Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Jerome Powell. Foto: IST

Jerome Powell. Foto: IST

FOKUS PASAR:

The Fed Fokus pada Penyediaan Likuiditas Pasar Keuangan

Thereis Kalla, Selasa, 17 Maret 2020 | 10:38 WIB

JAKARTA, investor.id - Ketua The Fed Jerome Powell mengatakan bahwa dirinya terus berusaha membantu mengurangi tekanan terhadap ekonomi Amerika melalui kebijakan – kebijakan yang diambil. The Fed akan terfokus kepada penyediaan likuiditas pasar keuangan agar dapat berjalan dengan baik dan memberikan kredit kepada perusahaan dan konsumen untuk dapat membantu mengatasi penurunan ekonomi akibat dari virus Korona.

Powell menilai, pemangkasan tingkat suku bunga saja belum cukup untuk dapat mendorong dan menstabilkan kondisi darurat ekonomi saat ini, namun hal tersebut dapat menjadi daya dorong ketika pasar mengalami pemulihan.

“Sejauh ini kami melihat bahwa pasar keuangan akan kembali normal dan menjadi lebih likuid. Namun demikian, pasar tetap merespon negatif langkah-langkah yang diambil oleh The Fed, yang seharusnya memberikan sentimen positif terhadap pasar,” ulas Pilarmas Investindo Sekuritas dalam risetnya Selasa (17/3).

Menurut Powell, The Fed masih memiliki banyak tools yang dapat digunakan untuk membantu perekonomian, termasuk tentang arah tingkat suku bunga dalam jangka waktu pendek dan lebih banyak membeli asset.

Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Steven Mnuchin. ( Foto: AFP )
Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Steven Mnuchin. ( Foto: AFP )

Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin mengatakan bahwa rancangan anggaran pengeluaran darurat sebesar US$ 8 miliar dan rencana ekonomi yang disahkan hanyalah awal dari stimulus yang akan diberikan. Pihaknya mengatakan masih banyak hal yang bisa dilakukan bersama dengan kongres dan dia akan memastikan bahwa perekonomian akan pulih.

Sementara itu, Goldman Sach memproyeksikan ekonomi akan mengalami stagnan pada kuartal ini dan akan menyusut sebanyak 5% dalam tiga bulan berikutnya, namun ada potensi pemulihan 3% hingga 4% pada masing-masing kuartal berikutnya.

Di sisi lain, Bank Sentral Jepang pada akhirnya tidak mengubah tingkat suku bunganya pada pertemuan Bank Sentral Jepang kemarin. Gubernur Bank Sentral Jepang Haruhiko Kuroda mengatakan bahwa kebijakan itu menunjukan naiknya tingkat kekhawatiran untuk memangkas tingkat suku bunga lebih jauh di area negatif. Kejadian ini mirip dengan Bank Sentral Eropa yang enggan untuk memangkas tingkat suku bunganya, alih-alih memotong tingkat suku bunganya, mereka lebih suka membeli lebih banyak asset. Hal ini pula yang dilakukan oleh Bank Sentral Jepang kemarin.

“Kami melihat bahwa apabila Bank Sentral di negara manapun yang sudah berada di tingkat suku bunga negatif pada sebelumnya lebih suka untuk melakukan pembelian aset lebih banyak, hal ini untuk menjaga sektor perbankan untuk tidak terluka lebih dalam apabila dilakukan pemotongan tingkat suku bunga kembali,” jelas Pilarmas Sekuritas.

Sejauh ini Selandia Baru sudah memangkas tingkat suku bunganya sebenyak 75 bps, diikuti dengan Korea Selatan yang dipangkas 50 bps. Australia yang sebelumnya telah menurunkan tingkat suku bunga di awal bulan ini, akan terfokus kepada pendanaan jangka pendek. Beralih kepada Bank Sentral Korea Selatan, yang pada akhirnya memutuskan untuk memangkas tingkat suku bunga sebanyak 50 bps, tentu hal ini merupakan implikasi dari penurunan tingkat suku bunga The Fed sebelumnya yang telah memangkas 100 bps. Hal ini menjadikan tingkat suku bunga Korea Selatan merupakan yang terendah sepanjang masa.

Para pemimpin dari G7 mengatakan mereka akan melakukan apapun yang diperlukan untuk memastikan perlawanan terhadap virus Korona yang menyebabkan pelemahan ekonomi. Negara G7 akan mengerahkan kekuatan penuh dari masing-masing pemerintah mereka untuk mengkoordinasikan langkah-langkah terkait dengan kesehatan masyarakat, mengembalikan kepercayaan ekonomi, mendukung perdagangan dan investasi global, dan mendorong kerja sama dalam penelitian ilmiah.

BPS
Badan Pusat Statistik. Foto ilustrasi: IST

Beralih dari dalam negeri, Badan Pusat Stastistik (BPS) mengumumkan kenaikan ekspor sebesar 11% year on year (YoY) dan 2,24% month on month (MoM). Kenaikan tersebut didukung meningkatnya ekspor non migas yang naik 2,38% MoM. BPS juga menyebutkan non migas menyumbang ekspor terbesar dari total ekspor Februari 2020 mencapai 94,14%.

Impor mengalami penurunan 5,11% YoY dan juga turun 18.69% MoM. Penurunan terbesar saat ini berasal dari non migas yang turun sebesar 7,4% YoY adanya penurunan konsumsi secara bulanan sebesar 39.91%, penurunan bahan baku sebesar 15.89% dan penurunan barang modal sebesar 18.03%.

Adanya penyebaran virus korona memberikan dampak penurunan impor pada Tiongkok sebesar US$ 1.954 yang terdiri dari kategori mesin dan perlengkapan elektrik, mesin dan peralatan mekanik, serta barang dari plastik. Meskipun neraca perdagangan mencatatkan surplus, namun IHSG hingga akhir perdagangan kemarin masih juga belum mencatatkan hal positif.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN