Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG). Foto: Dok Investor Daily.

PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG). Foto: Dok Investor Daily.

KUARTAL III, CETAK PENDAPATAN RP 3,46 TRILIUN

Tower Bersama Incar Menara XL

Farid Firdaus, Rabu, 13 November 2019 | 19:15 WIB

JAKARTA, investor.id – PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) berminat untuk ikut lelang 3.300 menara telekomunikasi yang digelar oleh PT XL Axiata Tbk (EXCL). Perseroan masih memiliki ruang pembiayaan yang cukup untuk mengakuisisi menara.

Per 30 September 2019, jika pinjaman dalam dolar Amerika Serikat (AS) yang telah dilindung nilai diukur dengan menggunakan kurs lindung nilainya, total pinjaman Tower Bersama sebesar Rp 21,12 triliun. Sementara, total pinjaman senior sebesar Rp 13,18 triliun.

Dengan saldo kas yang mencapai Rp 333 miliar, maka total pinjaman bersih perseroan menjadi Rp 20,78 triliun dan total pinjaman senior bersih menjadi Rp 12,85 triliun. Adapun dengan menggunakan EBITDA kuartal III-2019 yang disetahunkan, maka rasio pinjaman senior bersih terhadap EBITDA sebesar 3,2 kali dan total pinjaman bersih terhadap EBITDA sebesar 5,1 kali.

Direktur Keuangan Tower Bersama Infrastructure Helmy Yusman Santoso mengatakan, perseroan memiliki ruang yang cukup untuk pinjaman berdasarkan pembatasan keuangan. Untuk pinjaman bank, rasio yang dipenuhi adalah tidak melebihi 5 kali untuk rasio pinjaman senior terhadap EBITDA bulan terakhir yang disetahunkan. Sedangkan untuk obligasi, pemenuhan rasio tidak boleh melebihi 6,25 kali untuk rasio total pinjaman terhadap EBITDA kuartal terakhir yang disetahunkan.

“Kami berminat untuk partisipasi lelangnya XL. Perseroan pun memiliki rekam jejak yang terbukti berhasil mengakses berbagai sumber pendanaan,” jelas Helmy kepada Investor Daily di Jakarta, Rabu (13/11).

Pada awal Juli 2019, perseroan membayar lebih cepat sepenuhnya pinjaman berjangka dan menggantinya dengan fasilitas revolving baru sebesar US$ 375 juta. Pinjaman itu berjangka waktu 5,5 tahun bullet dan penurunan biaya bunga sebesar 25 bps.

Menurut Helmy, hal ini telah memperpanjang jangka waktu rata-rata struktur utang Tower Bersama dengan tingkat bunga yang sangat kompetitif. Perseroan terus mematuhi strategi konservatif untuk melindung nilai seluruh utang.

Hingga kuartal III-2019, Tower Bersama berhasil mencatat pendapatan dan EBITDA masing-masing sebesar Rp 3,46 triliun dan Rp 2,95 triliun. Jika pencapaian kuartal III ini disetahunkan, maka total pendapatan dan EBITDA perseroan mencapai Rp 4,76 triliun dan Rp 4,06 triliun.

Per 30 September 2019, perseroan tercatat memiliki 27.789 penyewaan dan 15.485 site telekomunikasi. Site telekomunikasi milik perseroan terdiri atas 15.396 menara telekomunikasi dan 89 jaringan distributed antenna system (DAS). Dengan total penyewaan pada menara telekomunikasi sebanyak 27.700, maka rasio kolokasi perseroan menjadi 1,8.

CEO Tower Bersama Infrastructure Hardi Wijaya Liong mengatakan, perseroan mencapai pertumbuhan penyewaan organik tercepat yang pernah ada. Perseroan menambahkan 1.342 penyewaan kotor yang terdiri atas 196 site telekomunikasi dan 1.146 kolokasi.

“Hal ini membuat penambahan organik kotor sebanyak 2.578 penyewaan selama Januari-September 2019. Kami berharap untuk melebihi target sepanjang 2019 yang sebanyak 3.000 penyewaan,” jelas dia.

Hardi menambahkan, pelanggan telekomunikasi perseroan terus melakukan densifikasi jaringan di seluruh negeri. Langkah tersebut menyebabkan peningkatan yang cukup tajam untuk order kolokasi perseroan, yakni menjadi 1,8 per September 2019 dari 1,69 per akhir 2018.

Sebagai informasi, pemegang saham Tower Bersama telah menyetujui pemecahan nilai nominal saham atau stock split dengan rasio 1:5, yang merubah nominal saham dari Rp 100 per saham menjadi Rp 20 per saham.

Sesuai rencana, jumlah saham beredar perseroan akan berubah dari 4,53 miliar saham menjadi 22,65 miliar saham. Perseroan telah menerima persetujuan dari Bursa Efek Indonesia (BEI), dan hari pertama perdagangan saham dengan nilai nominal baru Rp 20 per saham adalah 14 November 2019.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA