Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Teknisi merawat BTS XL Axiata. (IST)

Teknisi merawat BTS XL Axiata. (IST)

Tower Bersama, Sarana Menara, dan Centratama Bersaing untuk Akuisisi Menara XL

Farid Firdaus, Senin, 6 Januari 2020 | 20:41 WIB

JAKARTA, investor.id – Tiga emiten melanjutkan persaingannya dalam tender penjualan 3.200-3.300 menara telekomunikasi milik PT XL Axiata Tbk (EXCL). Tiga emiten tersebut adalah PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG), PT Centratama Telekomunikasi Indonesia Tbk (CENT), dan PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR).

Direktur Keuangan XL Axiata Mohamed Adlan mengatakan, saat ini proses tender masih berlangsung dan menarik partisipasi sejumlah perusahaan besar. Namun, dia tidak menjelaskan detail nilai penawaran dari para perusahaan tersebut. “Kami berharap transaksi penjualan menara bisa dilakukan pada akhir kuartal I-2020,” jelas dia kepada Investor Daily di Jakarta, Senin (6/1).

Secara terpisah, Sekretaris Perusahaan Centratama Telekomunikasi Indonesia Wiwik Septriandewi menegaskan, pihaknya belum bisa secara rinci mengungkapkan strategi dalam tender menara XL lantaran terikat non-disclosure agreement. Menurutnya, perseroan selalu mempertimbangkan ekspansi, baik secara organik maupun anorganik.

Sebelumnya, Direktur Keuangan Tower Bersama Infrastructure Helmy Yusman Santo mengatakan, perseroan tidak hanya berminat mengakuisisi sebagian menara, melainkan seluruh menara yang dilelang oleh XL. Terkait pendanaan akuisisi, perseroan memiliki rekam jejak yang terbukti berhasil dalam mengakses berbagai sumber pendanaan.

Sedangkan Wakil Direktur Utama Sarana Menara Nusantara Adam Ghifari menyatakan, perseroan menimbang sejumlah strategi pada 2020, termasuk berpartisipasi dalam lelang menara XL. “Kalau memang lelang XL terus bergulir, kami berminat,” jelasnya.

Pada November 2019, Sarana Menara melalui anak usahanya, PT Profesional Telekomunikasi Indonesia (Protelindo), telah menuntaskan pembelian 1.000 menara PT Indosat Tbk (ISAT) dengan nilai transaksi Rp 1,95 triliun.

Satu bulan kemudian, PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) melalui anak usahanya PT Dayamitra Telekomunikasi (Mitratel) juga menyelesaikan akuisisi 2.100 menara Indosat senilai Rp 4,44 triliun. Aksi korporasi yang dilakukan Telkom Group ini merupakan salah satu strategi bisnis untuk meningkatkan kapabilitas dari sisi aspek infrastruktur telekomunikasi.

Namun, berbeda dengan Sarana Menara, Telkom tak buru-buru dalam  melihat peluang akuisisi menara XL. “Sampai saat ini, kita belum memutuskan akan ikut atau tidak,” kata Direktur Keuangan Telkom Harry M Zen.

Potensi Nilai Transaksi

Seperti diketahui, XL resmi membuka proses lelang menara telekomunikasinya sejak 5 November 2019.  Rencana transaksi ini diperkirakan berpotensi sebagai transaksi material. Hal ini berarti nilai transaksinya lebih dari 20% ekuitas perseroan. Tercatat, total ekuitas perseroan mencapai Rp 18,89 triliun per 30 September 2019. Dengan demikian, nilai penjualan menara ini berpotensi mencapai lebih dari Rp 3,8 triliun.

Sebelumnya, Adlan pernah menyatakan, perseroan semula memiliki aset 4.500 menara yang masuk dalam kelompok aset strategis. Disebut strategis lantaran perseroan cukup bergantung pada menara dalam rancangan jaringan telekomunikasinya. Namun, seiring berjalan waktu, kini ketergantungan tersebut telah berkurang karena arsitektur jaringan XL lebih terdistribusi.

Jika XL berhasil mengeksekusi aksi ini, maka penjualan kali ini bakal menjadi yang ketiga kalinya, setelah perseroan berhasil melepas total 6.000 menara pada 2014 dan 2016.

XL Axiata tercatat berhasil melakukan transaksi penjualan 3.500 menara melalui proses lelang seharga Rp 5,6 triliun kepada PT Solusi Tunas Pratama Tbk (SUPR) pada 2014. Selanjutnya, perseroan mengantongi Rp 3,56 triliun dari hasil penjualan 2.500 menara kepada Protelindo pada 2016.

Lembaga pemeringkat internasional, Fitch Ratings sebelumnya menyatakan, meningkatnya persaingan di pasar mobile Indonesia menyebabkan perlambatan pertumbuhan pendapatan emiten di kuartal III-2019. Namun fokus emiten telekomunikasi yang lebih menitikberatkan profitabilitas cenderung mendorong monetisasi data.

Fitch memprediksi, akan ada arus kas negatif bagi perusahaan telekomunikasi, yang dipicu oleh besarnya belanja modal (capital expenditure/capex). Selain itu, pemerintah juga berencana melakukan lelang blok pada pita frekuensi 2.300 MHz di masa mendatang.

Menurut Fitch, intensitas rata-rata capex perusahaan telekomunikasi pada 2020 kemungkinan akan tetap sebesar 28%. Hal ini bakal didorong oleh ekspansi jaringan di luar pulau Jawa dan infrastruktur fiber optic.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN