Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
PT Dayamitra Telekomunikasi (Mitratel). Foto: Perseroan.

PT Dayamitra Telekomunikasi (Mitratel). Foto: Perseroan.

Telkom Kembali Kaji IPO Mitratel

Kamis, 17 September 2020 | 12:13 WIB
Farid Firdaus (farid.firdaus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) atau Telkom kembali membuka peluang untuk mengantar anak usaha, PT Dayamitra Telekomunikasi (Mitratel) menggelar aksi penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham. Rencana ini sebagai bagian dari optimalisasi bisnis dan aset perseroan beserta anak usaha.

Vice President Corporate Communication Telkom Arief Prabowo mengatakan, saat ini memang ada wacana IPO Mitratel seperti yang disampaikan oleh Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) II Kartika Wirjoatmodjo. Perseroan tengah melakukan konsolidasi internal dan mengkaji rencana secara lebih detail.

Pihaknya belum menyebut secara terperinci, termasuk target dana serta periode pelaksanaan IPO. Manajemen menilai, implementasi rencana ini membutuhkan pertimbangan waktu yang tepat. “Wacana IPO merupakan upaya value creation bisnis tower yang lebih menguntung bagi perusahaan,” jelas dia kepada Investor Daily, Rabu (16/9).

Sebagai informasi, dalam diskusi HSBC Economic Forum bertajuk 'Orchestrating the next move: Transforming Indonesia into Asia's next supply chain hub', Rabu (16/9), Kartika mengemukakan, harapan Kementerian BUMN yang ingin supaya perusahaan BUMN menjadi lokomotif pendorong ekonomi.

Strategi ini bisa dilakukan dengan cara melakukan IPO dan menggandeng mitra strategis. Saat ini, jumlah BUMN termasuk dengan anak-anak usaha yang banyak menjadi tantangan tersendiri. Oleh sebab itu ada pembentukan klaster, ataupun kerja sama dengan pihak swasta. “Sebagai contoh di Pertamina itu upstream holding. Di Telkom, ada bisnis menara. Mitratel akan ada IPO,” jelas dia.

Telkom tercatat sejak lama berambisi membesarkan bisnis menara telekomunikasi. Berdasarkan catatan Investor Daily, pada 2012, direktur utama Telkom kala itu, Arief Yahya sempat menyatakan keinginan membawa Mitratel melantai di bursa. Ketika itu, Telkom memiliki penasihat keuangan untuk melancarkan IPO Mitratel pada 2013.

Pernyataan Arief Yahya tersebut  menyambung pernyataan direktur utama Mitratel tahun 2011 Edy Irianto yang pernah menargetkan aksi IPO Mitratel pada 2012. Sebelum IPO terlaksana, Telkom berniat memperbesar aset Mitratel dengan jalan akuisisi.

Tahun lalu, Mitratel berhasil mengakusisi 2.100 menara milik PT Indosat Tbk (ISAT). Baru-baru ini, Direktur Keuangan Telkom Heri Supriadi mengatakan, kini kinerja Mitratel mengalami pertumbuhan yang pesat. Perseroan terus membidik peningkatan tenancy ratio Mitratel.

Saat ini, Mitratel tercatat mengelola lebih dari 13.700 menara telekomunkasi yang tersebar di seluruh Indonesia. Tak hanya memenuhi kebutuhan Telkom Group, pelanggan Mitratel juga berasal dari operator telekomunikasi lain.

Peningkatan yang terjadi pada bisnis menara telekomunikasi dan voice wholesale mendorong pertumbuhan kinerja segmen wholesale dan bisnis internasional Telkom. Hingga semester I-2020, peningkatan pendapatan segmen ini sebesar 13,9% dibanding periode sama tahun lalu.

Adapun, terkait ekspansi bisnis di kancah internasional, menurut Heri, Telkom selalu mempertimbangkan berbagai peluang di beberapa negara. Hal ini lagi-lagi disesuaikan dengan ekosistem dan pelanggan layanan digital Telkom. “Kami melihat digitalisasi di regional Asia Tenggara memberikan kesempatan eksplorasi yang sangat besar,” ujar dia.

Terkait anggaran investasi, Telkom telah menyerap belanja modal atau (capital expenditure/capex) sebesar Rp 12 triliun hingga semester I-2020. sekitar 40% capex dimanfaatkan untuk pengembangan bisnis mobile.

Lalu,sebanyak 30% lagi untuk pengembangan fixed broadband IndiHome dalam rangka menambah kapasitas layanan demi meningkatkan jumlah pelanggan. Selain itu, 30% sisanya untuk investasi data center dan fasilitas pendukung lain. Telkom tercatat mematok porsi belanja modal sekitar 25% dari pendapatan 2020.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN