Jos Parengkuan (tengah) bersama Direktur Utama Syailendra Fajar Rachman Hidajat (kedua kanan) dan jajaran manajemen lainnya memperlihatkan Sertifikat Pencatatan perdana reksa dana exchange trade fund (ETF) Syailendra ETF MSCI Indonesia ESG Universal Index di Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (5/5/2020). Foto: Humas BEI

Syailendra Capital Incar Pertumbuhan Dana Kelolaan 5%-10%

Rabu, 14 April 2021 | 08:11 WIB
Lona Olavia

JAKARTA, investor.id - PT Syailendra Capital memprediksi, tahun ini pertumbuhan industri reksa dana akan kembali mulai normal dan berada di kisaran 5%-10%. Di mana, jenis reksa dana yang berpotensi tumbuh paling optimal adalah reksa dana saham, reksa dana indeks, reksa dana pendapatan tetap, lalu reksa dana pasar uang.

Presiden Direktur Syailendra Capital Fajar R Hidayat mengatakan, keadaan ekonomi yang mulai pulih seiring program vaksinasi yang terus berjalan, diharapkan dapat menjinakkan pandemi.

Menangkap potensi tersebut, Syailendra Capital menyiapkan beberapa produk baru reksa dana berbasis ritel di tahun ini.

"Produk ini dibentuk untuk menangkap peluang pertumbuhan investor ritel yang cukup pesat belakangan ini," ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (14/4).

Untuk reksa dana indeks, perusahaan ini juga menyiapkan beberapa produk reksa dana indeks. Fajar menambahkan, saat ini pasar reksa dana indeks masih punya ruang yang sangat besar untuk terus tumbuh. Apalagi, reksa dana indeks menawarkan transparansi yang akan memudahkan investor.

Dengan berbagai produk reksa dana baru yang sudah disiapkan ini, Fajar optimistis Syailendra bisa mencatatkan pertumbuhan dana kelolaan (asset under management/AUM) sebesar 5%-10% dibandingkan tahun lalu.

Pada akhir tahun lalu, dana kelolaan Syailendra mencapai Rp 23,43 triliun. Sementara per akhir Februari 2021, dana kelolaan Syailendra tumbuh 4,35% menjadi Rp 24,45 triliun.

"Jumlah tersebut tidak termasuk Reksa Dana Penyertaan Terbatas (RDPT) dan Kontrak Pengelolaan Dana (KPD), yang merupakan urutan ke-9 (MS7) di industri aset manajemen Indonesia. Jika termasuk semua jenis reksa dana, total dana kelolaan Syailendra adalah sebesar Rp 26,14 triliun," sebut Fajar.

Lebih lanjut untuk mencapai target AUM, Syailendra juga terus memperluas channel distribusi. Terdiri dari direct channel yakni Syailendra Retail & Institutional Sales Representative. Lalu di semester II pembelian secara online melalui aplikasi Syailendra, sambungnya juga bisa dilakukan.

"Ada juga indirect channel melalui bank, sekuritas, financial technologi dan market place seperti Tokopedia," imbuhnya.

Syailendra Capital sendiri merupakan salah satu pemain besar di industri reksadana. Dari total dana kelolaan, Syailendra masuk 10 besar di industri reksadana. Saat ini Syailendra menguasai 4,15% pangsa pasar dari seluruh dana kelolaan industri manajer investasi

Sementara itu, Fajar juga melihat potensi upside Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih cukup besar. Syailendra memperkirakan pada akhir tahun IHSG akan berada di level 6.900.

Bahkan, Fajar menyebut IHSG pada level tertingginya bisa saja bergerak ke level 7.000 - 7.200. Dia memproyeksikan level ini justru akan terjadi pada kuartal III-2021. Sebelum akhirnya perlahan terkoreksi dan bergerak ke arah 6.900 pada akhir tahun.

Menurutnya, pada kuartal III-2021, pergerakan pasar saham juga akan mengalami perubahan. Sejauh ini pasar saham masih digerakan oleh sentimen maupun berita saja. Sehingga, ketika ada sentimen positif, maka pasar akan menguat, begitu pun sebaliknya.

Namun, memasuki semester II-2021, pasar lebih akan didorong oleh fundamental saham-saham. “Kinerja emiten sebenarnya sejauh ini belum bisa dinilai, karena laporan keuangan full year 2020 ataupun kuartal I-2021 masih sangat dipengaruhi pandemi dan masa transisi. Tapi, untuk laporan keuangan kuartal II-2021, baru terlihat hasil dari konsistensi strategi masing-masing perusahaan dalam menyiasati dampak pandemi,” jelas Fajar.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN