Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG). Foto: Perseroan.

PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG). Foto: Perseroan.

Tower Bersama Tuntaskan Akuisisi Menara Telekomunikasi Rp 3,97 Triliun

Jumat, 9 April 2021 | 22:30 WIB
Farid Firdaus (farid.firdaus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) melalui anak usahanya, PT Tower Bersama, menyelesaikan pembelian 3.000 menara telekomunikasi milik PT Inti Bangun Sejahtera Tbk (IBST) senilai Rp 3,97 triliun atau setara US$ 280 juta. Sumber dana berasal dari kas internal dan pinjaman bank.

CEO Tower Bersama Infrastructure Hardi Wijaya Liong mengatakan, pembelian ini meningkatkan pendapatan dan EBITDA tambahan untuk bisnis perseroan. “Kami terus fokus untuk memberikan kinerja keuangan dan operasional yang kuat dan akuisisi portofolio menara berkualitas tinggi melengkapi strategi pertumbuhan organik kami,” kata dia dalam keterangan tertulis, Jumat (9/4).

Per 30 September 2020, Tower Bersama memiliki 31.703 penyewaan dan 16.215 site telekomunikasi. Site telekomunikasi milik perseroan terdiri atas 16.093 menara telekomunikasi dan 122 jaringan DAS. Dengan angka total penyewaan pada menara telekomunikasi sebanyak 31.581, maka rasio kolokasi perseroan menjadi 1,96.

Penyelesaian transaksi pembeliaan menara Inti Bangun membuat total portofolio Tower Bersama bertambah menjadi 19.215 menara telekomunikasi. Sebelumnya lembaga pemeringkat Fitch Ratings memprediksi, rasio dana operasi (funds from operation/FFO) terhadap utang bersih Tower Bersama akan tetap sekitar 5,0 kali hingga 2021. Posisi tersebut di bawah ambang sensitivitas negatif 5,5 kali.

“Kami memperkirakan akuisisi menara ini akan menambah pendapatan Tower Bersama sekitar US$ 41 juta dan EBITDA sekitar US$ 34 juta per tahun,” tulis Fitch dalam risetnya.

Fitch menilai, profil bisnis Tower Bersama cukup tangguh lantaran didukung visibilitas arus kas yang kuat pada kontrak jangka panjang. Kontrak ini tidak dapat dibatalkan dengan klausul eskalasi. Profil bisnis perseroan juga terus membaik, akibat penambahan tower secara organik dan tingkat penyewaan. Hal ini didorong oleh belanja modal besar para operator telekomunikasi demi memperkuat jaringan 4G.

Bisnis industri menara, lanjut Fitch, memiliki risiko teknologi yang rendah. Profitabilitas yang stabil dan perolehan kas yang kuat membuat perusahaan di sektor menara dibolehkan memiliki batas rasio utang yang lebih tinggi dibanding perusahaan sektor lain.

Dividen

Baru-baru ini, RUPSLB Tower Bersama menyetujui pembagian dividen tunai yang berasal dari saldo laba yang belum ditentukan penggunaannya per 31 Desember 2021. Saat ini, perseroan memiliki saham treasuri sebanyak 1,02 miliar saham. Setelah menyesuaikan jumlah saham treasuri ini, dividen tunai akan sebesar Rp 32 per saham.

Sesuai rencana, dividen tunai ini akan didistribusikan pada 29 April kepada seluruh pemegang saham yang tercatat pada recording date 12 April, sementara cum dividen dijadwalkan 8 April.

Pada awal April ini, Tower Bersama Infrastructure juga menggelar penawaran umum berkelanjutan (PUB) IV tahap IV senilai Rp 970 miliar. Perseroan akan menggunakan dana hasil emisi obligasi itu untuk pembiayaan kembali (refinancing) utang anak usaha.

Obligasi teranyar ini ditawarkan dengan tingkat bunga 5,5% per tahun dan jangka waktu 370 hari. Para penjamin emisi obligasi antara lain PT CIMB Niaga Sekuritas, PT DBS Vickers Sekuritas Indonesia, dan PT Indo Premier Sekuritas. Masa penawaran umum obligasi berlangsung pada 1,5, dan 6 April. Kemudian, distribusi secara elektronik dilakukan pada 9 April dan pencatatan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 12 April.

Sesuai rencana, dana hasil penerbitan obligasi akan dipinjamankan Tower Bersama kepada anak usahanya, PT Solu Sindo Kreasi Pratama (SKP). Selanjutnya, SKP akan melakukan pembayaran sebagian kewajiban keuangan terkait pinjaman revolving dalam perjanjian fasilitas pinjaman US$ 375 juta yang diraih pada 28 Juni 2019.  Utang akan dibayarkan kepada para kreditur melalui UOB Ltd, yang bertindak sebagai agen.

Per 30 September 2020, perseroan dan anak usaha mempunyai total liabilitas yang seluruhnya berjumlah Rp 27,66 triliun. Nilai ini terdiri atas liabilitas jangka pendek Rp 8,64 triliun, dan liabilitas jangka panjang Rp 19,01 triliun.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN