Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Karyawan melintas di dekat monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di kantor Bursa Efek Indonesia di Jakarta. Foto: Investor Daily/DAVID GITA ROSA

Karyawan melintas di dekat monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di kantor Bursa Efek Indonesia di Jakarta. Foto: Investor Daily/DAVID GITA ROSA

Window Dressing akan Dorong IHSG

Gita Rossiana, Senin, 11 November 2019 | 07:18 WIB

JAKARTA, investor.id  - Indeks harga saham gabungan (IHSG) diprediksi menguat pada perdagangan pekan ini di Bursa Efek Indonesia (BEI). Hal ini akan didorong sentimen positif laporan keuangan korporasi kuartal III lalu dan aksi window dressing untuk laporan keuangan kuartal IV-2019.

Analis PT Panin Sekuritas Tbk William Hartanto mengatakan, IHSG pada pekan ini bisa bergerak di rentang 6.150-6.314. Pada minggu lalu, IHSG ditutup meningkat 2% ke level 6.177, setelah sempat melemah di bawah 6.150.

“Selain disebabkan oleh window dressing laporan keuangan, sentimen eksternal turut memengaruhi pergerakan indeks. Meredanya perang dagang (Amerika Serikat- Tiongkok) juga memengaruhi pergerakan IHSG,” ujar William kepada Investor Daily, Jakar ta, akhir pekan lalu.

Kiswoyo Adi Joe. Foto: BSTV
Kiswoyo Adi Joe. Foto: BSTV

Kepala Riset PT Narada Aset Manajemen Kiswoyo Adi Joe juga melihat pengaruh laporan keuangan kuartal III-2019 dan aksi window dressing pada kuartal IV ini terhadap penguatan IHSG sepekan ke depan.

Ia memperkirakan IHSG bisa menguat ke level 6.100-6.400. Kiswoyo mengatakan, penurunan bunga acuan bank sentral Amerika Serikat (federal funds rate/FFR) beberapa waktu lalu juga turut menguatkan IHSG. Penurunan FFR ini menandakan dimulainya era suku bunga rendah yang akan berlangsung hingga tahun depan.

Pertumbuhan indeks saham di bursa dunia
Pertumbuhan indeks saham di bursa dunia

“Dengan adanya suku bunga rendah, IHSG akhir tahun ini bisa bergerak di angka 6.900-7.000. Namun demikian, investor tetap perlu mewaspadai gejolak yang berasal dari global, karena perubahan mendadak yang berasal dari eksternal bisa memengaruhi ekspektasi IHSG pada akhir tahun,” ucap Kiswoyo.

Secara teknikal, IHSG juga diprediksi menguat pekan ini.

Analis PT Binaartha Sekuritas M Nafan Aji mengungkapkan, berdasarkan indikator, MACD sudah menunjukkan sinyal dead cross di area positif. Sementara itu, stochastic dan RSI berada di area netral. Namun demikian, terlihat pola bullish harami candlestick pattern yang mengindikasikan adanya potensi penguatan lanjutan. IHSG pekan ini diperkirakan berpeluang menguat ke level 6.086-6.274.

Nafan Aji Gusta. Sumber: BSTV
Nafan Aji Gusta. Sumber: BSTV

Rekomendasi Saham

Di tengah peluang penguatan IHSG tersebut, Nafan merekomendasikan sejumlah saham. Ini misalnya saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dengan akumulasi beli pada level Rp 825-835 per unit dan target harga Rp 755-1.075. PT Astra International Tbk (ASII) dengan akumulasi beli pada Rp 6.525-6.625 dan target harga Rp 6.400-7.600.

Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) dengan akumulasi beli pada Rp 3.920-4.000 dan target harga Rp 3.660-5.125.

Selain itu, saham PT Ciputra Development Tbk (CTRA) direkomendasikan akumulasi beli pada Rp 1.070-1.090 dan target harga di level Rp 1.020- 1.395. “Saham PT Elnusa Tbk (ELSA) juga bisa menjadi saham yang dilirik dengan akumulasi beli Rp 306-312 dan target harga Rp 300-384. Saham PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) bisa juga dilirik dengan akumulasi beli Rp 2.050- 2.070 dan target harga Rp 1.980-2.570.

Terakhir, saham PT Waskita Karya Tbk (WSKT) dengan akumulasi beli Rp 1.460-1.490 dan target harga Rp 1.415-2.240,” paparnya.

Bursa Global

Sementara, minggu lalu, IHSG ditutup meningkat 2% ke level 6.177, ditopang oleh peningkatan indeks saham properti sebesar 1,25% dan saham konsumer 0,83%. Sedangkan indeks saham sektor aneka industry menurun 0,98% dan industri dasar sebesar 0,69%.

Sebanyak 174 saham harganya naik, 228 saham turun, dan 146 saham stagnan. Nilai transaksi harian di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada pekan lalu mencapai Rp 8,16 triliun. Investor asing mencatatkan transaksi jual bersih (net sell) di semua pasar sebesar Rp 988,99 miliar.

Sementara itu, saham-saham pencetak keuntungan tertinggi (top gainers) pekan lalu antara lain saham PT Mahaka Medika Tbk (ABBA), PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR), PT United Tractors Tbk (UNTR), dan PT Trada Alam Minera Tbk (TRAM).

Lippo Karawaci. Foto: whatsnewindonesia.com
Lippo Karawaci. Foto: whatsnewindonesia.com

Sedangkan saham-saham yang harganya turun paling tajam (top losers) yaitu saham PT Armidian Karyatama Tbk (ARMY), PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB), PT Surya Citra Media Tbk (SCMA), PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP), dan PT MNC Vision Networks Tbk (IPTV).

Di bursa Asia, indeks ditutup bervariasi pekan lalu. Indeks Nikkei (Jepang) meningkat 0,26% dan indeks Topix (Korea Selatan) menguat 0,27%. Sedangkan indeks Hang Seng (Hong Kong) menurun 0,7% dan CSI300 menurun 0,47%.

Di Eropa, bursa-bursa saham membuka perdagangan pekan lalu dengan koreksi. Indeks Eurostoxx menurun 0,34%, FTSE melemah 0,35%, dan DAX turun 0,35%. Sedangkan di bursa AS, Dow Jones Industrial Average menguat 0,023% ke level 27.681,24.

AS akan Potong Tarif

Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwee. Foto: Beritasatu TV
Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwee. Foto: Beritasatu TV

Pada Kesempatan terpisah, Direktur PT Anugerah Mega Investama Hans Kwee mengatakan, pekan depan pasar masih akan diwarnai rencana pemotongan tarif menjelang kesepakatan negosiasi dagang ASRRT fase I.

Juru bicara Kementerian Perdagangan Tiongkok dan pejabat AS mengatakan, AS dan RRT telah sepakat untuk membatalkan beberapa tarif dan lebih dekat dengan perjanjian perdagangan fase I.

Di sisi lain, rencana itu dikabarkan menghadapi pertentangan di internal Gedung Putih. “Saya belum setuju penundaan tarif impor yang dituntut oleh Tiongkok. Sebenarnya, masalah yang dibicarakan kedua negara kami perkirakan fokus pada perlindungan kekayaan intelektual, manipulasi mata uang, dan neraca perdagangan,” papar Presiden AS Donald Trump kepada wartawan di Gedung Putih.

Awal pekan lalu, pasar sempat melemah setelah ada laporan yang menyebutkan Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping kemungkinan tidak akan bertemu untuk menandatangani kesepakatan perdagangan sampai Desember nanti. Pertemuan antara Trump dan Xi dapat ditunda, karena kedua belah pihak masih perlu memutuskan sejumlah persyaratan dan tempat untuk melakukan pertemuan.

AS-Tiongkok. Foto ilustrasi: IST
AS-Tiongkok. Foto ilustrasi: IST

RRT menginginkan AS untuk menghapus lebih banyak tarif impor senilai US$ 125 miliar yang dikenakan pada September lalu, sebagai bagian dari kesepakatan perdagangan fase I. Hal inilah yang masih belum dapat di sepakati Trump.

Sementara itu, ekonom PBB mengatakan, perang dagang Tiongkok-AS adalah situasi yang merugikan kedua negara dengan perekonomian terbesar itu dan dunia. Perang dagang diperkirakan menelan biaya US$ 35 miliar bagi Tiongkok pada paruh pertama tahun ini, demikian pula konsumen dan perusahaan AS menanggung beban terberat dari tarif yang lebih mahal. Hal itu diperkirakan akan mendorong AS dan Tiongkok terus berusaha mencari solusi atas masalah perdagangan kedua negara.

Sementara itu, Bank of England memutuskan untuk mempertahankan suku bunga di posisi 0,75%. Tetapi, beberapa pejabat (termasuk Gubernur Bank of England Mark Carney), mengatakan akan mempertimbangkan penurunan jika hambatan global dan masalah Brexit tidak berkurang. Pelonggaran moneter ke depan akan mendorong pasar keuangan bergerak positif.

Penyataan IMF bahwa pertumbuhan ekonomi Zona Euro akan melambat lebih dari perkiraan karena krisis manufaktur, diperkirakan dapat meluas ke sektor jasa akibat ketegangan perdagangan global.

Indeks aktivitas sektor jasa Jerman hampir tidak tumbuh pada Oktober lalu, di tengah aktivitas bisnis Zona Euro yang berkembang sedikit lebih cepat dari ekspektasi tetapi tetap dekat dengan zona stagnasi. Zona Euro yang berisiko mengalami perlambatan ekonomi membuat pasar modal di kawasan tersebut cenderung tertekan.

Net Buy/Net Sell Asing bulanan 2019
Net Buy/Net Sell Asing bulanan 2019

Kenaikan Cadev

Dari dalam negeri, lanjut Hans Kwee, BPS juga mengumumkan pertumbuhan ekonomi RI kuartal III tahun ini sebesar 5,02%. Angka itu melampaui perkiraan consensus para analis sebesar 5%. Data ekonomi Indonesia ini masih positif.

“Data cadangan devisa (cadev) juga naik menjadi US$ 126,7 miliar, dari sebelumnya US$ 124,3 miliar. Kenaikan cadangan devisa merupakan indikasi positif bagi perekonomian RI,” imbuhnya.

Meski data ekonomi Indonesia masih cukup baik, tetapi pasar akan berhati-hati, menanti perkembangan perang dagang dan potensi ekonomi dunia memasuki periode resesi. Hans Kwee memperkirakan IHSG berpeluang konsolidasi menguat, dengan support di level 6.139 sampai 6.100 dan resistance 6.200 sampai 6.240. (en)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA