Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Raden Pardede, Staf Khusus Menteri Koordinator Bidang Perekonomian dalam diskusi Zooming with Primus - Peluang Investasi 2022, live di Beritasatu TV, Kamis (13/1/2022). Sumber: BSTV

Raden Pardede, Staf Khusus Menteri Koordinator Bidang Perekonomian dalam diskusi Zooming with Primus - Peluang Investasi 2022, live di Beritasatu TV, Kamis (13/1/2022). Sumber: BSTV

The Fed Diperkirakan Naikkan Suku Bunga Acuan 2 Kali Tahun Ini

Kamis, 13 Januari 2022 | 22:12 WIB
Arnoldus Kristianus (arnoldus.kristianus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Staf Khusus Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Raden Pardede memperkirakan, bank sentral Amerika Serikat, The Fed, akan menaikan suku bunga acuan (Fed fund rate) sebanyak dua kali pada tahun ini. Hal tersebut tidak terlepas dari kondisi perekonomian global yang membaik karena dampak varian omicron Covid-19 diperkirakan tidak separah varian delta.

“Dampak dari inflasi kelihatanya bersifat sementara tidak permanen. Kemungkinan besar tidak harus tiga kali tetapi bisa saja dua kali dinaikkan oleh The Fed. Kalau kita lihat, kondisi ekonomi global sekarang ini secara umum boleh dikatakan terjadi pemulihan yang cukup baik,” ucap Raden dalam acara Zooming with Primus di BeritaSatu TV, Kamis (13/1).

Kenaikan Fed fund rate diperkirakan berdampak ke imbal hasil (yield) investasi di pasar modal. Ada kemungkinan, yield curve investasi di pasar modal akan naik seiring kenaikan yield curve di Amerika Serikat karena pengaruh ekspektasi, prospek, potensi earning, dan dividen. “Secara umum, equity akan lebih menarik dari surat utang di 2022. Karena kalau di equity secara fundamental ekonomi kita lebih kuat dari 2021,” ucap Raden.

Perekonomian domestik diyakini akan membaik sebab kenaikan harga komoditas dan akan terjadi lonjakan permintaan (pent up demand) pada tahun 2022. Raden mengatakan, permintaan dalam negeri tahun 2021 belum maksimal. “Kelompok atas atau kelompok berpenghasilan tinggi masih banyak menabung di 2021. Ini terlihat dari tabungan di bank dari kelompok ini masih sangat tinggi,” ucap dia.

Kenaikan suku bunga acuan The Fed akan mengacu pada kondisi pertumbuhan ekonomi dan inflasi. Dia mengatakan, pertumbuhan ekonomi negara maju bisa tumbuh cepat karena dua hal. Pertama, vaksinasi yang gencar di negara-negara maju. Kedua, stimulus fiskal yang digelontorkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi secara cepat.

“Maka. kami juga melihat implikasi lainnya yaitu inflasi yang mulai menjadi tekanan, terutama terjadi di Amerika Serikat. Inflasi yang naik menyebabkan The Fed mungkin akan menaikan dua sampai tiga kali di tahun ini,” ucap dia.

Raden mengatakan, tahun ini sejumlah negara mengambil tindakan yang sangat-sangat longgar dalam penanganan Covid-19, sebab tidak melakukan pembatasan kegiatan ekonomi, kegiatan travel dan sekolah tetap terbuka. Hal ini berbeda dengan 2020 dan 2021 yang cenderung melakukan karantina wilayah (lockdown).

“Kelihatannya beberapa negara besar di dunia sudah melihat bahwa harus berdamai dengan Covid. Artinya, kita hidup bersama covid-19,” kata Raden.

Menurut dia, negara-negara di Asia juga harus bergerak aktif dalam transisi dari pandemi ke endemi. Bila tidak bersikap aktif dalam transisi maka pemulihan ekonomi negara-negara tersebut akan tertinggal.

“Secara umum situasinya sudah lebih baik dan omicron yang diperkirakan akan menyebabkan pertumbuhan ekonomi dunia melambat kelihatannya hanya sebentar,” pungkas dia.

Editor : Nasori (nasori@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN