Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG). Foto: Perseroan.

PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG). Foto: Perseroan.

Tower Bersama Rancang PUB Obligasi Hingga Rp 7 Triliun

Farid Firdaus, Selasa, 28 April 2020 | 21:12 WIB

JAKARTA, investor.id – PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) tengah menyiapkan rencana penawaran umum berkelanjutan (PUB) IV obligasi dengan total plafon sebesar Rp 5-7 triliun. Sesuai rencana, perseroan akan melangsungkan penerbitan tahap pertama pada Agustus 2020.

Sekretaris Perusahaan Tower Bersama Infrastructure Helmy Yusman Santoso mengatakan, saat ini perseroan masih berdiskusi dengan para penjamin emisi (underwriter) yang terdiri atas PT CGS-CIMB Sekuritas Indonesia, PT DBS Vickers Sekuritas Indonesia, dan PT Indo Premier Sekuritas. Alhasil, perseroan belum dapat menyampaikan detail target emisi.

“Secara total target emisi bisa sekitar Rp 5-7 triliun selama periode penerbitan dua tahun. Tapi untuk target emisi tahap pertama masih dihitung karena melihat kebutuhan dana ke depan,” kata Helmy kepada Investor Daily, Selasa (28/4).

Dia menegaskan, secara umum, perseroan akan menggunakan dana dari hasil penerbitan obligasi untuk kebutuhan pelunasan kembali (refinancing) utang. Pihaknya berharap minat investor dalam menyerap surat utang bisa lebih maksimal setelah kuartal II-2020, seiring dengan prediksi meredanya wabah Covid-19. Perseroan menargetkan bisa mengantongi surat efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terkait rencana PUB IV selambat-lambatnya pada 31 Agustus 2020.

Seperti diketahui, Tower Bersama memilih untuk menghentikan program PUB III pada 24 April 2020. Sebelumnya, PUB tersebut telah efektif sejak 28 Juni 2018 dengan target emisi hingga Rp 7 triliun.

Perseroan telah menggalang dana sekitar Rp 3,48 triliun melalui penerbitan tahap I hingga tahap IV. Sisa target dana yang dihimpun dari PUB III sebesar Rp 3,51 triliun. Alasan penghentian PUB III tersebut dikarenakan waktu yang tersisa untuk menghimpun dana berdasarkan PUB III ini sudah tidak cukup.

Menurut Helmy, saat ini perseroan sebenarnya memiliki kas operasional serta pinjaman yang cukup untuk kebutuhan ekspansi ataupun refinancing utang. Perseroan tercatat melakukan penyesuaian dalam penarikan fasilitas pinjaman.

Pada 16 Maret 2020, anak usaha perseroan melakukan penyesuaian nilai fasilitas pinjaman yang tergabung dalam sindikasi senilai US$ 1 miliar. Amendemen nilai fasilitas pinjaman tersebut adalah untuk pinjaman revolving seri B dari US$ 300 juta menjadi US$ 100 juta.

Target 2020

Tahun ini, Tower Bersama menargetkan mampu menghasilkan pendapatan setidaknya Rp 4,91 triliun atau tumbuh 4,7% dibanding realisasi pendapatan 2019 sebesar Rp 4,69 triliun. Sedangkan EBITDA diharapkan minimal mencapai Rp 4,21 triliun atau naik 5% dari realisasi 2019 sebesar Rp 4,01 triliun.

Menurut Helmy, selama operator telekomunikasi tidak menahan ekspansi dalam menambah kapasitas jaringan, maka perseroan juga tidak melakukan revisi target maupun ekspansi 2020. Sepanjang tahun ini, perseroan menargetkan penambahan 3.000 penyewa baru dengan alokasi belanja modal Rp 1,5-2 triliun.

“Bisnis menara itu juga sifatnya jangka panjang, karena perjanjian sewa menara Tower Bersama itu berdurasi 10 tahun. Hingga kuartal I-2020, masih ada pesanan yang kuat untuk kolokasi dan pembangunan menara baru,” jelas dia.

Tahun lalu, Tower Bersama mencatatkan kenaikan pendapatan laba bersih sebesar 20,4% dibanding tahun 2018. Hal ini juga didorong oleh kenaikan pendapatan sebesar 8,8%.

Perseroan memiliki pendapatan yang terkontrak sebesar Rp25,4 triliun pada akhir 2019, yang setara dengan 5,2 kali dari pendapatan yang disetahunkan. Selama 2020, perseroan bersiap melunasi obligasi rupiah sebesar Rp 2,15 triliun dengan menggunakan arus kas operasional serta fasilitas kredit revolving.

Per 31 Desember 2019, jika pinjaman dolar AS diukur dengan menggunakan kurs lindung nilainya, maka total pinjaman bersih perseroan adalah sebesar Rp 21,26 triliun dan total pinjaman senior bersih Rp 13,94 triliun.

Dengan menggunakan EBITDA kuartal IV-2019 yang disetahunkan, rasio pinjaman senior bersih perseroan terhadap EBITDA adalah 3,3 kali, dan rasio pinjaman bersih terhadap EBITDA adalah 5,0 kali.

Dari sisi operasional, perseroan telah memiliki 28.740 penyewa dan 15.589 sites telekomunikasi hingga akhir 2019. Sites telekomunikasi Perseroan terdiri dari 15.473 menara telekomunikasi dan 116 jaringan DAS. Dengan total penyewaan pada menara telekomunikasi sebanyak 28.624, maka rasio kolokasi perseroan menjadi 1,85.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN