Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Seorang investor memantau pergerakan saham melalui monitor di BEI, Jakarta. Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita Roza.

Seorang investor memantau pergerakan saham melalui monitor di BEI, Jakarta. Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita Roza.

Tanda-tanda Fenomena Namamology yang Perlu Diwaspadai Pemodal Saham

Minggu, 10 Januari 2021 | 17:29 WIB
Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Saat ini, banyak investor maupun trader pemula yang tertarik masuk ke pasar saham dengan alasan ingin menikmati keuntungan besar dan cepat. Tak sedikit yang menganggapnya sebagai main saham, bukan bisnis saham.

Perspektif main saham tersebut kerap dimanfaatkan oleh pihak tertentu, kemudian terbentuk opini bahwa fenomena Namamology mesti diikuti karena seakan-akan sukses menghasilkan keuntungan besar.

Terlebih, pertumbuhan jumlah investor kini tergolong pesat. Hingga 29 Desember 2020, jumlah investor di pasar modal mencapai 3,87 juta, meningkat 56% dari posisi akhir 2019. Dari jumlah tersebut, investor saham naik 53% menjadi 1,68 juta.

Setidaknya ada lima tanda dari fenomena Namamology ini yang perlu diwaspadai oleh para investor maupun trader, terutama mereka yang masih pemula.

Pertama, influencer berulang kali memamerkan keuntungan besar dalam waktu singkat. Padahal, saham adalah instrumen berisiko tinggi dan cenderung bersifat jangka panjang. Pergerakan naik turun harga saham tergolong cepat.

Kedua, tidak dijelaskannya margin of safety atau selisih antara nilai intrinsik suatu saham dengan harga jual saat ini. Sering kali informasi hanya berupa potensi profit besar, namun tidak masuk akal dicapai dalam waktu singkat, karena pasti ada suspensi maupun peringatan berupa UMA (unusual market activity).

Ketiga, menciptakan FOMO (fear of missing out) atau rasa takut dan cemas akan ketinggalan berita atau hal-hal terbaru yang terjadi. Informasi rekomendasi beli saham diumumkan di media sosial dengan jumlah pengikut besar agar tercipta FOMO.

Keempat, menarik jumlah anggota trader dan investor saham pemula melalui endorse di media sosial. Tak jarang, kolaborasi dibutuhkan agar paparan informasi lebih mudah tersampaikan. Sebab sekecil apapun volume akan bermanfaat bagi mereka untuk dump saham tersebut.

Kelima, memiliki wadah grup khusus komunikasi dua arah yang digunakan untuk mengkoordinasikan anggota untuk membeli (perhatikan komposisi pembelajaran dan percakapan di grup tersebut). Ada grup berbayar dan gratis, namun bisa dipastikan bahwa grup gratis tidak mendapat informasi secepat dan seakurat dari grup berbayar.

“Kami melihat permasalahan ini sebelum terbentuknya start-up platform Emiten.com, dimana tidak semua orang dapat mengakses grup berbayar yang nilainya fantastis. Setelah bayar pun mereka masih kemungkinan dijadikan sasaran dump, apalagi yang tidak bayar,” kata Denny Huang, CEO & Founder Emiten.com, dalam keterangan tertulis, Minggu (10/1).

Dia menegaskan, para pemodal perlu waspada bila terdapat grup gratis dan grup berbayar. Kalaupun ada edukasinya, para pemodal terutama pemula berisiko terkotak-kotakkan dengan satu aliran trading investing tertentu,” tutur Denny.

Lebih lanjut dia mengatakan, banyak sekali faktor yang perlu diperhatikan dalam hal jual beli saham, terlepas itu day trading ataupun investing. Semisal faktor valuasi, mulai dari PBV, PER, PCFR, PSR, DER, EPS, NPM, perpajakan, sentimen induk atau afiliasi, hingga aksi korporasi seperti rights issue.

Selain itu, perlu diperhatikan juga tren bisnis 1-2 tahun ke depan, GCG grup perusahaan tersebut, termasuk sentimen data ekonomi dari dalam maupun luar negeri, seperti rapat The Fed, OPEC, hingga laporan dari BPS. Tak ketinggalan, analisis teknikal guna menentukan waktu yang tepat untuk buy, sell, atau hold suatu saham.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN