Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Industri nikel. Foto: IST

Industri nikel. Foto: IST

Target Laba Turun, Saham Ifishdeco Malah Melonjak 50%

Nabil Al Faruq, Kamis, 5 Desember 2019 | 19:59 WIB

JAKARTA, investor.id – Perusahaan pertambangan bijih nikel, PT Ifishdeco Tbk (IFSH) menargetkan laba bersih pada 2020 sebesar Rp 134 miliar. Sedangkan tahun ini, laba bersih ditargetkan mencapai Rp 180 miliar.

Direktur Keuangan Ifishdeco Ineke Kartika Dewi mengatakan, target laba bersih tersebut menurun karena adanya kebijakan pemerintah terkait penghentian ekspor. “Seharusnya regulasi tersebut mulai 1 Januari 2022, namun diubah menjadi 1 Januari 2020. Kami pun merubah proyeksi dan menjadi penurunan profit,” kata dia, usai pencatatan perdana (listing) saham perseroan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (5/12).

Adapun pendapatan perseroan tahun depan diproyeksikan mencapai Rp 1,5 triliun. Hingga kuartal III-2019, pendapatan dan laba bersih perseroan sudah mencapai 60% dari target yang telah ditentukan hingga akhir tahun ini, dimana untuk laba bersih sebesar Rp 180 miliar dan pendapatan sebesar Rp 1,2 triliun.

Presiden Direktur Ifishdeco Oei Harry Fong Jaya mengatakan, dari hasil IPO saham, perseroan memperoleh dana sebesar Rp 187 miliar. Dari jumlah tersebut, sekitar 83%-nya akan digunakan untuk down payment (DP) mesin Rotary Kiln-Electric Furnace (RKEF) dan 17% untuk modal kerja.

Ineke menambahkan, saat ini perseroan memiliki fasilitas mesin pengolahan dan pemurnian dua line dengan kapasitas 50 ribu ton per tahun. “Ke depan, kapasitas dan kualitas dari produk perlu ditingkatkan, makanya kita akan melakukan pembelian mesin RKEF,” ujarnya.

Dengan penambahan dua fasilitas mesin RKEF tersebut, perseroan dapat meningkatkan produksi hinga sebanyak 120 ribu ton dari yang saat ini hanya mencapai 50 ribu ton.

Terkait dengan penambahan dua mesin fasilitas RKEF, Komisaris Ifishdeco Michele Sunogo mengatakan, tambang bijih nikel masih dapat bertumbuh seiring dengan membaiknya harga nikel berdasarkan London Metal Exchange dalam beberapa bulan terakhir.

Dukungan pemerintah juga cukup bagus dalam menstimulus perusahaan-perusahaan dalam negeri untuk membangun dan mengembangkan smelter agar meningkatkan nilai jual produk olahan nikel.

Sementara itu, pada perdagangan di BEI kemarin, saham perseroan berkode IFSH ditutup melonjak Rp 220 (50%) ke posisi Rp 660 atau terkena penolakan otomatis (auto rejection) batas atas. Selama penawaran umum (initial public offering/IPO), saham perseroan mengalami kelebihan permintaan (oversubscribed) hingga 220 kali dan investor yang membeli mayoritas adalah domestik. Perseroan melepas 425 juta saham dengan harga Rp 400 per unit.

Menurut Komisaris Utama Ifishdeco Lina Suti, langkah perseroan masuk bursa adalah bagian strategis perseroan dan entitas anak PT Bintang Smelter Indonesia (BSI) dalam meningkatkan kapasitas pabrik dan tata kelola perseroan yang lebih baik.

Ifishdeco didirikan pada 1971 dan fokus bisnis meliputi bidang pertanian, pembangunan, perdagangan, industri, dan pertambangan. Saat ini, perseroan menjalankan kegiatan usaha utama dalam bidang usaha pertambangan biji nikel (nickel ore) yang mencakup kegiatan eksplorasi, pengembangan dan penjualan bijih nikel.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA