Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi digital. Foto: Fancycrave1 (Pixabay)

Ilustrasi digital. Foto: Fancycrave1 (Pixabay)

'Unicorn' Indonesia Kuasai Aliran Dana Investasi di Asia Tenggara

Minggu, 28 Maret 2021 | 21:54 WIB
Farid Firdaus (farid.firdaus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – Perusahaan rintisan (start-up) teknologi di Asia Tenggara tercatat meraup dana investasi hingga US$ 8,2 miliar selama 2020. Hampir 50% dari dana tersebut masuk ke kantong unicorn, antara lain Grab Holdings, Gojek, Bukalapak, dan Traveloka.

Pencapaian itu terungkap dari riset perusahaan modal ventura asal Singapura, Cento Ventures. Penggalangan dana start-up Asia Tenggara pada 2020 mengalami penurunan 3,5% dibanding 2019 sebesar US$ 8,5 miliar, karena dipicu oleh pandemi Covid-19. Kesepakatan lebih dari US$ 100 juta mencapai 57% dari total investasi, sementara kesepakatan antara US$ 50-100 juta mencetak rekor dengan nilai US$ 1,1 miliar, meningkat 26% dari 2019.

Sekalipun terkena efek pandemi, Asia Tenggara mengalami penurunan nilai investasi start-up paling kecil dibanding pasar negara berkembang lainnya, seperti India yang turun 31% dan Afrika anjlok 38%.

“Covid-19 memberikan efek yang berbeda di setiap negara. Start-up di Amerika Serikat dan Eropa mencatatkan rekor investasi baru pada tahun lalu, masing-masing nilai investasi tumbuh 13% dan 15%. Sementara itu, Tiongkok juga mengalami pertumbuhan 6%” tulis laporan Cento, yang dikutip Investor Daily, Minggu (28/3).

Tahun lalu, start-up Indonesia menguasai 70% dari modal yang diinvestasikan di Asia Tenggara. Sementara itu, Indonesia dan Singapura bersama-sama berkontribusi 64% dari total kesepakatan.

Besarnya investasi di Indonesia didorong oleh kesepakatan yang diraih Gojek. Hal ini juga ditopang oleh start-up lain yang meraih pendanaan lebih dari US$ 100 juta atau disebut mega deals, termasuk Bukalapak, Waresix, Kopi Kenangan, dan Linkaja.

Sebagai informasi, Asia Tenggara merupakan rumah bagi 9 start-up independen dengan 5 anak usaha yang memiliki valuasi di atas US$ 1 miliar. Secara regional, SEA Group, yang merupakan induk dari Shopee, telah menyentuh kapitalisasi pasar sekitar US$ 50 miliar. Adapun perusahaan asal Singapura JustCo resmi bergabung ke daftar unicorn di Asia Tenggara pada akhir tahun lalu.

Berdasarkan data Cento Ventures, SEA Group dan Grab dikelompokkan sebagai perusahaan independen dengan valuasi lebih US$ 10 miliar untuk kawasan regional Asia Tenggara. Gojek masuk kategori ini untuk Indonesia. Sementara, pada kelompok perusahaan dengan valuasi lebih dari US$ 1 miliar, kawasan regional memiliki Traveloka, Indonesia punya Tokopedia dan Bukalapak, Singapura memiliki JustCo dan Qoo10, dan Vietnam punya VNG Corp.

Pada 2020, Indonesia terus mengumpulkan para start-up yang menyentuh valuasi lebih dari US$ 250 juta. Perusahaan ini antara lain Kopi Kenangan, Ruang Guru, SiCepat, Akulaku, Sociolla, Pasar Polis, Halodoc, Modalku, Xendit, dan FinAccel.

Investasi teknologi Asia Tenggara memang tidak mencapai rekor baru sepanjang 2020, tetapi start-up di wilayah ini telah menghadapi berbagai tantangan dan terbukti bisa menemukan peluang baru untuk tumbuh dan menarik investasi baru. “Kami memperkirakan apabila pandemi surut pada 2021, maka kita akan melihat pertumbuhan berlanjut pada venture capital dan realisasi aksi exits,” jelas Cento.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN