Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Selah satu kegiatan di pabrik Astra International. Foto: BeritaSatu Photo/M Defrizal

Selah satu kegiatan di pabrik Astra International. Foto: BeritaSatu Photo/M Defrizal

Tertinggi Sepanjang Sejarah, Berapa Laba Astra?

Farid Firdaus, Kamis, 27 Februari 2020 | 21:30 WIB

JAKARTA, investor.id – PT Astra International Tbk (ASII) membukukan laba bersih konsolidasi Rp 21,7 triliun pada 2019 atau stabil dibanding realisasi 2018 yang sebesar Rp 21,67 triliun. Perolehan tersebut merupakan nilai laba bersih tertinggi sepanjang sejarah perseroan.

Adapun nilai aset bersih per saham Astra International tercatat sebesar Rp 3.652 pada 31 Desember 2019 atau 8% lebih tinggi dibandingkan dengan posisi akhir 2018.

Sementara itu, penurunan pendapatan dari divisi otomotif dan agribisnis membuat pendapatan perseroan secara konsolidasi turun 1% menjadi Rp 237,16 triliun pada 2019 dibandingkan perolehan pada 2018 sebesar Rp 239,2 triliun. Penurunan pendapatan divisi otomotif dan agribisnis lebih besar daripada peningkatan pendapatan dari divisi jasa keuangan serta infrastruktur dan logistik.

Presiden Direktur Astra International Prijono Sugiarto mengatakan, kinerja perseroan selama 2019 terimbas pelemahan konsumsi domestik dan rendahnya harga-harga komoditas, tetapi diuntungkan oleh peningkatan kinerja dari bisnis jasa keuangan dan kontribusi dari tambang emas Grup yang baru diakuisisi.

“Prospek pada tahun 2020 masih menantang yang disebabkan ketidakpastian kondisi makro eksternal, kompetisi di pasar mobil serta harga-harga komoditas yang lemah,” jelas dia dalam keterangan resmi, Kamis (27/2).

Meskipun demikian, kata Prijono, pihaknya yakin bahwa perseroan berada pada posisi yang baik untuk memanfaatkan momentum dari setiap perbaikan kondisi ekonomi.

Sementara itu, total utang bersih perseroan, di luar anak usaha jasa keuangan, mencapai Rp 22,2 triliun per 31 Desember 2019 dibandingkan akhir 2018 yang sebesar Rp 13 triliun. Hal ini terutama disebabkan oleh tambahan investasi perseroan pada jalan tol dan Gojek serta belanja modal pada bisnis kontraktor penambangan.

Sedangkan anak usaha perseroan pada segmen jasa keuangan mencatat utang bersih sebesar Rp 45,8 triliun per 31 Desember 2019, dibandingkan dengan Rp 47,7 triliun pada akhir 2018.

Prijono menjelaskan, perseroan akan mengusulkan dividen final sebesar Rp 157 per saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) perseroan yang rencananya digelar April 2020. Nilai itu naik dibanding dividen final untuk tahun buku 2018 yang sebesar Rp 154 per saham.

Sesuai rencana, usulan dividen final tersebut beserta dividen interim sebesar Rp 57 per saham yang telah dibagikan pada Oktober 2019, akan menjadikan total dividen untuk tahun buku 2019 sebesar Rp 214 per saham. Nilai itu sama dengan dividen total tahun buku 2018.

Adapun penjualan mobil Astra turun 8% secara tahunan menjadi 536 ribu unit pada 2019. Berdasarkan data asosiasi kendaraan bermotor Indonesia Gaikindo, penjualan mobil secara nasional turun 11% menjadi 1,03 juta unit pada tahun 2019. Pangsa pasar Astra meningkat dari 51% menjadi 52%. Sepanjang 2019, perseroan telah meluncurkan 15 model baru dan 11 model revamped mobil.

Di sisi lain, penjualan sepeda motor secara nasional meningkat 2% menjadi 6,5 juta unit pada 2019 berdasarkan data Kementerian Perindustrian. Untuk penjualan sepeda motor Astra Honda meningkat 3% menjadi 4,9 juta unit dengan pangsa pasar sebesar 76%, sedikit meningkat dibandingkan 2018. Sepanjang 2019, divisi otomotif Astra telah merluncurkan 6 model baru dan 21 model revamped sepeda motor.

Penguat Kinerja

Laba bersih bisnis jasa keuangan Astra meningkat 22% secara tahunan menjadi Rp5,9 triliun pada 2019. Hal ini terutama disebabkan oleh portofolio pembiayaan yang lebih besar dan perbaikan kredit bermasalah.

Pada divisi alat berat, pertambangan, konstruksi dan energi, laba bersihnya meningkat sebesar 1% secara tahunan menjadi Rp 6,7 triliun, terutama dari kontribusi usaha tambang emas baru. Hal tersebut setidaknya mampu mengimbangi penurunan penjualan alat berat dan kerugian pada bisnis kontraktor umum.

Lebih lanjut, divisi infrastruktur dan logistik Astra mencatat laba bersih yang meningkat 49% secara tahunan menjadi Rp 292 miliar pada 2019. Hal ini terutama disebabkan oleh peningkatan pendapatan dari jalan tol yang telah beroperasi.

Seperti diketahui, Astra mempunyai kepemilikan saham pada 350 km ruas jalan tol yang telah beroperasi sepanjang jaringan Trans-Jawa dan tol lingkar luar Jakarta. Adapun, dalam keterlibatan investasinya di Gojek, Astra telah menyuntik dana senilai US$ 100 juta kepada unicorn tersebut pada 2019. Alhasil, total invetasi Astra pada Gojek telah mencapai US$ 250 juta.

Sementara itu, Danareksa Sekuritas menyebutkan bahwa banyak faktor yang bisa mengerek kenaikan volume penjualan mobil tahun ini, seperti penurunan tingkat bunga kredit pembelian kendaraan bermotor, pelonggaran uang muka pembelian kendaraan bermotor, dan potensi kenaikan harga jual komoditas, termasuk ekonomi dalam negeri.

“Kami masih yakin bahwa Astra mampu untuk mempertahankan pangsa pasar di level 51% tahun ini,” tulis analis Danareksa Sekuritas Stefanus Darmagiri dalam risetnya, baru-baru ini.

Danareksa Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham ASII dengan target harga Rp 8.000. Target tersebut mengimplikasikan perkiraan PE tahun ini berkisar 14,8 kali. Target tersebut juga telah mempertimbangkan masih ketatnya persaingan penjualan mobil dalam negeri.

Target tersebut juga mempertimbangkan perkiraan kenaikan laba bersih Astra International menjadi Rp 21,94 triliun pada 2020. Pendapatan perseroan juga diharapkan meningkat menjadi Rp 246,16 triliun.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN