Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Jaringan XL Axiata (Foto: XL Axiata/IST)

Jaringan XL Axiata (Foto: XL Axiata/IST)

XL Axiata Jajaki Penjualan 4.500 Menara Telekomunikasi

Farid Firdaus, Kamis, 5 September 2019 | 20:42 WIB

JAKARTA, investor.id – PT XL Axiata Tbk (EXCL) menjajaki penjualan 4.500 menara telekomunikasi. Jika berhasil dieksekusi, aksi ini akan menjadi yang ketiga kalinya, setelah perseroan berhasil melepas total 6.000 menara pada 2014 dan 2016.

Direktur Keuangan XL Axiata Mohamed Adlan mengatakan, semula aset 4.500 menara ini masuk dalam kelompok aset strategis. Disebut strategis lantaran perseroan cukup bergantung pada menara dalam rancangan jaringan telekomunikasinya. Namun, seiring berjalan waktu, kini ketergantungan tersebut telah berkurang karena arsitektur jaringan XL lebih terdistribusi.

“Sekarang menara ini sifatnya sudah tidak terlalu strategis. Jadi bisa dipertimbangkan untuk dijual. Kami belum mengumumkan aksi ini ke pasar karena tahapnya masih dalam persiapan,” kata Adlan di Jakarta, Kamis (5/9).

Adlan belum dapat mengungkapkan berapa target atau jumlah menara yang akan dijual. Namun, apabila secara nilai memang cukup bagus, dan minat pasar lumayan baik, maka tidak menutup kemungkinan perseroan melepas seluruh menara tersebut.

Sementara itu, Presiden Direktur dan CEO XL Axiata Dian Siswarini mengatakan, aksi penjualan menara kemungkinan tidak dilakukan tahun ini, sebab prosesnya membutuhkan waktu. “Tahun ini kan hanya tinggal tiga bulan lagi. Dan, penjualan menara itu bukan hanya soal persiapan dan pengumuman, tapi kita juga harus masuk di waktu yang tepat,” jelas dia.

Sebagai informasi, XL Axiata tercatat melakukan transaksi penjualan 3.500 menara melalui proses lelang seharga Rp 5,6 triliun kepada PT Solusi Tunas Pratama Tbk (SUPR) pada 2014. Selanjutnya, perseroan mengantongi Rp 3,56 triliun dari hasil penjualan 2.500 menara kepada anak usaha PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR), yakni PT Profesional Telekomunikasi Indonesia.

Menurut Dian, kondisi persaingan antara emiten telekomunikasi akan semakin ketat pada sisa tahun ini dan tahun depan. Pihaknya berjanji tidak akan masuk ke strategi price war. XL cenderung fokus pada akselerasi infrastruktur dan memperkuat brand.

Tahun ini, XL mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) senilai Rp 7,5 triliun. Hingga semester I-2019, total capex yang telah dibukukan sebesar 60% . Mayoritas capex digunakan untuk perluasan jaringan data.

Direktur Teknologi XL Axiata Yessi D Yosetya menjelaskan, perseroan telah menyelesaikan 90% dari target pembangunan jaringan tahun ini atau setara 19 ribu base transceiver station (BTS) baru. Mayoritas pembangunan BTS berada di luar jawa. Sampai penghujung tahun ini, perseroan menargetkan jumlah BTS baru menjadi 21 ribu BTS. Alhasil, XL bakal memiliki lebih dari 135 ribu BTS di akhir tahun ini.

Selain BTS, perseroan juga rajin menggelar ekspansi jaringan serat optik atau fiberisasi. Langkah ini merupakan upaya perseroan untuk meningkatkan kapasitas layanan data.

“Hingga akhir tahun, kami berharap bisa memberikan layanan 4G ke total target 440 kota kabupaten. Jadi, layanan XL akan mencapai sekitar 95% dari populasi di Indonesia,” jelas dia.

Adapun dari sisi kinerja keuangan, Adlan optimistis berbagai strategi yang telah dijalankan perseroan mampu membuahkan kinerja yang positif. Perseroan menargetkan di semester II-2019, perolehan laba mampu dua kali lipat dibanding realisasi semester I-2019.

Perseroan tercatat membukukan laba bersih senilai Rp 282,3 miliar pada semester I-2019 dibandingkan posisi rugi bersih pada semester I-2018 sebesar Rp 81,7 miliar. Raihan ini salah satunya dipicu oleh kenaikan pendapatan sebesar 10,9% menjadi Rp 12,2 triliun dari Rp 11 triliun.

Axiata dan Telenor

Di level global, saat ini induk usaha XL Axiata, yakni Axiata Group Bhd, dalam proses merger dengan operator telekomunikasi asal Norwegia, Telenor ASA. Proses merger ini turut melibatkan diskusi untuk mengonsilidasikan aset infrastruktur di wilayah Asia.

Berdasarkan keterangan resmi Telenor Mei lalu, kedua perusahaan ini berencana membentuk perusahaan baru (MergerCo) untuk mengelola aset di Asia dengan kepemilikan 56,5% saham oleh Telenor dan 43,4% oleh Axiata. Detailnya akan dijelaskan setelah proses due diligence selesai. Namun, tak ada keterangan kapan proses due diligence tersebut tuntas.

Jika berjalan sesuai rencana, perusahaan baru ini bakal mengelola sekitar 300 juta pelanggan dan memiliki aset terbesar dengan 60 ribu menara di seluruh Asia.

Perusahan baru itu akan berkantor pusat di Kuala Lumpur dan sahamnya akan dicatatkaan di Bursa Efek Malaysia. Tujuan dari aksi ini juga menggabungkan Celcom Axiata Bhd dan Digi Telecommunication Sdn Bhd, yang mayoritas sahamnya akan dimiliki oleh perusahaan baru tersebut. Belakangan sempat dikabarkan oleh sejumlah media di Malaysia rencana ini berpotensi batal lantaran terbentur oleh kepentingan nasional.

Terkait hal ini, Dian berpendapat, diskusi antatar Axiata dengan Telenor dipastikan masih tetap berjalan. Namun, karena ini merupakan aksi yang sangat besar dan kompleks, maka butuh waktu lebih lama untuk mencapai kesepakatan. “Saya rasa intensi kedua belah pihak untuk merger masih sangat mungkin. Sementara dampak ke kami di Indonesia kemungkinan kecil,” ujar dia.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA