Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Sarana Menara Nusantara.

Sarana Menara Nusantara.

Terkait Utang Iforte, Protelindo Beri Jaminan ke MUFG Bank

Thereis Love Kalla, Jumat, 20 September 2019 | 19:56 WIB

JAKARTA, investor.id – PT Profesional Telekomunikasi Indonesia (Protelindo), anak usaha PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR), menjamin utang PT Iforte Solusi Infotek senilai Rp 250 miliar yang diperoleh dari MUFG Bank Ltd cabang Jakarta. Iforte adalah anak usaha Protelindo.

Iforte telah menandatangani perjanjian fasilitas pinjaman dengan dan MUFG Bank pada 18 September 2019. Pinjaman yang diraih Iforte akan digunakan untuk tujuan korporat secara umum.

“Pemberian pinjaman dapat menunjang kegiatan usaha Iforte dan secara konsolidasi juga akan berdampak positif bagi Protelindo dan perseroan,” jelas Sekretaris Perusahaan Sarana Menara Nusantara Irfan Ghazali dalam keterangan resmi, Jumat (20/9).

Lebih lanjut, dia mengungkapkan, fasilitas pinjaman tersebut bertenor 12 bulan. Bunga pinjaman adalah Jakarta Interbank Offered Rate (JIBOR) dan margin yang berlaku yaitu 1,25% per tahun.

Sebelumnya, Iforte telah mengantongi pinjaman senilai Rp 800 miliar dari PT Bank Permata Tbk pada 16 Agustus 2019. Pinjaman tersebut memiliki tenor 12 bulan dan dananya akan digunakan untuk membiayai belanja modal serta tujuan-tujuan umum perseroan.

Meskipun Iforte menjadi pihak yang mendapatkan pinjaman, Protelindo tetap menjadi penjamin. Pasalnya, Protelindo menguasai 99,99% saham Iforte secara langsung.

Sebelumnya, Wakil Direktur Utama Sarana Menara Nusantara Adam Ghifari mengatakan, Sarana Menara mengkaji penambahan anggaran belanja modal (capital expenditure/capex) tahun ini yang semula ditargetkan sekitar Rp 3,4-3,5 triliun. Peningkatan ini sebagai antisipasi memenangkan tender 3.000 menara PT Indosat Tbk (ISAT).

Menurut dia, pihaknya belum dapat menyatakan total penambahan capex tersebut, lantaran proses tender masih berlangsung. Namun, perseroan memiliki sumber pendanaan yang cukup untuk mendanai aksi korporasi tersebut.

“Strategi kami memang tumbuh secara organik dan anorganik. Kami belum bisa bicara detailnya, karena yang menggelar lelang itu Indosat,” kata Adam, belum lama ini.

Adam menambahkan, rasio total pinjaman perseroan terhadap EBITDA juga masih tergolong rendah. Per Juni 2019, total pinjaman perbankan perusahaan mencapai Rp 12 triliun sedangkan EBITDA mencapai Rp 5 triliun. Dari sini, perseroan yakin masih memiliki ruang untuk pembiayaan dari bank, jika memang dibutuhkan.

Selain rasio tersebut, perseroan cukup percaya diri dengan rating BBB yang diberikan oleh Standar and Poor’s (S&P). Pasalnya, hasil pemeringkatan ini membuka peluang bagi perseroan untuk memperoleh akses pembiayaan yang lebih beragam.

Dia menambahkan, jumlah menara perseroan hingga Juni 2019 sebanyak 18.152 tower, dan perseroan juga masih memiliki tabungan 1.076 sewa tower. Di bisnis jaringan internet kabel optik, perseroan tercatat telah membangun 14.500 kilometer (km) di akhir Juni, dan memiliki tabungan 16.600 km fiber optik baru untuk diselesaikan.

“Untuk tumbuh secara organik saja, perseroan menargetkan memiliki 30.000 lebih titik sewa menara dengan rasio tenancy sebesar 1,63 kali. Posisi per Juni 2019, perseroan sudah memiliki 29.150 titik sewa dengan tenancy ratio 1,61 kali,” jelas Adam.

Hingga semester I-2019, perseroan mencatat potensi arus pendapatan yang berpeluang diterima hingga 2032 sebesar Rp 42,6 triliun. Nilai tersebut belum termasuk tambahan bisnis potensial atau perpanjangan sewa lain yang belum berakhir masa berlakunya.

Hingga semester I-2019, Sarana Menara membukukan pendapatan sebesar Rp 3,02 triliun atau naik 7,8% dibandingkan periode sama tahun lalu Rp2,8 triliun. Namun, laba bersih perseroan turun menjadi Rp 993,5 miliar dari semester I-2018 Rp 1,07 triliun. Selan itu, laba usaha yang diraih sepanjang semester I 2019 sebesar Rp1,75 triliun turun tipis dibandingkan periode sama tahun lalu Rp1,78 triliun.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA