Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pegawai memantau pergerakan surat utang negara (SUN) di Treasury Room OCBC NISP, Jakarta.  Foto ilustrasi: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

Pegawai memantau pergerakan surat utang negara (SUN) di Treasury Room OCBC NISP, Jakarta. Foto ilustrasi: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

Tahun Depan, SUN Tetap Jadi Instrumen Investasi Menarik

Senin, 28 Desember 2020 | 04:32 WIB
Ghafur Fadillah

JAKARTA, investor.id - Tahun depan Surat Utang Negara (SUN) diperkirakan mencatatkan kinerja yang lebih baik, sejalan dengan membaiknya perekonomian pasca vaksinasi. pergerakan harga SUN pada awal tahun diperkirakan menguat di bawah 6%.

Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Indonesia, Ramdhan Ario Maruto menjelaskan, pada awal tahun minat para investor pada SUN diperkirakan terpengaruhi oleh January Effect karena di awal tahun para investor biasanya akan menata ulang portofolio investasi mereka. Hal ini menurut dia berpotensi meningkatkan peluang investor asing untuk masuk kembali.

“Minat investor juga bergantung pada besarnya efektivitas vaksinasi yang akan digelar dalam waktu dekat yang dapat mempercepat pemulihan ekonomi,” jelasnya saat dihubungi oleh Investor Daily, Minggu (27/12).

Menurut Ramdhan, investor asing diperkirakan dapat kembali bertumbuh bahkan dapat menyamai capaian tahun 2019 lalu. Hal ini juga didukung dengan tren suku bunga yang rendah di pasar global, Indonesia juga dikenal dengan pemberi yield yang tinggi dibanding negara lainya seperti Filipina, India, Thailand, dan Malaysia.

“Pada hitungan kami, dana asing yang masuk pada tahun ini masih di bawah Rp 1000 triliun, padahal biasanya dapat mencapai Rp 10030 triliun sehingga masih ada ruang untuk bertumbuh,” ujarnya.

Sepanjang tahun 2020, dia melanjutkan kinerja IHSG sejatinya menunjukkan kinerja yang positif pada awal tahun. Meski sempat melemah akibat pandemi, namun SUN dapat kembali pulih dengan permintaan investor domestik yang tinggi dan likuiditas perbankan yang baik.

“Pada saat pembukaan pertama, SBN  tetap menjadi salah satu instrumen investasi yang menarik bagi pasar, karena cukup secure lantaran dijamin pemerintah dan punya record yang baik di pasar,” kata dia.

Pada kesempatan yang terpisah, Head of Economics Research Pefindo Fikri C Permana mengatakan, pada awal tahun mendatang SUN diperkirakan menguat dan bergerak di kisaran 6,1% sampai 6,2%, lantaran Indonesia memiliki fundamental yang baik.

“Dibentuknya Sovereign Wealth Fund (SWF) juga berpotensi meningkatkan likuiditas di pasar, hal ini juga dapat menjadi daya tarik investor asing,” jelas dia.

Terlebih, dengan masuknya Indonesia dalam Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP), seharusnya aliran modal dapat lebih besar seiring dengan jumlah masyarakat yang besar dan risiko fiskal yang kecil berpotensi meningkatkan likuiditas dalam negeri. Sedangkan dari segi investor, investor domestik diperkirakan mendominasi diikuti oleh asing.

Adapun Fikri menyebutkan beberapa sentimen yang dapat jadi pengaruh bagi pergerakan harga SUN selain vaksinasi yakni indeks USD yang diperkirakan menurun karena stimulus Amerika Serikat (AS) yang baru disetujui belum lama ini sebanyak US$ 900 miliar. Stimulus ini mendorong penurunan nilai tukar rupiah.

“Stimulus ini dapat mendorong inflasi di AS secara jangka panjang, sehingga yield US treasury jangka panjang meningkat sedikit dan bisa dimanfaatkan dengan investor-investor  yang mulai mencari yield yang lebih besar akan diberikan oleh negara emerging market seperti Indonesia,” paparnya.

Maximilianus Nico Demus. Foto: IST
Maximilianus Nico Demus. Foto: IST

Sementara itu, Direktur Asosiasi Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Maximilianus Nico Demus menyebutkan, Tahun ini pasar obligasi memberikan sesuatu yang menarik. Kehadiran pandemi justru mendorong harga obligasi tahun ini mengalami kenaikan yang menurunkan imbal hasil akibat pelonggaran kebijakan moneter secara besar-besaran, semisal pemangkasan suku bunga.

“Hal tersebut justru menjadi berkah bagi harga obligasi setelah sebelumnya mengalami fase penurunan harga setelah ditinggal pergi oleh investor asing.

Namun, harga pasar nantinya dapat distabilkan dan diserap oleh Bank Indonesia. Selain itu, defisit APBN pun dapat dijaga dengan baik dengan skema Burden Sharing, sehingga meskipun supply bertambah banyak, kupon akan tetap dijaga untuk tetap rendah.

Sejauh ini, Nico menjelaskan harga obligasi terus menunjukan kenaikan imbal hasil selama 10 tahun berpotensi melaju hingga di bawah 6%. Dengan terus menerus turunnya imbal hasil obligasi dapat mendorong penerbitan obligasi korporasi kedepannya.

“Tahun depan merupakan tahun pemulihan yang akan mendorong pasar obligasi untuk kembali marak dengan adanya potensi restrukturisasi dan ekspansi dari para emiten,” pungkasnya.

Pekan depan pasar obligasi diproyeksikan menurun secara imbal hasil dengan rentang 5,15% hingga 5,30% dengan jangka waktu 5 tahun, 10 tahun pada kisaran 6,00-6,10%, 15 tahun 6,35-6,10% dan 20 tahun 6,40%-6,50%.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN