Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Salah satu kegiatan di panrik rimah. Foto: dok.

Salah satu kegiatan di panrik rimah. Foto: dok.

Tren Kenaikan Penjualan Timah

Parluhutan Situmorang, Rabu, 17 Juli 2019 | 10:23 WIB

JAKARTA, investor.id - PT Timah Tbk (TINS) menunjukkan tren peningkatan volume penjualan timah rafinasi, setelah pengetatan ekspor timah dari tambang swasta. Kenaikan volume akan berdampak positif terhadap pertumbuhan kinerja keuangan perseroan hingga beberapa tahun mendatang.

Analis Danareksa Sekuritas Stefanus Darmagiri mengungkapkan, tren peningkatan volume penjualan timah olahan oleh Timah telah terlihat sejak awal tahun ini. Peningkatan terbesar mulai terlihat dari data penjualan perseroan pada kuartal II-2019 sebesar 31,3% menjadi 20.248 ton, dibandingkan kuartal I-2019.

Peningkatan tersebut berpotensi menaikkan kinerja keuangan perseroan pada kuartal II-2019, meskipun rata-rata harga jual timah refinasi turun sekitar 5,9%.

Berdasarkan data Departemen Perdagangan bahwa ekspor timah olahan dalam negeri mencapai 7.621 ton pada Juni 2019 atau naik sekitar 12,7% dari bulan sebelumnya dan bertumbuh sekitar 35,9% dari bulan yang sama tahun 2018.

Sedangkan ekspor timah nasional per kuartal II-2019 meningkat menjadi 20.248 ton. Ekspor timah perseroan menunjukkan peningkatan sejak awal tahun 2019 setelah pemerintah menerbitkan penghentian ekspor timah batangan dan bijih timah Indonesia yang diverifikasi oleh PT Surveyor Indonesia akibat adanya pemeriksaan polisi sejak Oktober 2018.

Pelarangan tersebut praktis membuat hampir seluruh ekspor timah rafinasi Indonesia berasal dari Timah.

“Kami memperkirakan ekspor timah nasional akan terus bertumbuh dengan perkiraan lebih besar pada semester II tahun ini, dibandingkan realisasi semester I-2019 sebesar 35.672 ton,” jelas Stefanus dalam risetnya, baru-baru ini.

Stefanus menegaskan, besarnya pertumbuhan kenaikan volume penjualan, dibandingkan penurunan rata-rata harga jual timah rafinasi diharapkan menopang kenaikan keuntungan perseroan pada kuartal II, dibandingkan kuartal I tahun ini. Namun peningkatan volume produksi tersebut juga berimbas terhada kenaikan beban produksi yang bisa berimplikai negatif terhadap margin perseroan.

Terkait perkiraan harga jual timah global, Stefanus menjelaskan, penurunan harga jual sebesar 6,3% menjadi US$ 18.297 per ton baru-baru ini dipengaruhi atas kenaikan suplai timah di LME dan SHFE sebesar 35% menjadi 14.106 ton. Kenaikan suplai ini dipicu atas penurunan permintaan timah dari Tiongkok dan Amerika Serikat (AS).

“Namun dengan adanya pengetatan ekspor timah dari Myanmar dan Rwanda diharapkan berdampak terhadap peningkatan harga jual timah dalam beberapa bulan mendatang. Kami menargetkan rata-rata harga jual timah global tahun 2019 dan 2020 sebesar US$ 20 ribu per ton,” ujarnya. Baca selengkapnya di https://subscribe.investor.id/

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA