Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Direktur Utama PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (Mitratel) Theodorus Ardi Hartoko menerima Sertifikat pencatatan saham dari Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Inarno Djajadi saat pencatatan perdana saham Mitratel, di Jakarta, Senin (22/11/2021). Foto: BeritaSatu Photo/Humas BEI

Direktur Utama PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (Mitratel) Theodorus Ardi Hartoko menerima Sertifikat pencatatan saham dari Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Inarno Djajadi saat pencatatan perdana saham Mitratel, di Jakarta, Senin (22/11/2021). Foto: BeritaSatu Photo/Humas BEI

Turun Sementara, Saham Mitratel Siap Tancap Gas!

Senin, 22 November 2021 | 19:28 WIB
Muawwan Daelami (muawwan@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Saham PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau Mitratel ditutup melemah Rp 35 (4,38%) ke level Rp 765 atau di bawah harga perdana Rp 800 per saham pada perdagangan Senin (22/11). 

Berdasarkan data RTI, harga saham MTEL dibuka di posisi Rp 850. Level tertinggi MTEL mencapai Rp 890 dan terendahnya Rp 765. Sementara, volume perdagangan MTEL mencapai 1,38 miliar saham dengan total transaksi Rp 1,09 triliun. 

Kemudian, price to earning ratio (PER) anak usaha PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) ini sebesar 2,86 kali dengan kapitalisasi pasar Rp 63,89 triliun. Hingga penutupan, investor asing mencatatkan transaksi jual bersih (net sell) saham MTEL di semua pasar sebesar Rp 173,86 miliar. 

Melihat harga saham MTEL yang ditutup memerah, analis Henan Putihrai Steven Gunawan menilai hal tersebut terjadi lantaran secara valuasi (penilaian pasar), enterprise value/EBITDA Mitratel sebesar 13,3 kali, relatif sama dengan PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) yang 12,8 kali. Namun, dengan tingkat margin yang masih lebih inferior dibandingkan TOWR.

"Ada baiknya EV/EBITDA MTEL di bawah TOWR seharusnya. Tapi, itu kan tidak terjadi. Makanya, di hari perdana pencatatan di bursa, MTEL langsung terjerembab," jelas Steven kepada Investor Daily, Senin (22/11). 

Sebab itu, lanjut Steven, jika EV/EBITDA Mitratel di bawah TOWR, maka harga perdana masih berpeluang lebih diapresiasi pelaku pasar. Dengan begitu, ekspektasi pelaku pasar terhadap EV/EBITDA Mitratel pun akan lebih atraktif. "Saham kalau undervalued, hari pertama biasanya naik," jelas dia.

Meski demikian, EV/EBITDA Mitratel yang sama dengan TOWR tersebut tidak menjadi masalah sepanjang return on equity (ROE) juga berada di kisaran TOWR sebesar 26%. Sayangnya, ROE MTEL hanya 12%.

Menurut Steven, EV/EBITDA Mitratel yang nyaris sama dengan TOWR di kisaran 13 kali ini telah membuat harganya tidak atraktif. Mestinya, harga IPO dilepas di bawah TOWR, sehingga di mata para pelaku pasar akan lebih atraktif. "Dengan ROE lebih kecil daripada ROE TOWR, kenapa EV/EBITDA MTEL dibikin sama dengan EV/EBITDA TOWR?" ujarnya. 

Steven mencermati, pelemahan harga saham MTEL ini sebatas efek jangka pendek dari para pelaku pasar. Sebab, secara fundamental MTEL bagus. Ditambah, perusahaan menara telekomunikasi ini juga akan menggunakan dana hasil IPO untuk ekspansi usaha. "Ini short term effect saja yang merah di hari pertama," terang Steven. 

Mitratel termasuk perusahaan telko-infrastruktur yang secara sentimen sektoral/industri masih prospektif ke depannya. Jika terjadi fluktuasi atas pergerakan harga sahamnya semisal muncul sentimen-sentimen, hal itu lebih pada sudut pandang teknis pelaku pasar. "Kalau saya hitung sederhana pakai valuasi relatif, malah MTEL dapat target harga saham Rp 1.300 untuk 12 bulan ke depan. Tapi masih cukup lama," ujarnya.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN