Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
TPS Food (AISA).

TPS Food (AISA).

TPS Food Lepas 32,7% Saham via Private Placement

Ghafur Fadillah, Sabtu, 13 Juli 2019 | 14:00 WIB

JAKARTA, investor.id - PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk (AISA) atau TPS Food berencana menggalang dana melalui skema penawaran umum tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (non-HMETD) atau private placement. Perseroan menawarkan sebanyak-banyaknya 1,56 miliar atau setara dengan 32,77% dari seluruh saham yang telah ditempatkan dan disetor penuh dengan nilai nominal Rp 200 per saham.

TPS Food akan menggunakan dana tersebut untuk memperkuat struktur pemodalan dan keuangan. Perseroan sampai saat ini, masih belum menentukan harga pelaksanaan, dan penentuannya akan mengacu pada peraturan I-A tentang pencatatan saham dan efek bersifat ekuitas selain saham yang dterbitkan oleh perusahaan tercatat.

“Kami akan memperkuat struktur pemodalan dan keuangan yaitu dengan penurunan rasio utang terhadap ekuitas perseroan, dan meningkatkan likuiditas saham. Maka dari itu dengan meningkatnya jumlah saham yang beredar, pemegang saham lama akan berpotensi terkena dilusi kepemilikan sebesar 32,77%,” ungkap manajemen TPS Food dalam publikasinya, Jumat (12/7).

Harga pelaksanaan saham yang baru dikeluarkan tersebut, sekurang-kurangnya sama dengan rata-rata harga penutupan saham perseroan selama kurun waktu 25 hari Bursa berturut-turut di pasar reguler, sebelum iklan pengumuman. Manajemen dalam keterangannya menilai bahwa jika aksi ini dilaksanakan maka akan berdampak positif pada penurunan rasio utang terhadap ekuitas perusahaan (debt to equity ratio/DER) dan memperbaiki likuiditas perusahaan saat ini.

Selain itu peningkatan modal ini juga diperlukan oleh perseroan setelah terlepas dari Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU). Pemegang obligasi dan sukuk milik TPS Food menyetujui perusahaan untuk melakukan penjualan atas aset-aset jaminan dari PT Jatisari Srirejeki, setelah anak usaha TPS Food tersebut diputus pailit oleh Pengadilan Niaga Semarang 6 Mei lalu.

Keputusan ini ditetapkan dalam Rapat Umum Pemegang Obligasi (RUPO) dan Rapat Umum Pemegang Sukuk Ijarah (RUPSI) pada 17 Juni lalu. Aset milik Jatisari dijadikan jaminan atas penerbitan obligasi dan sukuk.

Sebagai informasi, BEI memberikan suspensi di seluruh pasar terhadap saham AISA sejak 5 Juli 2018. Pada 1 Juli 2019, BEI memperpanjang suspensi terhadap saham AISA karena belum menyampaikan laporan keuangan auditan 2018 dan belum melakukan pembayaran denda.

Tetap Dicermati

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) tetap mencermati rencana bisnis PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk (AISA) setelah proses penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU) dua anak usaha perseroan di pengadilan berakhir damai.

Direktur Penilaian BEI Gede Nyoman Yetna pernah mengatakan, setelah PKPU TPS Food ditetapkan berakhir damai, BEI akan mencermati strategi bisnis perseroan di luar bisnis beras. Pasalnya, saat ini bisnis tersebut tak lagi menjadi tulang punggung pendapatan perseroan.

“Kita akan lihat bagaimana Tiga Pilar mengembangkan divisi food-nya seperti apa. Termasuk bagaimana nanti semua entitas anak usaha mereka itu bisa dikonsolidasikan sehingga kegiatan operasinya bisa berjalan optimal,” jelas dia baru-baru ini.

Nyoman menambahkan, pihaknya berharap segala permasalahan yang membelit TPS Food dapat berujung kepada satu penyelesaian. BEI ingin melihat perseroan muncul sebagai perusahaan yang fokus pada strategi food setelah kemungkinan adanya manajemen baru. “Hal-hal seperti itu yang kami lihat karena ini yang akan men-generate pendapatan ke depan dan menjadi backbone perseroan," tambah Nyoman.

Sebagai informasi, mayoritas kreditur menerima proposal perdamaian yang diajukan TPS Foodpada persidangan PKPU entitas anak , PT Putra Taro Paloma dan PT Balaraja Bisco Paloma. Sidang itu digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada 23 Mei 2019.

Ketika itu, berdasarkan perhitungan hasil pemungutan suara sebanyak 13 kreditur konkuren (tanpa jaminan) yang mewakili tagihan senilai Rp 541 miliar memberikan persetujuan atas proposal perdamaian Tiga Pilar. Satu kreditur konkuren menolak proposal perdamaian sementara satu kreditur lagi dinyatakan abstain. Sementara sebanyak 14 kreditur separatis menerima proposal perdamaian yang diajukan Tiga Pilar.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA