Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Produk Indofood di pasaran.

Produk Indofood di pasaran.

Usai Akuisisi IFL, Kinerja ICBP Masih Berpotensi Meningkat

Senin, 22 Februari 2021 | 05:16 WIB
Lona Olavia

JAKARTA, investor.id - Saham di sektor barang konsumen yang berada di bawah naungan Grup Salim, seperti PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) dan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) dinilai masih menarik untuk diakumulasi. Apalagi sektor konsumer masih dapat dikoleksi secara selektif untuk jangka panjang. Hal ini dikarenakan pergerakan sektor tersebut mulai mengalami penurunan.

Di sisi lain, emiten konsumer masih bisa survive di tahun lalu meski ada kendala dari pelemahan daya beli masyarakat akibat pandemi Covid-19.

“Kalau untuk ICBP INDF sebenarnya masih ada prospeknya. Terutama dengan kebutuhan akan mie instan dan tepung terigu untuk kebutuhan bahan-bahan makanan,” kata Analis Senior CSA Research Institute Reza Priyambada kepada Investor Daily, Minggu (21/2).

Analis CSA Research Institute. Foto: IST
Analis CSA Research Institute. Foto: IST

Terkait akuisisi seluruh saham PT Indofood Fritolay Makmur (IFL) yang dimiliki oleh Fritolay Netherlands Holding B.V. oleh Indofood CBP pada 17 Februari 2021 senilai Rp 494 miliar atau setara dengan 49% dari total saham yang diterbitkan oleh IFL ini, dinilainya bisa meningkatkan kinerja perusahaan ke depannya, baik untuk Indofood CBP maupun IFL.

Reza pun menilai, untuk sementara akuisisi ini hanya berkaitan dengan porsi kepemilikan saham perusahaan induk. Adapun pengaruhnya terhadap perseroan, dia mengatakan, hal itu tergantung strategi bisnis Indofood CBP usai akuisisi ini.

Seperti diketahui, dengan akuisisi ini maka sejumlah produk makanan ringan yang sebelumnya diproduksi IFL bersama Pepsi seperti Cheetos, Lays, dan Doritos akan otomatis dihentikan mulai Agustus 2021. Untuk itu, Indofood CBP harus memikirkan produk lainnya atau produk yang sama dengan merek berbeda. Adapun divisi makanan ringan secara total memberikan sumbangan atau berkontribusi sekitar 6% terhadap total penjualan Indofood CBP.

“Makanan-makanan ringan tersebut (Cheetos, Lays, dan Doritos) memang dianggap menguasai pangsa pasar makanan ringan sehingga banyak pelaku pasar jika makanan ringan tersebut distop, maka perolehan pendapatan dari makanan ringannya akan berkurang sehingga dianggap mengurangi potensi perolehan pendapatan. Tapi, karena mereka masih menguasai pangsa pasar maka permintaan akan mereka juga masih ada. Seperti halnya perusahaan besar, dengan porsi penguasaan pangsa pasar yang lebih tinggi, maka kemungkinan pertumbuhannya tetap ada meski cenderung melambat,” katanya.

Dia pun merekomendasikan ICBP untuk level target 9.000. Menutup perdagangan Jumat (19/2), saham ICBP ditutup turun 150 poin atau 1,71% ke level 8.600 per saham.

Mengutip laman resmi perseroan, Indofood CBP telah menghadirkan divisi makanan ringan sejak era 1990. Makanan ringan itu mulai beragam keripik dan makanan ringan lainnya termasuk biscuit. Produk tersebut mulai dari Chitato, Qtela, Lays, Doritos, Chiki, Cheetos, Jetz, Trenz, Wonderland dan Dueto.

“Kami akan terus memproduksi, menjual dan mengembangkan merek-merek kami, seperti Chitato, Qtela, Chiki dan Jetz yang telah lama menjadi salah satu makanan ringan favorit masyarakat Indonesia,” kata General Manager Corporate Communication Indofood Sukses Makmur Stefanus Indrayana.

Sementara itu, dalam risetnya, JPMorgan menilai Indofood CBP merupakan emiten dengan ekuitas dan merek kuat, yang menghasilkan daya beli yang juga kuat, dan pada akhirnya menghasilkan pendapatan yang tinggi untuk  tahun 2021 ini.

Produk ICBP yakni, mi instan Indomie terus memperoleh pangsa pasar selama 2 tahun terakhir meskipun telah menguasai sekitar 70% pangsa pasar. JPMorgan melihat merek ini semakin memperkuat posisinya saat persaingan terjadi. Akuisisi Pinehill oleh ICBP juga telah selesai, dan akuisisi ini akan menghasilkan 16% rata-rata pertumbuhan (CAGR) pendapatan dari full year 2020 dan estimasi 2022.
 

"Kami tidak terlalu mengkhawatirkan inflasi yang lebih rendah untuk ICBP, karena mi instannya dihargai pada titik di mana kenaikan ASP (average selling price/rata-rata harga jual) terkecil setidaknya 3%-4% per tahun," tulisnya dalam risetnya.

Secara historis, ICBP selalu dapat melewati kenaikan ASP tanpa halangan yang signifikan terhadap pertumbuhan volume dan JPMorgan meyakini ini akan berlaku di 2021.

Terkait laporan keuangan, Indofoof CBP mengantongi laba sebesar Rp 3,96 triliun pada kuartal III-2020. Adapun, laba bersih perseroan naik 2% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 3,88 triliun. Penjualan neto ICBP di kuartal III-2020 sebesar Rp 33,88 triliun atau naik 3,37% dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 32,79 triliun, dengan laba per saham dasar Rp 340.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN