Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Gubernur The Federal Reserve (The Fed), Jerome Powell. ( Foto: Eric BARADAT / AFP )

Gubernur The Federal Reserve (The Fed), Jerome Powell. ( Foto: Eric BARADAT / AFP )

The Fed: Pemulihan Ekonomi AS Bergantung Pengendalian Virus

Selasa, 22 September 2020 | 11:48 WIB
Thereis Kalla (thereis.kalla@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Ketua Dewan Gubernur Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell mengungkapkan pemulihan ekonomi Amerika Serikat (AS) berjalan lama dan penuh ketidakpastian. Jalan di masa depan akan sangat bergantung terhadap seberapa jauh pemerintah dapat mengendalikan virus ditambah dengan kebijakan yang akan diambil di semua tingkat pemerintahan.

Powell menyampaikan pernyataan di depan legislator dan senat terkait dampak pandemi Covid-19. Powell menyebutkan bahwa kebijakan fiskal dan moneter yang lebih banyak akan sangat diperlukan untuk mendorong perekonomian yang mengalami penurunan akibat wabah virus corona. 

Selain itu, Powell dan Menteri Keuangan AS Steve Mnuchin berencana akan memaparkan menjabarkan tentang beberapa program pinjaman dengan total nilai US$ 600 miliar yang sebelumnya dilakukan dan diberikan kepada perusahaan kecil dan menengah, di depan kongres.

Diketahui, nilai yang berada di pasar sebetulnya lebih rendah dari pada ini, karena Bank dan beberapa Lembaga keuangan yang lebih besar, menolak untuk memberikan pinjaman kepada bisnis yang memiliki nilai risiko yang lebih besar namun justru mungkin yang paling membutuhkan.   

“Kami melihat hal tersebut menjadi sebuah dilema bagi sektor keuangan tentunya, di satu sisi mereka harus memberikan kredit, di satu sisi mereka harus menjaga sustainabilitas perusahaannya. Tentu hal ini merupakan situasi dan kondisi yang sulit, oleh sebab itu kami melihat bahwa apabila ada sektor yang memiliki nilai risiko yang besar, pemerintah dan Bank Sentral memiliki mitigasi risiko terkait hal tersebut,” jelas Pilarmas Investindo Sekuritas dalam risetnya Selasa (22/9).

Di sisi lain, pekan ini merupakan pekan yang sangat dinantikan untuk beberapa negara. Apalagi ketika The Fed mengatakan pada pekan lalu bahwa mereka tidak akan menaikkan tingkat suku bunga dalam kurun waktu tiga tahun mendatang. Tentu hal tersebut akan memberikan pengaruh terhadap keputusan Bank Sentral lain yang ada di seluruh dunia.

Selain keputusan Bank Sentral di berbagai negara, pekan ini Powell juga akan bersaksi di hadapan kongres untuk membahas tanggapan yang sudah dilakukan oleh Bank Sentral terkait dengan wabah virus corona yang terjadi di Amerika. Powell mungkin akan menyampaikan pandangannya untuk meminta kebijakan fiskal yang lebih luas untuk membantu bauran kebijakan moneter.

Gubernur Bank Sentral Inggris Andrew Bailey mengatakan bahwa Inggris memiliki kesempatan untuk mengklarifikasi terkait dengan keinginan Bank Sentral Inggris untuk menggunakan tingkat suku bunga negatif. Tentu hal ini menjadi perhatian pelaku pasar dan investor, apalagi Inggris juga akan menyampaikan terkait dengan dampak yang ditimbulkan terhadap perekonomian oleh wabah virus corona. Brexit yang tidak kunjung berakhir juga menjadi salah satu alasan apabila Bank Sentral Inggris memangkas tingkat suku bunganya hingga negatif.

“Kami cukup khawatir apabila Inggris benar-benar mendorong tingkat suku bunganya hingga negatif, hal tersebut akan menurunkan nilai margin bersih dari perbankan dan akan menaikkan supply pinjaman yang memiliki nilai risiko. Sehingga kami melihat lebih banyak sisi negatifnya dari sisi positifnya kalau Inggris benar-benar menggunakan tingkat suku bunga negatif,” ulas Pilarmas Sekuritas.

Beralih ke dalam negeri, guna mendorong daya beli masyarakat pada kendaraan bermotor, Kementerian Perindustrian kali ini membuat usulan terkait relaksasi Pajak Kendaraan Bermotor atau PKB.

Hal ini tentu menjadi harapan dari pemerintah dimana daya beli dapat naik apabila produsen segera menyesuaikan harga jual, hal ini seiringan dengan bea pajak yang mendapat relaksasi dapat menjadi alasan penurunan dari harga jual kendaraan.

Selain itu meningkatnya daya beli masyarakat tersebut diharapkan dapat meningkatkan produksi dalam negeri.

Kendati demikian, seberapa jauh harga dapat turun, merupakan salah satu permasalahan juga, karena harga akhir sebuah mobil merupakan gabungan dari banyak komponen biaya.

Secara umum, komponen Harga Pokok Penjualan sebuah kendaraan baru sebagai biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk tenaga kerja, biaya bahan baku dan biaya overhead dalam proses pembuatan produk berkisar antara 30-40%. Biaya marketing, biaya logistik-distribusi hingga margin ke sekitar 10%, margin laba perusahaan dan prinsipal berkisar 10-15%.

“Apabila PPN yang mendapat relaksasi hal tersebut tentu agak berat apabila produsen menurunkan harga jual, kecuali produsen juga ikut mendapat dampak dari pembelian bahan baku yang mendapat relaksasi. Disisi yang lain, kami melihat adanya potensi short fall yang cukup besar apabila bea pajak diberlakukan pada kendaraan bermotor,” ujarnya. 

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN