Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi Netflix.

Ilustrasi Netflix.

Telkom Segera Buka Akses Netflix

Farid Firdaus, Jumat, 5 Juni 2020 | 09:03 WIB

JAKARTA, investor.id – PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) atau Telkom berencana membuka pemblokiran terhadap layanan streaming paling populer di dunia, Netflix. Negosiasi antar dua perusahaan tersebut kian mengerucut pada sebuah kesepakatan.

Direktur Utama Telkom Ririek Adriansyah mengatakan, pihaknya sedang berupaya agar bisa segera ada titik temu antara Netflix dengan Telkom Group. Dengan demikian, akses ke layanan Netflix pada Telkom dan Telkomsel dapat segera dibuka. “Harapannya bisa tahun ini. Bahkan sesegera mungkin,” jelas dia kepada Investor Daily di Jakarta, Kamis (4/6).

Berdasarkan catatan Investor Daily, Telkom Group menutup akses Netflix pada layanan internet Indihome, WiFi.id, serta Telkomsel sejak 27 Januari 2016. Ketika itu, manajemen Telkom beralasan Netflix dianggap tidak memenuhi regulasi di Indonesia dan banyak memuat konten berbau pornografi.

Manajemen Telkom ingin tayangan Netflix menyesuaikan parental control atau pembatasan orang tua terhadap konten-konten yang layak ditonton anak, yang sesuai dengan pasar Indonesia.

Pada April 2016, Telkom justru menggandeng penyedia layanan video on demand (VoD) yang berkantor pusat di Kuala Lumpur, Iflix. Telkom menilai Iflix mampu melewati sensor yang ketat di Malaysia dan hal tersebut dipandang cocok untuk pasar Indonesia.

Dalam perjalanannya, Telkom terus melakukan seleksi terhadap berbagai penyedia layanan serupa. Pada Maret 2017, Telkom kembali menjalin kerja sama dengan salah satu kompetitor Netflix di Asia, yakni Hooq Digital Pte Ltd. Sebagai informasi, Hooq merupakan perusahaan patungan (joint venture/JV) yang didirikan pada 2015 oleh Singapore Telecommunication Ltd (Singtel), Sony Pictures Television, dan Warner Bros Entertainment. Singtel tercatat menguasai kepemilikan saham tidak langsung pada Hooq sebesar 76,5%.

Namun akhirnya, Hooq resmi menutup layanannya di Indonesia pada 30 April 2020. Hooq dinilai tidak mampu memberikan tingkat pengembalian yang berkelanjutan dan tidak sanggup menutup biaya produksi konten yang meningkat.

Proses penutupan melewati pengajuan likuidasi secara sukarela kepada para kreditor Hooq pada 27 Maret 2020 lewat pengumuman di Bursa Efek Singapura. Likuidasi ini pun akhirnya dikabuli pada April 2020.

Pendorong Pendapatan

Sebelumnya, Ririek menjelaskan, pertumbuhan mobile broadband di masa mendatang masih berpotensi meningkat cukup besar sejalan dengan semakin tingginya pengguna mobile data. Rata-rata konsumsi mobile data saat ini masih relatif rendah yaitu 5,2 GB per pelanggan per bulan dibandingkan negara lain seperti Thailand atau India yang masing-masing mencapai 13 GB dan 11 GB per pelanggan per bulan. “Melihat hal tersebut, Perseroan memperkirakan bahwa trafik data akan terus tumbuh signifikan dalam beberapa tahun ke depan,” kata dia.

Sementara, untuk fixed broadband, Telkom berkeyakinan bahwa permintaan akan layanan IndiHome masih tetap tinggi dalam beberapa tahun mendatang. Hal ini mengingat penetrasi fixed broadband di Indonesia masih cukup rendah yaitu kurang dari 15% dari populasi rumah tangga.

Di segmen bisnis consumer, IndiHome menjadi pendorong pertumbuhan Telkom. IndiHome mencatat kenaikan pendapatan signifikan sebesar 28,1% menjadi Rp 18,3 triliun pada 2019. Jumlah pelanggan IndiHome tumbuh 37,2% jika dibanding akhir 2018 menjadi 7 juta pelanggan pada akhir 2019. EBITDA margin IndiHome mencapai 33,9%, mendekati standar profitabilitas global.

Sementara itu, Telkomsel masih menjadi operator dengan basis pelanggan terbesar di Indonesia, yaitu 171,1 juta pelanggan dengan pengguna mobile data tercatat sebanyak 110,3 juta pelanggan pada akhir 2019. Semakin besarnya kebutuhan layanan data mendorong trafik data tumbuh sebesar 53,6% menjadi 6.558 petabyte.

Alhasil, pendapatan bisnis digital Telkomsel tumbuh cukup signifikan sebesar 23,1% pada tahun lalu. Pertumbuhan bisnis digital tersebut tercatat sebagai pertumbuhan tertinggi secara industri pada 2019 sehingga pendapatan bisnis digital Telkomsel menjadi Rp 58,24 triliun.

Secara konsolidasi, Telkom membukukan pendapatan sebesar Rp 135,57 trilliun pada 2019, atau tumbuh 3,7% dibanding 2018 sebesar Rp 130,78 triliun. Sementara Laba sebelum Bunga, Pajak, Depresiasi, dan Amortisasi (EBITDA) perseroan tahun 2019 tercatat Rp 64,83 triliun dengan laba bersih sebesar Rp 18,66 triliun, atau masing-masing tumbuh 9,5% dan 3,5% dibanding 2018.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN