Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
PT Austindo Nusantara Jaya Tbk. Foto: Perseroan.

PT Austindo Nusantara Jaya Tbk. Foto: Perseroan.

Tahun Ini, ANJ Siap Ekspansi Rp 590 Miliar

Kamis, 14 Januari 2021 | 23:19 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – PT Austindo Nusantara Jaya Tbk (ANJT) atau ANJ mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar US$ 42 juta atau setara Rp 590 miliar tahun ini. Belanja modal tersebut akan digunakan untuk membiayai sejumlah ekspansi usaha.

Chief Financial Officer (CFO) ANJ Lucas Kurniawan mengatakan, dari total belanja modal tersebut, sebesar US$ 17 juta atau 39% dialokasikan untuk peremajaan kembali dan pemeliharaan tanaman sawit yang belum menghasilkan. Kemudian, perseroan akan menggunakan 4% dari total anggaran atau sebesar US$ 1,6 juta untuk penyelesaian penambahan kapasitas pabrik kelapa sawit di Kalimantan Barat dari 45 ton per jam menjadi 90 ton per jam.

Selanjutnya, sekitar 3% dari anggaran atau sebesar US$ 1,4 juta akan digunakan untuk penyelesaian fasilitas pengolahan sayuran beku di Jawa Timur. "Sisa lainnya atau sebesar US$ 6 juta akan dipakai untuk pengembangan infrastruktur dan fasilitas pengolahan sagu untuk peningkatan produktivitas," kata dia kepada Investor Daily, Kamis (14/1).

Dengan adanya belanja modal itu, perseroan berencana mengembangkan bisnis sayuran beku dan sagu pada tahun ini. Pasar ekspor menjadi tujuan perseroan dalam mengembangkan bisnis ini.

Menurut Lucas, ANJ adalah perusahaan yang fokus pada bisnis bahan makanan. Dengan demikian, perseroan mengembangkan bahan makanan seperti sagu yang bisa dijadikan sebagai alternatif pangan. "Sagu alami banyak tersedia di wilayah Indonesia Timur. Pohon sagu akan mati dan terbuang percuma apabila tidak diekstrasi sagunya, sehingga kami mulai mengekstraksi sagu untuk dijadikan sebagai bahan pangan," jelas dia.

Untuk pemasaran sagu, sejauh ini perseroan masih memfokuskan pada pasar domestik. Namun, perseroan sudah mulai melakukan uji coba pengiriman ke Jepang, sehingga pada 2021 diharapkan bisa mulai melakukan ekspor ke negara sakura tersebut.

Selain mengembangkan bisnis sagu, perseroan juga mulai mengembangkan bisnis sayuran beku. Sejauh ini, sayuran beku yang sudah dikembangkan adalah edamame dengan pengiriman ekspor pertama ke Laos pada 2020. Selanjutnya, perseroan akan mengembangkan okra dengan juga menyasar pasar ekspor. "Jepang dan Tiongkok menjadi sasaran ekspor kami," papar Lucas.

Meski mengembangkan bisnis lain, namun bisnis minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) tetap menjadi andalan perseroan. Bahkan, perseroan terbuka untuk melakukan akuisisi lahan untuk pengembangan CPO serta pengembangan refinery. "Untuk refinery sedang kami kaji mendalam dan akan dilakukan dalam bentuk strategic alignment dan bentuk lainnya," tutur dia.

Mengenai harga CPO tahun ini diperkirakan akan mencapai angka rata-rata US$ 842 per metrik ton (MT). Bahkan, pada awal Januari 2021, harga sempat menyentuh US$ 1.000 per MT. Penguatan harga CPO ini, menurut Lucas, terjadi karena adanya masalah produksi di Malaysia dan masalah yang sama di Amerika Utara untuk produk kompetitornya, yakni kedelai.

"Penguatan harga diperkirakan akan berlanjut hingga 2022 karena tidak ada penambahan perkebunan baru, aturan sustainability yang ketat, pengembangan biodiesel serta pemulihan ekonomi akibat Covid-19," kata dia.

Sementara itu, tahun lalu, ANJ mengalokasikan belanja modal sebesar US$ 60,2 juta. Menurut Lucas, tingginya alokasi belanja modal tahun lalu karena perseroan melakukan dua proyek sekaligus, yaitu penyelesaian pabrik kelapa sawit di Papua Barat dan dimulainya proyek peningkatan kapasitas pabrik di Kalimantan Barat.

Hingga kuartal III-2020, ANJ membukukan laba bersih sebesar US$ 1,4 juta, membaik dibandingkan periode sama tahun 2019 yang mencatat rugi bersih US$ 5,9 juta. Peningkatan kinerja tersebut ditopang oleh kenaikan rata-rata harga jual CPO dan penjualan lainnya.

Adapun pendapatan perseroan hingga kuartal III-2020 naik 28,6% menjadi US$ 118,4 juta dibandingkan periode sama tahun 2019 yang senilai US$ 92,07 juta. Segmen kelapa sawit berkontribusi sebesar 98,6% atau sebesar US$ 116,7 juta dari total pendapatan.

Peningkatan juga didukung pertumbuhan penjualan segmen sagu sebesar 34,86% menjadi US$ 935,8 ribu dari US$ 693,9 ribu. Kontribusi lainnya disumbang oleh segmen energi terbarukan sebesar US$ 418,8 ribu, meningkat 17,08% dari US$ 357,7 ribu. "Pertumbuhan pendapatan juga ditopang pertumbuhan penjualan segmen edamame senilai US$ 342,7 ribu, naik 84,44% dari US$ 185,8 ribu," ungkap manajemen perseroan.

Kemudian, perseroan mencatat beban usaha sebesar US$ 16,6 juta, naik 92,6% dari US$ 8,6 juta. Kenaikan ini dipicu atas peningkatan beban penjualan sebagai dampak dari pajak ekspor CPO yang diberlakukan oleh Pemerintah Indonesia saat harga CPO mencapai US$ 750 per MT, serta kenaikan pungutan ekspor CPO dari US$ 25 per MT menjadi US$ 55 per MT yang sejalan dengan kenaikan harga jual CPO. Selain itu, beban keuangan perseroan yang merupakan beban bunga atas pinjaman naik 52,94% menjadi US$ 2,6 juta dari US$ 1,7 juta.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN