Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pabrik PT Malindo Feedmill Tbk. Foto: Perseroan.

Pabrik PT Malindo Feedmill Tbk. Foto: Perseroan.

Tantangan Tersulit Malindo Feedmill Segera Terlewati

Kamis, 1 Oktober 2020 | 04:31 WIB
Parluhutan Situmorang

JAKARTA, investor.id - Keputusan pemerintah untuk melanjutkan program pemusnahan dini induk ayam (culling) dan kecenderungan membaiknya permintaan pasar bakal menjadi sentimen positif terhadap kinerja keuangan PT Malindo Feedmill Tbk (MAIN) hingga akhir tahun ini. Perseroan juga bakal diuntungkan oleh ekspansi pasar ekspor makanan olahan.

Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Emma A. Fauni mengungkapkan, harga jual ayam pedaging mulai meningkat pada Agustus 2020 setelah dua bulan sebelumnya turun signifikan. Kenaikan harga jual tersebut ditopang oleh keputusan pemerintah untuk melanjutkan program culling kelima dan keenam tahun ini atau pemusnahan induk ayam untuk menciptakan ekuilibrium harga jual daging ayam.

“Namun, kebijakan pemerintah untuk mengharuskan penyerapan ayam dari peternak oleh perusahaan unggas besar bisa menjadi sentimen negatif terhadap emiten peternakan,” tulis Emma dalam riset terbaru. Berdasarkan data di lapangan bahwa rata-rata harga jual ayam pedaging di Pulau Jawa turun 18,6% menjadi Rp 13.500 per kilogram pada Agustus 2020, dibandingkan periode sama bulan sebelumnya.

Penurunan dipengaruhi oleh melimpahnya pasokan ayam di pasaran. Begitu juga dengan harga jual anak ayam usia sehari (DOC) yang turun 36% menjadi Rp 2.900 per ekor pada Agustus 2020.

Peternak ayam memilih ayam yang akan dipotong di sebuah peternakan di Babakan Pocis, Tangerang Selatan, Selasa (15/9/2020). Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal
Peternak ayam di sebuah peternakan di Babakan Pocis, Tangerang Selatan.. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Namun, memasuki bulan September, rata-rata harga jual daging ayam menunjukkan peningkatan menjadi Rp 13.900 per kilogram atau naik 3,2% dari bulan sebelumnya. Peningkatan sejalan dengan upaya peternak untuk memangkas produksi akibat penurunan permintaan pasar dan rendahnya penyerapan dalam dua bulan terakhir.

“Kami melihat bahwa hanya sedikit peluang kembali menurunannya harga jual daging ayam ke depan, apalagi setelah pemerintah melakukan intervensi untuk mendongkrak harga jual. Sedangkan harga jual DOC diperkirakan tetap rendah mencapai Rp 3.000 per ekor,” ungkap dia.

Dengan adanya kebijakan pemerintah untuk program culling dan pemangkasan produksi, harga jual daging ayam diharapkan cenderung meningkat pada Oktober sampai beberapa bulan mendatang.

Berbagai faktor tersebut mendorong Mirae Asset Sekuritas Indonesia mempertahankan rekomendasi netral saham perusahaan peternakan dan pakan ternak, dengan pilihan teratas saham CPIN dan MAIN.

Saham direkomendasikan hold dengan target harga Rp 550. Target harga tersebut menggambarkan perkiraan rasio P/E tahun  2020 sekitar 19,6 kali dan tahun 2021 sebesar 11,2 kali.

Pabrik perusahaan pakan ternak PT Malindo Feedmill Tbk
Pabrik perusahaan pakan ternak PT Malindo Feedmill Tbk

Sementara itu, analis Samuel Sekuritas Indonesia Nashrullah Putra memperkirakan, laba bersih Malindo Feedmill pada kuartal III-2020 bakal membaik, seiring berlanjutnya program culling. Peningkatan laba juga akan terdorong oleh peningkatan permintaan setelah beroperasinya sektor hotel, restoran, dan kafe.

“Hal tersebut berpotensi menaikkan harga jual daging ayam dan meningkatkan margin keuntungan bisnis peternakan ayam,” tulis Nashrullah dalam risetnya.

Adapun sejalan dengan pemulihan perekonomian, seperti mulai beroperasinya hotel, restoran, dan cafe, permintaan daging ayam diperkirakan pulih pada kuartal III-2020. Hal ini berpotensi menaikkan ratarata harga jual DOC dan ayam pedaging, apalagi ditambah program culling ke-5 dan ke-6.

Nashrullah juga memperkirakan bahwa Malindo akan mendapatkan dukungan dari segmen bisnis makanan olahan (frozen foods, chicken nuggets).

Menurut dia, walaupun kontribusinya hanya 3% terhadap total penjualan, segmen ini masih menunjukkan peningkatan hingga semester I-2020 dan diprediksi tetap melanjutkan pertumbuhan. Apalagi, setelah perseroan berhasil melakukan ekspor makanan olahannya sebanyak enam ton ke Jepang.

“Langkah ini merupakan uji coba untuk melihat respons pasar ekspor yang tahun depan berpotensi naik 10 kali lipat menjadi 60 ton. Hal ini merupakan katalis positif karena membuka peluang pasar baru,” sebut dia.

Sebab itu, Samuel Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli saham MAIN dengan target harga Rp 680. Target harga tersebut merefleksikan perkiraan rasio P/E tahun 2021 sekitar 10 kali. Target harga tersebut juga didukung oleh katalis positif terbukanya peluang pasar baru dari ekspor dan program culling yang akan membuat harga DOC dan broiler stabil.

Adapun laba bersih Malindo tahun ini diproyeksi turun menjadi Rp 5 miliar dibandingkan realisasi tahun lalu senilai Rp 152 miliar. Pendapatan perseroan juga diperkirakan turun dari Rp 7,45 triliun menjadi Rp 6,86 triliun.

Sedangkan EBITDA diperkirakan turun dari Rp 628 miliar menjadi Rp 421 miliar.

malindo
MalindoFeedmill. Foto ilustrasi: IST

Sebelumnya, Direktur Malindo Feedmill Lau Joo Hwa mengatakan, perseroan memasang target pendapatan moderat tahun ini. Hal itu dipengaruhi oleh penurunan penjualan perseroan pada kuartal I-2020 dan kondisi pelemahan pasar akibat pandemi Covid-19.

Penurunan drastis permintaan daging ayam pada kuartal I-2020 memicu koreksi pendapatan perseroan sekitar 12% pada kuartal yang sama.

“Yang pasti, target awal pertumbuhan kinerja keuangan yang telah ditetapkan sebelumnya kemungkinan sulit untuk dicapai akibat ada hambatan pada kuartal I tahun ini. Tetapi secara keseluruhan, perseroan berharap bisa menstabilkan target yang kita rencanakan sebelumnya,” ujarnya.

Setiap tahun, menurut Joo Hwa, perseroan menargetkan pertumbuhan pendapatan sebesar 15%, namun besaran target tersebut kemungkinan tidak bisa diwujudkan tahun ini akibat pandemi. Tahun 2019, perseroan membukukan penjualan bersih sebesar Rp 7,45 triliun.

Terkait potensi pasar semester II-2020, dia mengatakan, permintaan daging ayam kembali pulih seiring dengan pelonggaran Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

“Dengan situasi menantang seperti ini, kami harus tetap memproduksi DOC dan pakan ternak dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Kami masih optimistis omset pakan dan makanan olahan mulai meningkat,” ujarnya.

Selain pertumbuhan permintaan, perseroan akan mengupayakan pemenuhan target kinerja keuangan tahun ini dengan peluncuran dua produk baru pada semester II-2020.

Langkah tersebut sebagai inovasi perseroan untuk menjaga kinerjanya di tengah pandemi. Produk baru dari segmen upstream, yaitu pakan ternak native chicken dan segmen downstream dengan meluncurkan produk olahan jahe merah.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN