Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
 PT Wijaya Karya Tbk (WIKA). Foto: Perseroan.

PT Wijaya Karya Tbk (WIKA). Foto: Perseroan.

Wika Kejar Target Pertumbuhan, Ini 'Roadmap' Hingga 5 Tahun

Senin, 10 Mei 2021 | 22:44 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) mematok target kontrak baru tumbuh 20% setiap tahun mulai 2021. Pertumbuhan kontrak baru itu diharapkan mendukung target peningkatan pendapatan dan laba bersih sebesar 20%.

Manajemen Wika optimis perekonomian global maupun domestik bisa lebih baik pada 2021. Hal ini ditopang oleh langkah-langkah pengendalian pandemi serta distribusi vaksin Covid-19.

Sejalan dengan pemulihan global, perekonomian Indonesia diperkirakan tumbuh 4,4% tahun ini. Sektor konstruksi menjadi salah satu sektor yang diprediksi mengalami pemulihan. “Meski demikian, masih ada risiko dan tantangan yang perlu diwaspadai, terutama kasus Covid-19,” jelas manajemen dalam laporan tahunan yang dirilis, baru-baru ini.

Wika menilai tahun 2020 merupakan momentum terendah pada fase perjalanan bisnis perusahaan dan 2021 akan bangkit dan bertumbuh lebih baik. Untuk menyikapi hal itu, perseroan sudah menyiapkan peta jalan (roadmap) pertumbuhan dalam lima tahun ke depan. Bahkan, pada 2024, perseroan ditargetkan dapat kembali normal seperti pertumbuhan pada 2019.

Beberapa langkah strategis yang dilakukan perseroan, salah satunya adalah pertumbuhan kontrak baru minimal 20% setiap tahun. Kemudian, penjualan juga dipatok bertumbuh di atas 20%, sehingga secara otomatis laba bersih akan tumbuh lebih dari 20% dan akan kembali normal pada 2024.

Selain itu, Wika akan mendorong beberapa anak usaha untuk melangsungkan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham pada 2022-2025. Anak usaha tersebut adalah PT Wika Industri & Konstruksi atau Wika Ikon dan PT Wijaya Karya Realty atau Wika Realty pada 2023.

"Wika Realty yang telah ditetapkan sebagai Holding BUMN sektor perhotelan pada Desember 2020 memiliki prospek bisnis yang sangat baik ke depannya, sehingga diharapkan perseroan akan mendapatkan revenue cukup baik dari Wika Realty,” jelas manajemen.

Diversifikasi Bisnis

Pada 2021, Wika juga memiliki beberapa portofolio bisnis baru, di antaranya bidang industri. Wika berencana membangun pabrik aspal yang cukup besar di Buton dengan kapasitas 2x100 ton pada tahun ini. Pembangunan pabrik ini untuk mengurangi impor aspal yang mencapai 1 juta ton per tahun.

Kemudian, Wika ingin menguasai bidang industri seiring dengan akan dilakukannya pengklasteran bidang industri terhadap BUMN Karya. Selain itu, Wika akan memperkuat portofolio bisnis di bidang mineral, minyak, dan gas bumi. Hal ini dilakukan dengan mendukung bahan baku pembuatan baterai.

Perseroan akan fokus mendukung material dan berencana untuk berinvestasi di bidang nikel. Ke depan, kebutuhan nikel diprediksi akan sangat tinggi, dimana saat ini Indonesia masih kekurangan. Peluang ini yang akan dimanfaatkan Wika untuk menghasilkan pendapatan yang cepat.

Wika juga akan mengurangi investasi di bidang yang sudah banyak dilakukan perusahaan lain, dan akan berinvestasi pada bidang yang jarang digarap seperti Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa). Perseroan bekerja sama dengan Jakpro dan telah memenangi proyek renewable energy tersebut di Jakarta Timur. Selain itu, Wika akan masuk pada pengelolaan air melalui investasi di SPAM Jatiluhur.

Adapun pada 2020, Wika mencatat penurunan kinerja, baik dari sisi pendapatan maupun laba bersih. Pendapatan pada 2020 mencapai Rp 16,54 triliun, turun 39,23% dibandingkan 2019 yang mencapai Rp 27,21 triliun.

Penurunan akibat pandemi Covid-19 ini turut menyeret perolehan laba bersih Wika yang tercatat turun 87,7% pada 2020 menjadi Rp 322,34 miliar. Padahal pada 2019, Wika mencatat laba bersih sebesar Rp 2,62 triliun.

Kendati pendapatan dan laba menurun, Wika tetap bisa mencatat perolehan kontrak baru di atas target. Pada 2020, perolehan kontrak baru Wika mencapai Rp 23,37 triliun atau melebihi target yang ditetapkan sebesar Rp 21,37 triliun.

Pandemi pada 2020 memaksa Wika untuk melakukan penghematan biaya. Akibatnya, Wika harus memangkas belanja modal dari anggaran awal Rp 11,51 triliun menjadi Rp 2,39 triliun. Wika juga harus melunasi sebagian pokok Global IDR Bond (Komodo Bond) yang jatuh tempo pada 31 Januari 2021. Dengan penerbitan obligasi dan sukuk sebesar Rp 2 triliun untuk refinancing surat utang itu, Wika mendapatkan kelebihan permintaan sebanyak 2,5 kali.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN