Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pegawai Treasury Room OCBC NISP, memantau pergerakan SBN di Jakarta. Foto ilustrasi: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

Pegawai Treasury Room OCBC NISP, memantau pergerakan SBN di Jakarta. Foto ilustrasi: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

YIELD SBN TETAP MENARIK

Tren Return Portofolio Menurun

Selasa, 22 September 2020 | 13:13 WIB
Thereis Kalla dan Gita Rossiana

JAKARTA, investor.id – Kebijakan moneter super longgar dan injeksi likuiditas yang berlimpah di Negara maju membanjiri likuiditas di emerging markets untuk berburu instrumen keuangan dengan imbal hasil menarik. Likuiditas yang berlimpah telah mendorong penurunan yield Surat Berharga Negara (SBN).

Apalagi likuiditas di perbankan nasional juga berlimpah sementara permintaan kredit lemah, membuat bank berburu SBN sehingga memicu penurunan yield. Meski demikian, yield SBN tetap menarik di mata investor, karena relatif lebih tinggi dibanding sejumlah Negara emerging markets lainnya.

Meski asing sempat keluar dari SBN beberpa waktu lalu, mereka akan segera kembali ke pasar SBN, menunggu momentum yang tepat. Tren return portofolio yang menurun juga terjadi di reksa dana, khususnya reksa dana saham yang cenderung negatif hingga akhir tahun.

Head of Economy Research Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Fikri C Permana
Head of Economy Research Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Fikri C Permana

Head of Economy Research Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Fikri C Permana mengatakan, imbal hasil atau yield Surat Berharga Negara (SBN) cenderung menurun. Penyebabnya bersumber dari sentiment domestik maupun global.

Dari domestik, tren suku bunga rendah Bank Indonesia (BI) membuat yield dalam level yang rendah

Selain itu, burden sharing antara BI dan pemerintah membuat permintaan terhadap SBN tetap terjaga dan biaya enerbitan pun menjadi lebih rendah. Kemudian, tren inflasi rendah turut membuat biaya perekonomian  secara keseluruhan menjadi lebih rendah, sehingga real return SBN tetap terjaga.

Dari global, suku bunga masih dalam tren ultra loose monetary policy, terutama di negara maju, sehingga mendorong imbal hasil obligasi berada dalam tren menurun.

Tri Winarno
Tri Winarno

Pengamat ekonomi Tri Winarno menegaskan, dampak pemangkasan suku bunga dan injeksi likuiditas yang berlimpah di negara maju telah membanjiri likuiditas di emerging markets sebagai akibat dari perburuan yield global. Aliran modal berbalik lagi ke emerging markets untuk diinvestasikan ke utang pemerintah.

Saat ini bank sentral di emerging markets memiliki ruang maneuver yang longgar, selama kebijakan moneter longgar di negara maju masih berlangsung. Bank sentral di negara maju tidak akan keluar dari kebijakan QE, bahkan tatkala pertumbuhan dan penyerapan tenaga kerja telah pulih.

Maka, dapat dipastikan bank sentral di emerging markets masih akan menikmati limpahan kebijakan moneter dari negara maju dalam waktu yang cukup lama. Karena itu, saat ini tekanan inflasi dan tekanan nilai tukar tidak akan menjadi isu lagi di negara emerging markets.

Lebih lanjut, Fikri memperkirakan yield  dari SBN masih berpotensi akan semakin rendah menuju ke level 6%-6,5% hingga akhir tahun nanti. Hal tersebut disebabkan oleh kebijakan BI yang diprediksi bakal kembali menurunkan BI 7-Day Reverse Repo Rate di samping pandangan dovish The Fed dan negara-negara maju.

“Dibanding dua negara peers (setara), Filipina atau India, dengan perbandingan horizon waktu sebelum Covid atau pada akhir 2019 dan kondisi saat ini, kondisi yield SBN Indonesia cenderung stabil, sementara Filipina dan India sudah menurun,” ujar Fikri.

Menurut Fikri, dengan rendahnya yield biaya dana atau ongkos suatu negara bisa lebih rendah. Sebab, SBN menjadi acuan bagi semua instrument  pendanaan di suatu negara, karena dipandang sebagai aset yang bebas risiko.

Di sisi lain, Fikri mengatakan, likuiditas investor domestik dan BI masih sangat baik, sehingga banjir emisi SBN diharapkan masih akan diserap oleh pasar.

Burden sharing BI dengan pemerintah membuat penerbitan SBN pemerintah terjaga permintaannya,” ujarnya.

Yield SBN bertenor 10 tahun posisi 21 September tercatat sebesar 6,88%. Yield tersebut relatif lebih tinggi dibanding negara kompetitor, seperti Filipina yang hanya 3,14%, Malaysia 2,71%, dan Tiongkok 3,1%.

(Lihat tabel)

Perbandingan yield obligasi, suku buga acuan, dan yield obligasi pemerintah
Perbandingan yield obligasi, suku buga acuan, dan yield obligasi pemerintah

Sementara, untuk membiayai defisit APBN tahun ini sebesar Rp 1.039 triliun, pemerintah menerbitkan SBN netto sebesar Rp 1.173,1 triliun.

Secara terpisah, Associate Director of Research and Investment PT Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan, yield SBN tenor 10 tahun masih berpotensi mengalami penurunan hingga ke level 6,7% sampai dengan akhir tahun.

Associate Director
of Research and Investment
PT Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus
Associate Director of Research and Investment PT Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus

Senada dengan Fikri, Nico memproyeksikan, BI akan kembali menurunkan suku bunga acuannya sebesar 25 bps.

“Selain memang suku bunga The Fed mendekati 0%, kita punya ruang yang lebih lega, jarak inflasi yang lebih lebar,” kata Nico.

Menurut Nico, imbal hasil SBN Indonesia masih terbilang menarik, hal tersebut karena fundamental ekonomi Indonesia masih terukur.

Kinerja indeks utama beberapa negara
Kinerja indeks utama beberapa negara

Dia memprediksi, kondisi ekonomi Indonesia akan pulih lebih cepat pada tahun depan, jika penyebaran Covid-19 dapat dikendalikan oleh pemerintah. Nico mengatakan, imbal hasil yang rendah berpotensi mendorong penerbitan obligasi korporasi, karena dapat menawarkan kupon yang lebih rendah.

“Untuk perusahaan yang tidak terlalu dampak Covid-19, ini akan menjadi kesempatan untuk mencari pendanaan dengan harga murah, namun kalau yang terdampak besar akan berpikir lagi,” katanya.

Associate Director Fixed Income PT Anugerah Sekuritas Indonesia Ramdhan Ario Maruto mengatakan, imbal hasil SBN cenderung turun, meski suplai SBN melimpah di pasar. Dia memprediksi, yield SBN untuk tenor 10 tahun akan mencapai 6,7-6,9% pada akhir tahun.

“Pengaruh arus modal asing (capital outflow) yang menyebabkan pergerakan yield SBN, mereka mencari timing yang tepat untuk masuk ke Indonesia,” kata dia.

Associate Director Fixed Income PT Anugerah Sekuritas Indonesia Ramdhan Ario Maruto
Associate Director Fixed Income PT Anugerah Sekuritas Indonesia Ramdhan Ario Maruto

Ramdhan menjelaskan, selain faktor capital outflow yang cukup tinggi hingga mencapai sekitar Rp 125 triliun sejak awal pandemic Covid-19, ada beberapa faktor lain yang menyebabkan pergerakan SBN.

Dia mengungkapkan, dengan adanya relaksasi giro wajib minimum (GWM) dari Bank Indonesia, perbankan mencari instrumen yang tepat untuk mengalirkan likuiditas mereka. Pasalnya, likuiditas tersebut tidak bisa disalurkan ke kredit karena permintaan menurun di tengah pandemi Covid-19.

“Instrumen paling aman untuk mengalirkan likuiditas selain sertifikat Bank Indonesia, tentunya adalah SBN karena yield masih menarik,” kata dia.

Ditambah pula beberapa investor institusi lain seperti manajer investasi dan dana pensiun juga banyak menempatkan investasi di SBN. Faktor dari investor domestik ini menurunkan yield SBN, meskipun capital outflow masih tinggi.

Ramdhan melanjutkan, yield yang rendah tersebut tentunya berdampak positif terhadap obligasi korporasi. Hal ini dikarenakan kupon obligasi juga akan menurun. Namun, emiten tidak secara langsung memanfaatkan momentum ini untuk menerbitkan obligasi korporasi.

Kinerja reksa dana Indonesia
Kinerja reksa dana Indonesia

Terkait suplai SBN yang melimpah di pasar, hal ini bisa menjadi beban biaya bagi pemerintah. Apalagi investor asing masih berhati-hati untuk masuk ke SBN.

Namun Ramdhan masih optimistis, perbankan bisa menyerap suplai SBN yang melimpah tersebut. Lagipula ada kebijakan burden sharing yang membuat Bank Indonesia menjadi opsi terakhir apabila SBN tidak terserap sepenuhnya.

Secara terpisah, Head of Investment PT Avrist Asset Management Farash Farich mengatakan, yield SBN memang cenderung akan turun dengan ekspektasi di angka 6,5-6,75% untuk tenor 10 tahun. Asumsi ini ditetapkan dengan memperhatikan spread terhadap US Treasury Bonds.

Head of Investment PT Avrist Asset Management Farash Farich
Head of Investment PT Avrist Asset Management Farash Farich

“Dengan asumsi spread 550 bps dari US Treasury Bonds, maka yield SBN 10 tahun ada di angka 6,5-6,75%,” papar dia.

Senada dengan Ramdhan, Farash juga menilai suplai SBN yang melimpah di pasar tidak membuat yield SBN naik. Pasalnya, adanya pelonggaran GWM yang menyebabkan perbankan memiliki likuiditas yang tinggi, namun fungsi intermediasi terhambat.

Dibandingkan negara lain, yield SBN Indonesia masih cukup tinggi, kendati tingkat inflasi Indonesia berada di angka 2%.

“Dari segi valuasi, sebenarnya yield SBN masih undervalued. Sederhananya kalau US Treasury Bonds di sekitar 1%, maka yield SBN bisa di angka 6,5%,” terang dia.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN