Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Salah satu lokasi tambang Adaro Energy

Salah satu lokasi tambang Adaro Energy

Tahun yang Menguntungkan bagi Adaro

Kamis, 25 Februari 2021 | 04:29 WIB
Parluhutan Situmorang

JAKARTA, investor.id - Pemulihan ekonomi yang diharapkan berdampak pada peningkatan permintaan batu bara akan menguntungkan PT Adaro Energy Tbk (ADRO) tahun ini. Perseroan juga diyakini mampu menekan biaya penambangan.

Analis BRI Danareksa Sekuritas Stefanus Darmagiri mengungkapkan, Adaro menargetkan volume produksi batu bara tahun ini sekitar 52-54 juta ton, EBITDA operasional berkisar US$ 750-900 juta, dan stripping ratio 4,8 kali.

Target volume produksi tersebut sama dengan target tahun lalu yang sekitar 52-54 juta ton. Namun, di bawah realisasi tahun 2020 yang sebanyak 54,5 juta ton.

“Pencapaian produksi batu bara perseroan tahun lalu merefleksikan peningkatan 6% dengan stripping ratio lebih rendah menjadi 3,8 kali. Realisasi tersebut telah melampaui target awal perseroan sekitar 52-54 juta ton dan target kami yang sekitar 53 juta ton,” tulis Stefanus dalam risetnya.

Salah satu proyek pertambangan Adaro. Foto: DEFRIZAL
Salah satu proyek pertambangan Adaro. Foto: DEFRIZAL

Meskipun target produksi tahun ini di bawah realisasi tahun lalu, rata-rata harga jual batu bara yang diprediksi mencapai US$ 70 per ton, stripping ratio sebesar 4,8 kali, dan permintaan batu bara global yang diperkirakan meningkat bakal berdampak positif terhadap kinerja keuangan Adaro tahun ini.

“Kami memperkirakan pemulihan ekonomi global akan menjadi dorongan baru terhadap peningkatan permintaan batu bara dan harga jual komoditas ini. Hal itu mendorong kami untuk merevisi naik target harga saham ADRO dari Rp 1.300 menjadi Rp 1.800 dengan rekomendasi beli,” jelas Stefanus.

Target harga tersebut juga mencerminkan proyeksi kenaikan laba bersih Adaro tahun ini menjadi US$ 378 juta dibandingkan estimasi tahun lalu senilai US$ 246 juta. Pendapatan perseroan juga diharapkan meningkat menjadi US$ 2,92 miliar dibandingkan perkiraan tahun 2020 yang senilai US$ 2,54 miliar.

Sementara itu, analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Andy Wibowo Gunawan mengungkapkan, Adaro Energy merupakan perusahaan pertambangan batu bara dengan cadangan terbesar.

“Cadangan yang besar ini akan menjadi keunggulan kompetitif bagi perseroan dalam jangka panjang,” tulis dia dalam risetnya.

Harga saham ADRO satu dekade terakhir, prospek ADRO, dan kinerja keuangan ADRO
Harga saham ADRO satu dekade terakhir, prospek ADRO, dan kinerja keuangan ADRO

Dengan mengasumsikan produksi batu bara perseroan yang mencapai 52 juta ton per tahun, jangka waktu penambangan (life time) tambang perseroan lebih dari 20 tahun.

Adaro juga memiliki mesin pertumbuhan ke depan, yaitu tambang batu bara Kestrel di Australia. Hal itu menjadi nilai tambah bagi perseroan. Andy memprediksi harga jual batu bara pada kisaran US$ 70 per ton pada 2021 dan diharapkan meningkat menjadi US$ 75 per ton pada 2022.

Namun, tren kenaikan harga jual tersebut tidak diimbangi dengan produksi yang stabil. Hal itu membuat estimasi kinerja keuangan Adaro Energy pada 2021 dan 2022 lebih rendah dari perkiraan semula. Volume produksi batu bara perseroan tahun 2021 direvisiturun dari 54 juta ton menjadi 52 juta ton. Sedangkan harga jual diperkirakan bertahan pada level US$ 70 per ton.

Dengan asumsi tersebut, perkiraan pendapatan perseroan tahun 2021 diturunkan dari US$ 2,68 miliar menjadi US$ 2,54 miliar. Estimasi laba bersih juga dipangkas dari US$ 338 juta menjadi US$ 323 juta.

Andy juga memangkas target kinerja keuangan Adaro Energy tahun 2022, seiring dengan penurunan asumsi produksi batu bara perseroan dari 56 juta ton menjadi 52 juta ton dengan perkiraan harga jual US$ 75 per ton. Hal ini membuat perkiraan pendapatan perseroan tahun 2022 direvisi turun dari US$ 3,09 miliar menjadi US$ 2,93 miliar.

Sebaliknya, perkiraan laba bersih direvisi naik dari US$ 348 juta menjadi US$ 362 juta. Berbagai faktor tersebut mendorong Mirae Asset Sekuritas menaikkan rekomen dasi saham ADRO menjadi beli dengan target harga Rp 1.765. Katalis jangka pendek penguatan harga ADRO berasal dari kenaikan harga jual batu bara global.

Belanja Modal

PT Adaro Energy Tbk (ADRO). Foto: Perseroan.
PT Adaro Energy Tbk (ADRO). Foto: Perseroan.

Adaro Energy akan menggunakan belanja modal (capital expenditure/capex) tahun ini secara hati-hati. Hal ini sebagai antisipasi atas ketidakpastian ekonomi.

Adapun total capex tahun ini sebesar US$ 200-300 juta. Sekretaris Perusahaan Adaro Energy Mahardika Putranto mengatakan, perseroan akan menggunakan capex untuk membiayai pemeliharaan rutin dan pengembangan perusahaan. Penggunaan belanja modal tersebut akan dilaksanakan secara disiplin dengan memperhatikan perkembangan industri batu bara.

“Walaupun pemulihan ekonomi diperkirakan berdampak positif terhadap bisnis batu bara, perusahaan harus tetap berhati-hati dalam membelanjakan modal untuk mengantisipasi ketidakpastian,” jelas Mahardika dalam laporan aktivitas kuartalan perseroan.

Dengan adanya belanja modal tersebut, perseroan berharap dapat merealisasikan earning before taxes, depreciation, and amortization (EBITDA) berkisar US$ 750-900 juta tahun ini.

Produksi batu bara ditargetkan sebanyak 52-54 juta ton. Target produksi ini relative sama dengan pencapaian tahun lalu.

Adaro Energy juga menargetkan nisbah kupas pada 2021 sebesar 4,8 kali atau lebih tinggi dari pencapaian tahun 2020. Target ini mengikuti sekuens penambangan dan perusahaan harus mengupas lapisan penutup dengan volume yang lebih besar.

Tahun 2020, Adaro Energy mencatat total produksi batu bara sebanyak 54,53 juta ton atau turun 6% dari realisasi tahun 2019. Volume penjualan batu bara perseroan juga turun 9% menjadi 54,14 juta ton dibandingkan tahun 2019. Total pengupasan lapisan penutup pada 2020 mencapai 209,48 million bank cubic meter (Mbcm) atau turun 23% dari 2019.

“Penurunan ini sejalan dengan panduan perusahaan untuk menurunkan nisbah kupas pada tahun tersebut,” ungkap Mahardika.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN