Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Reksa Dana

Reksa Dana

BERI KESEMPATAN INDUSTRI REKSA DANA RECOVERY

Window Dressing Berpotensi Angkat IHSG Desember 2-4%

Kamis, 5 Desember 2019 | 22:32 WIB
Thereis Love Kalla (thereis.kalla@beritasatumedia.com) ,Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Kasus redemption reksa dana dan forced sell (jual paksa) saham-saham yang menjadi basis aset reksa dana diyakini tidak akan mengganggu kondisi pasar saham selama Desember yang biasanya diwarnai window dressing. Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia diyakini dapat meningkat 2-4% selama Desember ini.

Untuk itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) diimbau untuk jangan lagi membubarkan reksa dana bermasalah karena dapat memperburuk situasi di pasar modal, yang bisa merontokkan harga saham.

Karyawan berkativitas di Call Center Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Jakarta
Karyawan berkativitas di Call Center Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Jakarta

Untuk sementara, beri kesempatan industri reksa dana yang saat ini mengalami penurunan nilai aktiva bersih (NAB) untuk recovery dan memperbaiki diri, agar tidak memicu kepanikan investor.

Sementara itu, kasus redemption dan forced sell (jual paksa) reksa dana dinilai akan mendorong konsolidasi industri dan produk reksa dana di Indonesia. Kasus ini juga menjadi pelajaran berharga bagi industri serta mengingatkan investor untuk berhati-hati memilih produk reksa dana, dan jangan tergiur oleh tawaran dengan imbal hasil tinggi dan instan.

Demikian rangkuman wawancara Investor Daily dengan pihak otoritas bursa, analis, dan asosiasi manajer investasi di Jakarta, Rabu (4/12).

Kinerja IHSG Desember 2009-2018, Net Buy/Sell Asing, dan NAB Reksa Dana
Kinerja IHSG Desember 2009-2018, Net Buy/Sell Asing, dan NAB Reksa Dana

Mereka menanggapi kisruh pencairan (redemption) reksa dana dan penjualan paksa (forced sell) saham-saham yang menjadi basis aset (underlying asset) sejumlah reksa dana, sehingga memicu kejatuhan IHSG di BEI belakangan ini.

Para analis yakin kasus tersebut tidak mengganggu potensi window dressing (aksi poles saham) yang lazim terjadi selama Desember. Selama Desember 2019 ini, IHSG diprediksi naik sekitar 2-4% dibanding akhir November 2019.

Secara historis, mengacu pada data empiris IHSG 22 tahun terakhir atau sejak 1997, indeks saham selama bulan Desember selalu positif, kecuali tahun 2000 yang minus 3%. Kenaikan IHSG Desembe yang cukup tinggi terjadi pada 1999 sebesar 15,9%, 2003 (12,2%), 2008 (9,17%), dan 2017 sebesar 6,78%.

Gara-gara Fixed Return

Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Inarno Djajadi. BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal
Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Inarno Djajadi. BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Inarno Djajadi menyatakan, kisruh pembubaran reksa dana oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tidak terlalu berpengaruh terhadap pergerakan IHSG di BEI.

“Sebetulnya yang pergerakannya berpengaruh terhadap IHSG kan lebih banyak saham-saham big caps,” ujarnya.

Inarno mengimbau investor jangan menggeneralisasi kasus segelintir manajer investasi yang tidak mengikuti aturan OJK. Dia menjelaskan, fenomena yang terjadi saat ini, manajer investasi (MI) yang tidak memberikan fixed return kurang menarik bagi investor.

“Padahal justru yang jatuhnya paling banyak adalah MI yang menjanjikan fixed return,” tandasnya.

Inarno telah bertemu dengan beberapa manajer investasi, bukan hanya mereka yang dikenai sanksi oleh OJK “Kata mereka, selama satu sampai dua tahun ini, MI yang tidak memberikan fix return performance-nya di bawah dari MI yang sekarang kena sanksi. Tapi begitu jatuh, sekarang kelihatan mana yang jatuhnya dalam, sedangkan MI yang mengikuti aturan buktinya tetap bertahan kok,” tegasnya.

SID dan Reksa Dana, dan perkembangan saham bog caps
SID dan Reksa Dana, dan perkembangan saham bog caps

Ketua Umum Asosiasi Manajer Investasi Indonesia (AMII) Edward Lubis mengatakan, situasi yang terjadi di industri reksa dana saat ini memang memprihatinkan. Hal ini bisa menjadi pelajaran yang berharga bagi pelaku industri reksa dana.

Dalam jangka pendek, kasus reksa dana yang terjadi akhir-akhir ini bisa mendorong konsolidasi pelaku maupun produk reksa dana. “Manajer investasi juga harus berhati-hati dan menghindari investasi di perusahaan (emiten) yang fundamentalnya tidak baik,” kata dia, Selasa (3/12).

Edward Lubis yakin kasus redemption dan forced sell pada reksa dana tidak terlalu berdampak terhadap saham- saham yang fundamentalnya solid. Dia tidak bisa memastikan seberapa luas pengaruh kasus ini terhadap kepercayaan masyarakat dalam berinvestasi. Akan tetapi, dia meminta investor tetap waspada terhadap investasi yang menawarkan imbal hasil tinggi dan instan.

Sedangkan Direktur Anugerah Mega Investama, Hans Kwee menyatakan, OJK diimbau untuk jangan lagi membubarkan reksa dana bermasalah karena dapat memperburuk situasi di pasar modal, yang bisa merontokkan harga saham. OJK perlu memberi kesempatan industri reksa dana yang saat ini mengalami penurunan nilai aktiva bersih untuk recovery dan memperbaiki diri.

Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwee. Foto: Beritasatu TV
Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwee. Foto: Beritasatu TV

Dia menyatakan, ada sejumlah MI yang menjual produk reksa dana dengan fixed return. Reksa dana ini umumnya menggunakan basis aset saham-saham ‘ajaib’ lapis ketiga (third liner) dan blue chips. Awalnya memang saham ‘ajaib’ itu naik namun kemudian jatuh cukup dalam. Ketika OJK menutup sejumlah produk reksa dana, MI mau tidak mau menjual paksa (forced sell) saham blue chips sehingga mendorong indeks jatuh.

Karena itu, dia berharap OJK memberi waktu MI agar harga saham yang menjadi basis aset reksa dana bisa pulih (recovery). OJK juga jangan membubarkan reksa dana bermasalah karena dapat memicu kepanikan investor. Hans Kwee yakin IHSG pada akhir tahun menembus 6.220 atau naik sekitar 3-4% selama Desember.

Window Dressing

Pekerja melintasi layar pergerakan saham di galeri BEI, Jakarta. Foto: Investor Daily/David Gita Roza
Pekerja melintasi layar pergerakan saham di galeri BEI, Jakarta. Foto: Investor Daily/David Gita Roza

Secara terpisah, analis PT Philip Sekuritas Anugerah Zamzami mengatakan, redemption dan forced sell di reksa dana memang menimbulkan tekanan terhadap pasar modal Indonesia. Namun, dampaknya tidak terlalu besar karena ada rentang waktu cukup lama untuk penutupan reksa dana.

“Apalagi AUM (asset under management) juga terbilang kecil dibandingkan market cap IHSG,” kata dia.

Apalagi, pada Desember 2019 ini, korporasi akan memperbagus laporan keuangannya untuk penutupan akhir tahun (window dressing). Sehingga, dia memprediksi IHSG tahun ini bisa berada di angka 6.150-6.300.

Presiden Direktur PT Avrist Asset Management Hanif Mantiq mengatakan, redemption dan forced sell yang terjadi akhir-akhir ini justru berdampak positif terhadap industri reksa dana.

“Para manajer investasi akan semakin berhati-hati dalam mengelola reksa dana ke depannya,” kata dia.

Aksi ini juga tidak berdampak signifikan terhadap performa Avrist Asset Management. Dia menyebutkan, target dana kelolaan Avrist tahun ini tetap berada di angka Rp 5,6 triliun.

Head of Investment PT Avrist Asset Management Farash Farich menambahkan, pasar saham Indonesia pada Desember ini akan tetap positif, kendati ada kasus reksa dana. Dia melihat, pasar saham lebih banyak dipengaruhi oleh sentimen eksternal dan juga saham-saham yang rebound setelah oversold dan undervalued.

“Biasanya pada Desember, IHSG rebound hingga rata-rata 2% karena investor rebalancing portofolio dan membeli saham yg sudah undervalued seperti HMSP, GGRM, ASII dan BMRI,” kata dia.

Adapun analis OSO Sekuritas Sukarno Alatas menyatakan, pada Desember ini masih akan ada potensi besar terjadinya fenomena window dressing. Kasus reksa dana tidak berdampak signifikan terhadap gerak IHSG Desember, karena lebih banyak dipengaruhi oleh sentimen eksternal, khususnya isu perang dagang ASTiongkok.

“Meskipun ada beberapa sentimen negatif, IHSG tetap diprediksikan naik. Apalagi kalau asing kembali masuk pada saham-saham yang menjadi underlying asset produk-produk reksa dana. Dan saya rasa ini kesempatan asing buat tampung,” kata dia.

Sukarno memproyeksikan pada akhir tahun, IHSG berada di kisaran 6.100-6.200. “Level 6.100 konservatif, 6.200 optimistis,” jelasnya.

Direktur Panin Asset Management Rudiyanto pun memprediksi, kemungkinan besar IHSG akan bergerak positif pada Desember ini. “Secara historis IHSG Desember selalu positif. Desember ini berpotensi naik 2% lebih,” ujarnya.

Rudiyanto memproyeksikan IHSG pada akhir tahun berada di level 6.400.

Kronologi Kasus Reksa Dana

reksa dana
Ilustrasi reksa dana. Foto: Majalah Investor/UTHAN A RACHIM

Kisruh pasar reksa dana mencuat setelah OJK menghentikan dua produk reksa dana PT Narada Aset Manajemen pada 15 November 2019, yaitu Narada Saham Indonesia dan Narada Campuran I, yang mengalami penurunan kinerja dan gagal bayar (default) saham senilai Rp 177,78 miliar.

Setelah Narada, sepekan kemudian, PT Pratama Capital Asset Management dilarang OJK menjual produk reksa dana selama tiga bulan, karena porsi kepemilikan saham PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) di dalam reksa dana Pratama Capital yang melebihi batas 10%. Padahal, OJK sebelumnya melakukan pembinaan kepada MI tersebut terkait saham emiten berkode KIJA pada 2017 dan 2018.

Pada pekan yang sama, OJK memerintahkan Minna Padi Aset Manajemen membubarkan dan melikuidasi enam produk reksa dana. OJK menemukan dua reksa dana yang dikelola perseroan dijual dengan janji keuntungan pasti (fixed return) masing-masing 11% dalam 6-12 bulan.

Selain dua reksadana ini, empat produk lain yang dibubarkan adalah RD Syariah Minna Padi Amanah Saham, RD Minna Padi Hastinapura Saham, RD Minna Padi Property Plus, dan RD Minna Padi Keraton II. Dana kelolaan atau asset under management (AUM) industri reksa dana per 22 Oktober 2019 mencapai Rp 552,3 triliun, tumbuh 11,8% (year on year/yoy).

Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mencatat, jumlah investor reksa dana telah mencapai 1.594.766 per 23 Oktober 2019, naik 60,2% dibanding akhir 2018. AUM reksa dana dikuasai investor institusi yang jumlahnya hanya 7.300 atau setara 0,45%.

Berdasarkan penelusuran Investor Daily, banyak saham big cap dan mid cap yang menjadi aset dasarnya. Saham-saham tersebut di antaranya saham PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR), PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WSKT), dan PT Ciputra Development Tbk (CTRA). Saham lainnya yaitu PT BDP Jawa Timur Tbk (BJTM), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), PT Bank Permata Tbk (BNLI), PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WTON), dan PT Bank BRI Syariah Tbk (BRIS).

Ada pula saham-saham lapis dua (second liner), seperti PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB), PT Meta Epsi Tbk (MTPS), PT Nusa Raya Cipta Tbk (NRCA), dan PT Forza Land Indonesia Tbk (FORZ).

Itu belum termasuk saham PT Steadfast Marine Tbk (KPAL), PT Asuransi Jiwa Jasa Mitra Abadi Tbk (JMAS), PT Jaya Bersama Indo Tbk (DUCK), dan PT Sanurhasta Mitra Tbk (MINA). (hg)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN