Menu
Sign in
@ Contact
Search
Ilustrasi BBM jenis Pertalite di SPBU. (ANTARA FOTO/Adiwinata Solihin/pd/16)

Ilustrasi BBM jenis Pertalite di SPBU. (ANTARA FOTO/Adiwinata Solihin/pd/16)

Yuk Atur Strategi Keuangan Pasca Kenaikan Harga BBM Lewat Cara Ini...

Senin, 26 September 2022 | 07:55 WIB
Lona Olavia (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id - Kenaikan harga minyak dan komoditas utama dunia lainnya secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi  kenaikan biaya produksi dan jasa di beragam sektor, serta ikut meningkatkan angka inflasi.  Biaya subsidi dan kompensasi yang terus membengkak dan menggerus APBN membuat pemerintah mengurangi subsidi BBM (dengan menaikkan harga BBM) di awal September lalu.

Di tengah kondisi ini, investor perlu strategi keuangan yang tepat agar operasional rumah tangga tidak terganggu dan investasi untuk masa depan tetap berjalan lancar. Freddy Tedja, Head of Investment Specialist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) mengungkapkan ada beberapa strategi untuk para investor reksa dana. 

Baca juga: Dipicu Kenaikan Harga BBM, BI Prediksi Inflasi 2022 Tembus 6%

1.Kurangi pos pengeluaran rekreatif dan konsumtif

Dalam waktu singkat, kenaikan harga BBM bersubsidi akan berimbas pada keuangan rumah tangga, karena kenaikan biaya produksi dan logistik pada level produsen akan disalurkan ke konsumen dalam bentuk kenaikan harga. 

“Hal pertama yang harus kita lakukan adalah mengurangi pos pengeluaran yang bersifat rekreatif dan atau ‘masih bisa ditangguhkan’. Bagaimana pun, jika penghasilan tidak bisa ditambah, maka satu-satunya cara agar keuangan rumah tangga tetap sehat adalah dengan mengurangi pengeluaran pada pos yang tidak produktif,” katanya dalam keterangannya dikutip Senin (26/9/2022).

Baca juga: Suku Bunga dan Harga BBM Naik, Bintraco Dharma (CARS) Optimis Penjualan 20.000 Mobil Tercapai

2. Atur ulang arus kas dan pengeluaran

Jangan pernah menggunakan pos dana darurat untuk kebutuhan rekreatif, atau untuk sekedar menjaga gaya hidup agar tetap sama seperti di era suku bunga rendah. Pada saat yang sama kita harus segera mulai membiasakan diri dengan mengatur ulang arus kas dari gaji dan juga mengatur ulang pengeluaran primer. Untuk sementara, ada dua hal yang bisa dilakukan, yaitu kurangi jumlah yang dibeli atau cari substitusi dengan harga lebih rendah, sehingga jumlah tetap sama.

3.Jangan korbankan masa depan

Pada umumnya kegiatan investasi dilakukan untuk pemenuhan kebutuhan di masa depan, seperti untuk dana kebutuhan di masa pensiun maupun dana pendidikan anak.  Untuk pemenuhan kebutuhan jangka panjang tersebut perlu dihindari pengurangan pada pos investasi. 

“Ingat, pay yourself first; sisihkan sebagian dari penghasilan saat ini untuk diri kita di masa depan.  Kalau saat ini saja harga berbagai kebutuhan terasa mahal, apalagi di masa mendatang. Jadi, atur pengeluaran dan tetap sisihkan sebagian dari penghasilan saat ini untuk digunakan di masa depan,” tegas Freddy.

Baca juga: Imbas Kenaikan Harga BBM, ADB Proyeksi Inflasi Tembus 4,6%

4.Selalu manfaatkan peluang investasi

Berbeda dengan periode sebelumnya, kenaikan harga BBM bersubsidi kali ini tidak menimbulkan kecemasan yang berlebihan. Saat wacana kenaikan BBM bersubsidi muncul, kebijakan ini justru disambut baik oleh para pelaku pasar. Hal ini terlihat dari aliran dana masuk milik investor asing selama bulan Agustus lalu, setelah beberapa bulan terakhir mencatatkan arus keluar. Di tengah dampak kenaikan BBM bersubsidi, rencana kenaikan suku bunga The Fed dan Bank Indonesia, serta tekanan eksternal, pasar finansial Indonesia tetap stabil didukung oleh kondisi makro ekonomi yang suportif.

Freddy menjelaskan, pasar saham masih memberikan peluang investasi yang menarik dalam jangka panjang.  Kondisi makro ekonomi Indonesia yang lebih solid disertai dengan pertumbuhan laba perusahaan yang diperkirakan tumbuh pada laju yang sehat diharapkan dapat mendorong pergerakan pasar saham, terutama ketika sentimen global sudah lebih membaik. Faktor siklikal terkait pemulihan ekonomi mendukung sentimen dan fundamental perusahaan yang lebih baik bagi pasar saham.

Baca juga: Pembatasan BBM Bersubsidi Sudah Sangat Mendesak

Sementara itu, pasar obligasi menunjukkan resiliensi di tengah berbagai tantangan.  Imbal hasil riil yang tinggi mampu menopang stabilitas pasar obligasi, bahkan ketika US Treasury kembali bergejolak. Normalisasi suku bunga BI di tengah pengetatan global yang agresif mendukung pasar obligasi dan nilai tukar rupiah. Sentimen akan semakin positif ketika tingkat inflasi, terutama di Amerika Serikat dan Eropa, sudah mencapai puncak.

“Diversifikasi aset menjadi strategi yang tepat bagi para investor dalam merealisasikan berbagai tujuan keuangan di masa depan.  Porsi mana yang lebih besar, apakah di saham atau di obligasi atau di pasar uang, akan sangat tergantung pada profil risiko dan target waktu pemanfaatan dananya,” tutur Freddy.

 

Editor : Lona Olavia (olavia.lona@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com