Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA). Foto: IST

PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA). Foto: IST

Tanda-tanda Kebangkitan Surya Internusa

Selasa, 24 November 2020 | 04:28 WIB
Parluhutan Situmorang

JAKARTA, investor.id - PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) diperkirakan pulih secara penuh mulai tahun depan dengan estimasi lonjakan laba bersih. Ekspektasi perbaikan kinerja keuangan didukung oleh pembukaan kawasan industri Subang dan peningkatan permintaan lahan industri setelah pemberlakuan Omnibus Law UU Cipta Kerja.

Analis BRI Danareksa Sekuritas Victor Stefano mengungkapkan, Surya Semesta Internusa menunjukkan tren positif pada kuartal terakhir tahun ini, yang ditopang oleh penjualan lahan seluas 100 hektare (ha).

Penjualan lahan tersebut akan dibukukan sebagai pendapatan perseroan sebesar Rp 325 miliar pada kuartal IV tahun ini.

“Dengan margin kotor penjualan lahan mencapai 70%, kami memperkirakan Surya Semesta Internusa akan mencatatkan keuntungan bersih pada kuartal terakhir tahun ini dibandingkan kuartal III-2020 yang mencatat rugi bersih,” tulis Victor dalam risetnya.

Namun, menurut dia, perseroan tetap diproyeksikan membukukan rugi bersih sekitar Rp 67 miliar tahun ini dibandingkan perkiraan semula yang hanya Rp 1 miliar. Rugi bersih tersebut merefleksikan lambannya pemulihan bisnis hotel dari proyeksi awal. Meski demikian, BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli saham SSIA dengan target harga Rp 600.

Target tersebut telah mempertimbangkan pembukaan kawasan industri Subang dan UU Cipta Kerja yang diharapkan menjadi katalisutama penguatan bisnis perseroan.

Tahun depan, Surya Internusa diperkirakan mencetak laba bersih Rp 188 miliar, jauh lebih baik dibandingkan tahun ini yang diproyeksi mencatat rugi bersih Rp 67 miliar. Sedangkan pada 2019, perseroan berhasil memperoleh laba bersih Rp 92 miliar.

Adapun pendapatan perseroan tahun ini diperkirakan turun menjadi Rp 3,33 triliun. Tahun depan diharapkan meningkat menjadi Rp 4,38 triliun. Pada 2019, perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp 4 triliun.

Mengenai kinerja keuangan Surya Internusa hingga kuartal III-2020, Victor menegaskan bahwa realisasinya di bawah ekspektasi. Perseroan membukukan rugi bersih Rp 225 miliar, padahal ekspektasinya rugi bersih Rp 1 miliar.

Sedangkan konsensus analis adalah laba bersih Rp 31 miliar. Meskipun masih rugi besar, perseroan telah menunjukkan tanda-tanda pemulihan bisnis pada kuartal III-2020.

Akuisisi dan Ekspansi

Surya Internusa Tbk (SSIA) group melalui anak usahanya  PT TCP Internusa (TCP) membangun klaster hunian mewah Edenhaus Simatupang, di dalam Komplek Permahan Tanjung Mas Raya, di Jl TB  Simatupang, Jakarta Selatan.
Surya Internusa Tbk (SSIA) group melalui anak usahanya PT TCP Internusa (TCP) membangun klaster hunian mewah Edenhaus Simatupang, di dalam Komplek Permahan Tanjung Mas Raya, di Jl TB Simatupang, Jakarta Selatan.

Tahun depan, Surya Internusa akan mengalokasikan belanja modal (capital expendi ture/capex) sebesar Rp 750 miliar. Capex tersebut akan digunakan untuk mengakuisisi lahan dan mengembangkan properti industrial.

Presiden Direktur Surya Semesta Internusa Johannes Suriadjaja mengatakan, pihaknya akan menggunakan fasilitas pembiayaan dari International Finance Corporation (IFC) sebesar US$ 50 juta.

“Kami akan mulai drawdown fasilitas pembiayaan tahun ini. Sisa capex akan dibiayai kas internal,” kata dia dalam acara webinar Samuel Sekuritas, baru-baru ini.

Tahun depan, Johannes lebih optimistis terhadap bisnis perusahaan. Dari segi marketing sales, perseroan menargetkan bisa menjual lahan seluas 60 ha. Marketing sales ini berasal dari penjualan lahan di Karawang seluas 20 ha dan lahan di Subang seluas 40 ha.

Penjualan lahan di Subang terkait pengembangan kawasan Subang Smartpolitan. Sejauh ini, menurut Johannes, sudah ada beberapa calon pembeli yang menyatakan minatnya untuk menghuni kawasan industri tersebut. Salah satunya adalah pelaku industri supply chain dari Tiongkok.

“Sehubungan dengan perang dagang antara Tiongkok dan AS, Tiongkok mulai mengembangkan industrinya di luar negaranya, termasuk di Indonesia,” jelas dia.

Kemudian, Surya Internusa juga membidik pelaku sektor industri otomotif untuk menghuni kawasan tersebut. Sektor industri lain yang dibidik adalah_green technology, manufaktur, FMCG, farmasi, kimia dan bioteknologi. Pelaku usaha tersebut datang dari berbagai negara seperti Korea Selatan, Tiongkok, Taiwan dan Jepang.

Subang Smartpolitan

PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA). Foto: Perseroan.
PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA). Foto: Perseroan.

Adapun untuk pengembangan kawasan Subang Smartpolitan, pihaknya menargetkan fase pertama bisa selesai dibangun pada 2023. Penyelesaian pembangunan ini bersamaan dengan penyelesaian pembangunan jalan tol Patimban yang akan menjadi infrastruktur penunjang kota tersebut.

Dalam pembangunan jalan tol ini, anak usaha perseroan, yakni PT Nusa Raya Cipta Tbk (NRCA), akan ikut terlibat. Total investasi untuk pembangunan jalan tol tersebut mencapai Rp 6 triliun.

Johannes berharap kawasan Subang Smartpolitan bisa menopang pertumbuhan bisnis perusahaan hingga 2-3 tahun ke depan. Pasalnya, perusahaan menargetkan margin yang cukup agresif dari penjualan lahan di sana, yakni sekitar 60% dengan harga jual lahan sekitar US$ 100 per meter persegi.

Sementara itu, untuk bisnis tahun ini, perusahaan mengaku merasakan efek dari pandemi Covid-19. Hal ini tercermin dari pendapatan perusahaan yang menurun 23,3% hingga kuartal III-2020 menjadi Rp 2,12 triliun dibandingkan periode sama tahun lalu Rp 2,76 triliun.

Penurunan pendapatan terjadi hampir semua segmen bisnis, terutama segmen hospitality. Hingga kuartal III- 2020, pendapatan dari segmen hospitality menurun 70,6% menjadi Rp 178 miliar.

“Penurunan pendapatan pada segmen ini disebabkan penutupan hotel di Jakarta dan Bali, meskipun ada yang dibuka, tapi perkembangannya slow down,” ujar dia.

Penurunan juga terjadi pada segmen konstruksi sebesar 12,5% menjadi Rp 1,67 triliun. Sedangkan segmen property justru meningkat 8% menjadi Rp 279 miliar.

Johannes mengungkapkan, di segmen properti, perusahaan mengandalkan properti industrial. Namun, perkembangannya sedikit terhambat karena ada beberapa pembeli potensial yang menunda pembelian lahannya.

Potential inquiries datang dari Eropa dan Tiongkok, namun tertunda karena mereka tidak bisa visit selama pandemi Covid-19,” ujar dia.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN