Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Karyawan melintas di main hall Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Karyawan melintas di main hall Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Tingkatkan Transaksi ETF, BEI Ubah Regulasi 'Maximum Price Movement'

Rabu, 11 November 2020 | 07:02 WIB
Nabil Al Faruq (nabil.alfaruq@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id — Bursa Efek Indonesia (BEI) menetapkan regulasi baru soal penyesuaian maximum price movement dalam perdagangan exchange traded fund (ETF). Hal ini bertujuan untuk meningkatkan transaksi ETF di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Direktur Pengembangan BEI Hasan Fawzi mengatakan, bursa secara resmi telah memberlakukan peraturan baru, yakni nomor II-C tentang perdagangan unit penyertaan reksa dana berbentuk kontrak investasi kolektif (KIK), dalam hal ini adalah ETF.

Regulasi ini mengatur penyesuaian maximum price movement untuk memenuhi kebutuhan para pelaku pasar. Sebelumnya, maximum price movement perdagangan ETF ditetapkan sebanyak 10 tick atau 10 kali fraksi harga ETF. Namun ketentuan baru ini tidak lagi ada pembatasan.

“Dengan adanya regulasi tersebut, kami berharap baik investor maupun dealer partisipan ETF melihat ini sebagai bagian dari relaksasi untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas dalam perdagangan,” ujar Hasan dalam webinar Penyesuaian Maximum Price Movement Perdagangan ETF, Selasa (10/11).

Regulasi tersebut juga diharapkan lebih memudahkan dealer partisipan ETF untuk memberikan kuotasi ETF sesuai dengan volatilitas pasar dan spread yang diperlukan. Dengan adanya inovasi ini, perdagangan ETF akan semakin likuid dan lebih banyak transaksi di pasar sekunder.

Sebagai informasi, maximum price movement adalah semacam batasan atau limit harga dalam melakukan kuotasi. Dalam saham, ada yang namanya auto rejection. Sebagai contoh, saham di atas harga Rp 5.000 auto rejection di 20%. Jika harga sahamya Rp 10.000, auto rejection di harga Rp 12.000. Jadi satu hari pergerakannya maksimal sampai Rp 12.000.

“Walaupun angka awalnya Rp 10.000, investor tidak bisa satu kali kuotasi langsung ke harga Rp 12.000, karena akan terhalang maximum price movement,” ujar Divisi Pengembangan Bisnis BEI Ignatius Denny Wicaksono.

Sebelum naik ke harga Rp 12.000, harus ada kuotasi jual terlebih dahulu dari harga Rp 10.000, Rp 10.250, dan Rp 10.500, serta seterusnya hingga di harga Rp 12.000.

Selain melakukan penyesuaian maximum price movement, BEI juga secara aktif melakukan sosialisasi serta edukasi kepada masyarakat dan investor di seluruh Indonesia. Hal ini bertujuan agar masyarakat dan investor dapat bertransaksi ETF dengan didasari value yang ditawarkan oleh perdagangan ETF, yaitu efisien, transparan dan fleksibel.

Perdagangan ETF bersifat efisien karena dapat ditransaksikan di pasar primer maupun pasar sekunder BEI, dengan portofolio yang terdiversifikasi dan penyelesaiannya sama dengan Saham (T+2). Isi Portofolio ETF yang selalu diumumkan pada Website BEI meningkatkan transparansi perdagangan dan konstituen ETF.

Untuk diketahui, perdagangan ETF berkembang cukup signifikan sejak tahun 2017 sampai dengan saat ini. Hal ini ditandai oleh 45 ETF yang telah tercatat di BEI sampai dengan Oktober 2020 dan Asset Under Management (AUM) ETF yang mencapai Rp 13,3 triliun. Saat ini, tercatat perdagangan ETF sudah menarik minat 22 Manajer Investasi (MI) dan 7 Anggota Bursa yang terdaftar sebagai Dealer Partisipan.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN