Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
PT Timah Tbk. Foto: IST

PT Timah Tbk. Foto: IST

Timah Tawarkan Obligasi dan Sukuk Rp 1,3 Triliun

Farid Firdaus, Kamis, 25 Juli 2019 | 21:02 WIB

JAKARTA, investor.id – PT Timah Tbk (TINS) melangsungkan obligasi dan sukuk berkelanjutan I tahap II senilai Rp 1,3 triliun. Dana hasil penerbitan ini akan digunakan perseroan untuk kebutuhan belanja modal (capital expenditure/capex) dan pelunasan utang jangka pendek.

Perseroan menawarkan obligasi hingga Rp 900 miliar. Rinciannya sebanyak Rp 854 miliar dijamin dengan kesanggupan penuh, sedangkan sisanya Rp 46 miliar akan dijamin secara kesanggupan terbaik.

Untuk obligasi yang dijamin dengan kesanggupan penuh ditawarkan dalam dua seri, yakni seri A sebesar Rp 387 miliar dengan tingkat bunga tetap sebesar 8,50% per tahun, yang berjangka waktu tiga tahun. Sementara, seri B sebesar Rp 467 miliar dengan tingkat bunga tetap 8,75% per tahun, dengan tenor lima tahun.

“Perseroan juga menerbitkan sukuk dengan sisa imbalan ijarah sebanyak-banyaknya Rp 400 miliar. Sebagian sukuk ada yang dijamin dengan kesanggupan penuh, dan sebagian dijamin dengan kesanggupan terbaik,” jelas manajemen Timah dalam pengumuman resmi, Kamis (25/7).

Perseroan telah mendapat peringkat A+ untuk obligasi dan sukuk ijarah ini dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo). Para penjamin obligasi ini antara lain PT Bahana Sekuritas, PT BNI Sekuritas, PT Danareksa Sekuritas, PT DBS Vickers Sekuritas Indonesia, dan PT Mandiri Sekuritas. Sementara, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) bertindak sebagai wali amanat.

Menurut manajemen, rencananya sebanyak 50% dana hasil penerbitan obligasi akan diserap untuk kebutuhan capex. Ekspansi tersebut terdiri atas 50% untuk rekondisi dan replacement peralatan produksi, serta 50% untuk meningkatkan kapasitas produksi perseroan yang meliputi pembangunan bore hole mining, pembukaan tambang perseroan, proyek advanced tin smelter (ausmelt), pengadaan kapal isap, serta kegiatan eksplorasi untuk meningkatkan cadangan.

“Selanjutnya, 50% akan digunakan untuk pelunasan utang jangka pendek yang berasal dari kredit modal kerja rupiah,” ungkap manajemen.

Utang yang akan dilunasi tersebut adalah pinjaman Rp 250 miliar dari PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) berupa kredit modal kerja, serta pinjaman dari PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) senilai Rp 175,96 miliar dari total plafon Rp 500 miliar.

Sesuai rencana, perseroan akan melakukan masa penawaran umum obligasi dan sukuk pada 7-12 Agustus 2019, dan penjatahan digelar pada 13 Agustus 2019. Dengan demikian, surat utang ini akan dicatatkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 16 Agustus 2019.

Sebagai informasi, Timah mengalokasikan capex hingga Rp 2,8 triliun tahun ini, atau naik 118,6% dari realisasi tahun lalu Rp 1,18 triliun. Sebelumnya,

Direktur Utama Timah M. Riza Pahlevi Tabrani mengatakan, perseroan berencana membangun fasilitas pemisahan mineral tanah jarang di Tanjung Ular, Bank Barat. Perseroan telah melakukan pilot project mineral tanah jarang yang dipandang memiliki nilai ekonomis yang lebih tinggi dibanding Timah. Nilainya diperkirakan tiga hingga empat kali lipat dibanding logam timah.

“Mineral tanah jarang ini dapat menjadi komposisi produksi magnet atau industri strategis lainnya, seperti indutri kesehatan. Kita coba kembangkan tahun ini,” kata Riza, belum lama ini.

Ekspansi lain yang terus dikembangkan perseroan adalah eksplorasi tambang timah di Nigeria. Tahun lalu, perseroan membentuk perusahaan patungan (joint venture/JV) dengan Topwide Ventures Ltd. Kepemilikan saham keduanya seimbang yakni masing-masing 50%.  Pendirian JV tersebut merupakan tindak lanjut dari penandatanganan akad kerja sama pada Agustus 2017 mengenai rencana eksploitasi timah di Nigeria.

Setelah pembuatan JV, perseroan dan Topwide pun melakukan studi kelayakan yang disusun bersama konsultan PwC. Dari hasil studi kelayakan tersebut ada peluang untuk membangun fasilitas pengolahan smelter atau aktivitas usaha lainnya. Selain itu, perseroan uga menjajaki ekspansi di Myanmar.

Tahun ini, Timah mematok target produksi bijih timah sebanyak 38.600 ton. Dengan adanya peningkatan produksi ini, persroan membidik laba  bersih sebesar Rp 1,2 triliun pada 2019.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA