Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Lambang Telkom

Lambang Telkom

Telkom Kantongi Laba Bersih Rp 18,66 Triliun

Farid Firdaus, Selasa, 26 Mei 2020 | 19:25 WIB

JAKARTA, investor.id – PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) membukukan pendapatan konsolidasi sebesar Rp 135,57 trilliun, atau tumbuh 3,7% dibanding tahun 2018 sebesar Rp 130,78 triliun. Sementara itu, Laba sebelum Bunga, Pajak, Depresiasi, dan Amortisasi (EBITDA) perseroan tahun 2019 tercatat Rp 64,83 triliun dengan laba bersih sebesar Rp 18,66 triliun, atau masing-masing tumbuh 9,5% dan 3,5% dibanding 2018.

Telkom melalui anak usahanya Telkomsel, masih menjadi operator dengan basis pelanggan terbesar di Indonesia, yaitu 171,1 juta pelanggan dengan pengguna mobile data tercatat sebanyak 110,3 juta pelanggan. Semakin besarnya kebutuhan layanan data mendorong trafik data tumbuh 53,6% menjadi 6.558 petabyte.

Alhasil, pendapatan bisnis digital Telkomsel tumbuh cukup signifikan sebesar 23,1% pada tahun lalu. Pertumbuhan bisnis digital tersebut tercatat sebagai pertumbuhan tertinggi secara industri pada 2019 sehingga pendapatan bisnis digital Telkomsel menjadi Rp 58,24 triliun.

Kontribusi pendapatan bisnis digital Telkomsel meningkat menjadi 64% dari total pendapatan Telkomsel, dari 53% pada tahun sebelumnya. Telkomsel juga berhasil melakukan pengendalian biaya dengan baik, sehingga mampu meningkatkan EBITDA margin menjadi 54% dari sebelumnya 53,2%.

Direktur Utama Telkom Ririek Adriansyah mengatakan, pencapaian sepanjang 2019 menunjukkan bahwa perseroan berada pada jalur yang tepat untuk menjadi perusahaan telekomunikasi digital.

“Telkom melakukan antisipasi terhadap perkembangan industri yang disruptive saat ini melalui pengembangan 3 perspektif domain bisnis digital, yaitu digital connectivity, digital platform, dan digital service,” jelas dia dalam keterangan resmi, Selasa (26/5).

Di segmen consumer, IndiHome melanjutkan momentum positif dan menjadi pendorong pertumbuhan Telkom. IndiHome mencatat kenaikan pendapatan signifikan sebesar 28,1% menjadi Rp 18,3 triliun. Jumlah pelanggan IndiHome tumbuh 37,2% jika dibanding akhir 2018 menjadi 7 juta pelanggan pada akhir 2019. EBITDA margin IndiHome mencapai 33,9%, mendekati standar profitabilitas global.

Sementara pada segmen enterprise, Telkom melakukan perubahan kebijakan bisnis dengan berfokus pada lini bisnis yang memiliki profitabilitas lebih tinggi. Bisnis ini bersifat recurring terutama pada layanan enterprise solutions seperti enterprise connectivity, data center, dan cloud.

Telkom secara selektif mengurangi dan tidak memprioritaskan solusi bisnis yang memiliki tingkat margin relatif rendah dan non-recurring. Sepanjang tahun 2019 profil bisnis segmen enterprise menjadi lebih baik dengan pendapatan Rp 18,7 triliun dan memberikan kontribusi 14% terhadap pendapatan konsolidasian.

Tahun lalu, Telkom menghabiskan belanja modal sebesar Rp 36,59 triliun atau 27% dari total pendapatan. Belanja modal tersebut terutama digunakan untuk meningkatkan kapabilitas digital. Perseroan membangun infrastruktur broadband yang meliputi BTS 4G LTE, jaringan akses serat optik ke rumah, jaringan backbone serat optik bawah laut dan terestrial, serta keperluan bisnis menara.

Berpotensi Meningkat

Ririek menjelaskan, pertumbuhan mobile broadband di masa mendatang masih berpotensi meningkat cukup besar sejalan dengan semakin tingginya pengguna mobile data. Rata-rata konsumsi mobile data saat ini masih relatif rendah yaitu 5,2 GB per pelanggan per bulan, dibandingkan negara lain seperti Thailand atau India yang masing-masing mencapai 13 GB dan 11 GB per pelanggan per bulan. Melihat hal tersebut, Perseroan memperkirakan bahwa trafik data akan terus tumbuh signifikan dalam beberapa tahun ke depan.

Sementara untuk fixed broadband, Telkom berkeyakinan bahwa permintaan akan layanan IndiHome masih akan tetap tinggi dalam beberapa tahun mendatang. Hal ini penetrasi fixed broadband di Indonesia masih cukup rendah yaitu kurang dari 15% dari populasi rumah tangga.

Tak ketinggalan, Telkom terus berupaya untuk mengembangkan berbagai layanan digital berbasis smart platform seperti Cloud, Big Data dan Internet of Things sesuai kebutuhan para pelanggan. “Kami berkeyakinan bahwa lini bisnis digital merupakan pendorong pertumbuhan bagi Telkom di masa mendatang,” jelas Ririek.

Sebagai satu-satunya perusahaan Indonesia yang tercatat di Bursa Efek New York, Telkom wajib menyusun laporan keuangan barbasis IFRS. Tahun ini, perseroan telah mengadopsi standar akuntansi pelaporan keuangan baru yaitu IFRS 16, yang turut mempengaruhi kompleksitas penyusunan laporan keuangan Perseroan. Penyampaian kinerja ini masih sesuai dengan ketentuan Otoritas Jasa Keuangan.


 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN