Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Dirut Bank BRI Sunarso

Dirut Bank BRI Sunarso

Terfavorit, BBRI Melesat 25% dalam Sepekan Perdagangan

Listyorini, Sabtu, 30 Mei 2020 | 11:03 WIB

JAKARTA, Investor.id – Pelaku pasar dalam sepekan ini tak lepas membicarakan saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) yang menunjukkan performa terbaiknya. Dalam sepekan, harga BBRI terus rally, melesat naik 25% dan nyaris menyentuh level psikologi Rp 3.000 per lembar saham.

Pada penutupan perdagangan Jumat (29/5/2020), yang mengakhiri bulan Mei, saham BBRI berada di level Rp 2.950. Jika dihitung mundur dalam sepekan perdagangan (termasuk libur lebaran) BBRI naik 25%, dari posisi 20 Mei di level Rp 2.360.

Bahkan jika dihitung sejak kejatuhan pada 18 Mei 2020, ketika BBRI berada di level Rp 2.170, saham bank BUMN itu telah naik lebih dari 35%. Sebelum pandemi, harga BBRI selalu diperdagangkan di atas Rp 3.000 dan mencapai rekor tahun ini pada Rp 4.740 pada 24 Januari.

"Dalam sepekan ini, investor asing terus mengakumulasi saham BBRI sehingga harganya melesat," kata Ketua Investa, komunitas investor Bursa Efek Indonesia (BEI), Hari Prabowo, Sabtu (30/5/2020).

Berdasarkan data RTI, dalam seminggu ini, investor asing mencatatkan beli bersih (net buy) untuk BBRI sebesar Rp 2,349 triliun. Akumulasi asing meningkat tajam pada Jumat dan mencatatkan net buy sebesar Rp 1,285 triliun di pasar reguler.

Menurut Hari, kenaikan saham BBRI ada hubungannya dengan komitmen pembelian saham (buyback) yang dijanjikan korporasi sebesar Rp 3 triliun yang akan berakhir pada 12 Juni. Jika sinyalemen pasar itu benar, BBRI menjadi emiten yang sangat komit terhadap janji buyback saham.

Tidak berlebihan bila investor menyambut baik program buyback karena hal itu akan mendorong permintaan terhadap saham. Tetapi, pelaksanaan program buyback masih menjadi pertanyaan.

Sebelumnya, Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna mengatakan, per 27 Mei, program buyback tanpa harus melalui RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham) baru mencapai Rp 1,57 triliun atau setara 8,1% dari komitmen total nilai buyback saham Rp 19,45 triliun.

Menurut dia, emiten BUMN yang mulai mengeksekusi buyback saham berjumlah tujuh perusahaan, sedangkan swasta berjumlah 40 emiten.

Buyback saham bertujuan untuk stabilitas pasar karena harga anjlok akibat pandemi virus corona. Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) No.2/POJK.04/2013 memang mengizinkan emiten melaksanakan program buyback tanpa melalui RUPS.

Faktor Pendukung

Dalam sepekan ini, harga saham perbankan rata-rata naik signifikan. Penguatan harga BBRI mendapat katalis dari sejumlah faktor:

1. Stimulus lanjutan dari OJK terkait relaksasi ketentuan di sektor perbankan untuk memberikan ruang likuiditas dan permodalan perbankan. Dengan demikina, stabilitas sektor keuangan tetap terjaga di tengah pelemahan ekonomi sebagai dampak Covid-19.

2. Program buyback. Dirut PT Bank Rakyat Indonesia Tbk, Sunarso pada Maret mengatakan, program buyback akan dilakukan dalam periode 3 (tiga) bulan terhitung sejak tanggal 13 Maret 2020 sampai dengan 12 Juni 2020 mengingat kondisi likuiditas dan permodalan BRI sangat memadai.

3. Asing mulai mengakumulasi BBRI dengan jumlah signifikan. Dalam sepekan perdagangan BBRI menjadi top net buy asing.

4. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk dinobatkan di peringkat teratas “The Most Valuable Banking Brands” di Indonesia, dengan nilai sekitar US$ 3,5 miliar atau Rp 51,66 triliun, berdasarkan hasil riset laporan tahunan Brand Finance "Banking 500 2020". Hal ini menunjukkan prospek korporasi yang sangat baik.

Harga saham BBRI terjun bebas pada 18 Mei 2020 hingga mencapai rekor terbawah tahun ini. Hal itu dipicu oleh kabar yang beredar di pasar bahwa hedge fund asing melepas saham-saham perbankan karena kekhawatiran terkait pembentukan bank jangkar (anchor bank) yang akan meningkatkan risiko kredit bermasalah (non-performing loan/NPL).

Analis PT Anugerah Mega Investama, Hans Kwee mengatakan, bank yang ditunjuk sebagai bank jangkar justru diuntungkan karena mendapat benefit.

"Harusnya saham-saham bank justru naik karena sebenarnya bank jangkar diuntungkan," ujarnya. Alasannya, bank jangkar akan mendapat penempatan dana dari pemerintah dan memperoleh selisih bunga dari penempatan dana pemerintah dan pinjaman ke bank pelaksana.

Di sisi lain, risiko kredit macet akan ditangani Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). "Jika bank pelaksana tidak berhasil mengembalikan uang, LPS akan turun tangan," katanya.

 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN