Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pekerja memantau pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta, . Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Pekerja memantau pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta, . Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Valuasi Saham KAEF dan INAF Tak Masuk Akal

Sabtu, 8 Agustus 2020 | 15:10 WIB
Thomas Harefa (thomas@investor.co.id) ,Nabil Alfaruq (nabil.alfaruq@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – Dua saham sektor farmasi yang tengah berkibar, yakni PT Kimia Farma Tbk (KAEF) dan PT Indofarma Tbk (INAF), disuspensi oleh Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (7/8). Suspensi dilakukan agar kedua saham tersebut cooling down setelah bergerak tidak wajar dalam beberapa hari terakhir.

Sejak awal tahun (year to date), saham KAEF melesat 154,4% dan INAF meroket hingga 266,67%. Saham KAEF ditutup pada Rp 3.180 dan INAF di posisi Rp 3.190, Kamis (6/8), sebelum disuspensi.

Saat ini, Kimia Farma memiliki kapitalisasi pasar sebesar Rp 17,66 triliun, sedangkan Indofarma Rp 8,89 triliun. Saham lain sektor farmasi yang ikut melambung adalah PT Pyridam Farma Tbk dengan kenaikan 422,73% (ytd).  

Anugerah Zamzami. Foto: IST
Anugerah Zamzami. Foto: IST

Equity Analyst PT Philip Sekuritas Indonesia Anugerah Zamzami Nasr mengatakan, prospek INAF dan KAEF ke depan cenderung bersifat spekulatif. Kedua saham ini sudah mengalami peningkatan harga yang sangat signifikan.

Price to Book Value-nya juga tinggi. INAF 19,8 kali dan KAEF 2,6 kali,” ujar Zamzami saat dihubungi oleh Investor Daily di Jakarta, Jumat (7/8).

Menurut Zamzami, Kimia Farma dan Indofarma saat ini sudah susah untuk diukur keuangannya. Apabila vaksin tersebut sudah selesai, maka akan ada pertimbangan berapa besaran margin keuntungan yang akan diperoleh oleh kedua emiten tersebut. Juga apakah akan ada subsidi dari pemerintah dan apakah kedua emiten ini perlu melakukan fund raising.

“Saat ini sudah susah, sebab tingkat utang kedua emiten ini sudah cukup tinggi,” ujar dia.

Edwin Sebayang. Sumber: BSTV
Edwin Sebayang. Sumber: BSTV

Berpendapat senada, Head of Research MNC Sekuritas, Edwin Sebayang menilai, secara valuasi saham KAEF dan INAF sudah sangat mahal dan sangat tidak masuk akal. Investor yang rasional tidak akan mengambil saham tersebut, karena terlalu mahal.

Selain itu, pergerakan harga menggunakan isu vaksin Covid-19 dari Bio Farma sebagai induk perusahaan. “Tapi kan vaksin belum akan terjadi sampai akhir tahun ini. Artinya, secara laporan keuangan, hal itu tidak akan masuk ke dalam laporan kinerja keuangan emiten KAEF dan INAF untuk full year tahun 2020. Jadi, mungkin baru akan masuk dalam laporan keuangan tahun depan, kalau memang vaksin benar-benar sudah ada pada 2021,” kata dia kepada Investor Daily, Jumat (7/8).

Pergerakan harga saham emiten sektor farmasi
Pergerakan harga saham emiten sektor farmasi

Edwin menduga ada invisible hand yang menggerakkan saham-saham dua emiten itu. “Kalau investor normal, tidak akan mungkin melakukan hal itu dalam jumlah besar. Itu pendapat saya. Jadi perlu dicari tahu siapa yang menggerakkan saham tersebut. Pihak otoritas saya kira bisa mencari tahu soal itu,” kata dia.

Berkaitan dengan prospek emiten farmasi, menurut Edwin, kalau memang nanti jadi ada vaksin Covid-19 dipasarkan di Indonesia, tentu akan sangat menolong masyarakat dan emiten di sektor farmasi. Tapi dengan catatan, jika jumlah penderita jauh berkurang karena masyarakat disiplin menerapkan pola hidup sehat dan protokol kesehatan, bukan tidak mungkin vaksin yang dipasarkan tidak akan meledak atau heboh dalam pemasarannya.

“Bisa saja pada akhirnya harga vaksin Covid-19 ini akan seperti vaksin-vaksin yang lain. Selain itu, banyak perusahaan farmasi, baik emiten maupun nonemiten, yang bersaing mencari dan menemukan vaksin. Jadi sebetulnya bagi penderita, dokter, sehingga pemerintah bisa mencari vaksin yang murah dan ampuh. Jadi mereka (farmasi) pun bersaing. Oleh karena itu, tidak terlalu berlebihan jika dikatakan, vaksin tidak akan masif dan harganya tidak luar biasa. Sebetulnya kita juga berkejaran dengan waktu untuk secepatnya menemukan vaksin Covid-19,” kata Edwin. (fur/hg)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN