Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI). Foto: Perseroan.

PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI). Foto: Perseroan.

Rights Issue Dikabarkan Lampaui 50%, Pengamat: Investor Optimistis Rencana Bisnis BRI

Jumat, 17 September 2021 | 13:57 WIB
Novy Lumanauw (novy@investor.co.id)

JAKARTA – Pengamat pasar modal yang juga Founder Indonesia Superstocks Community Edhi Pranasidhi mengatakan, investor menyambut positif rights issue PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.

Dikabarkan dalam kurun waktu 4 hari perdagangan pertama, investor  telah menyerap lebih dari 50% saham baru yang diterbitkan BRI. "Sudah terserap lebih dari 50%.  Ini artinya sudah sangat bagus. Kalau soal potensi, saya  sangat yakin. Terlebih harganya sangat murah yaitu Rp3.400," Edhi melalui Keterangan tertulis, pada Jumat (17/9/2021).

Ia mengatakan, dengan  capaian itu  BRI berpotensi  menghimpun  dana penuh karena investor yakin terhadap rencana bisnis BRI. “Investor publik memiliki optimisme terhadap rencana bisnis BRI yang akan menggunakan dana hasil rights issue untuk modal pengembangan Holding Ultra Mikro (UMi),” jelas dia.

Disebutkan,  ada 10 broker besar yang berinvestasi saham di BRI, namun belum mencatat keuntungan yang baik. Bahkan, beberapa di antaranya mengambil langkah cut loss tipis dari harga pembelian. Dia menyebut bahwa broker-broker tersebut saat ini kemungkinan besar melakukan aksi beli dan ikut menyerap HMETD BRI untuk mengembalikan marginnya.

"Terlebih, saham bank BRI ini bisa melonjak ke Rp4.750 sangat signifikan pada hari pertama perdagangan usai aksi korporasi. Itu masih kena," ujarnya.

Terkait aksi para investor, Edhi  tak memungkiri strategi investor untuk menyerap HMETD akan beragam. Baik menjual saham induk seluruhnya maupun sebagian. Namun, menurutnya tidak akan ada isu perebutan dana di antara emiten karena maraknya rights issue. Sebab dana yang tersedia lebih dari cukup baik di sisi investor maupun simpanan di perbankan.

"Lagi pula, nilai bursa efek per GDP kita juga belum menyentuh 100%, baru sekitar 50% saja. Jadi masih ada potensi yang cukup besar untuk dana lebih banyak masuk lagi ke bursa saham," ujarnya.

Penyerapan rights issue BRI yang sangat positif saat maraknya aksi korporasi di pasar modal dinilai wajar ketika investor publik berpikir rasional. Pasalnya, menurut Penasihat Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI) Edwin Sebayang, investor akan melihat alasan utama ditempuhnya aksi korporasi.

Menurut Edwin, ada beberapa sebab yang mendasari emiten melakukan rights issue tahun ini. Seperti pemenuhan kebutuhan modal kerja, pendanaan ekspansi bisnis, ada pula untuk kebutuhan membayar utang. Adapun BRI akan menggunakan dananya untuk permodalan sumber pertumbuhan baru yang sangat menjanjikan ke depan melalui Holding UMi.

“Dari perspektif investor paling bagus kalau dia (emiten) me-rights issue bukan untuk bayar utang, tapi kelihatan rights issue ini karena memang ada tuntutan untuk ekspansi kemudian karena pemegang saham pengendali menambah modalnya mau tidak mau harus rights issue supaya tidak terjadi dilusi. Itu yang terjadi pada saham-saham BUMN,” ujarnya.

Karena itu, pengembangan bisnis ke depan menurutnya akan menjadi pertimbangan utama investor untuk subscribe atau menebus rights issue.

Analis pasar modal sekaligus ekonom dari LBP Institute Lucky Bayu Purnomo mengamini Edwin. Dia berpendapat orientasi pasar saat ini masih melihat emiten yang memiliki status fundamental yang baik dan berkomitmen menambah modal untuk pengembangan bisnis dan kemampuan ekspansi di masa datang serta diversifikasi portofolio usaha.

“Pasar saat ini masih melihat market cap yang cukup besar pada emiten-emiten yang memiliki status fundamental yang baik.  Ramainya rights issue sebetulnya ini momentum bagi pelaku pasar melihat perebutan dana itu kepada emiten-emiten yang sebenarnya memiliki proses pengelolaan yang baik. Untuk itu kita harus melihat sektor yang menarik,” tuturnya.

 

BRI Makin Yakin

Sementara itu, Direktur Keuangan BRI Viviana Dyah Ayu RK mengatakan sejauh ini memang rencana rights issue masih berjalan sesuai dengan jadwal yang ditetapkan. Menurut Viviana, perseroan sangat yakin dan percaya bahwa aksi korporasi ini akan disambut positif oleh stakeholders.

“Mengingat, sebenarnya investment thesis yang kami usung ini tidak hanya membawa economic value namun juga social value. Dengan pembentukan ekosistem ini kami berharap dapat memperluas akses layanan keuangan formal yang lebih terintegrasi dalam satu ekosistem sehingga dapat memberikan kesempatan bagi para pelaku usaha di segmen ultra mikro dalam program pemberdayaan yang tentunya akan meningkatkan skala bisnis mereka,” ujarnya.

Melalui Holding UMi yang didanai hasil rights issue, upaya pembentukan ekosistem usaha ultra mikro terbesar di Indonesia ini menurutnya akan membawa sinergi baik dari sisi revenue enhancement maupun cost efficiency.

Seperti diketahui, dalam prospektus yang diterbitkan Selasa (31/8), manajemen BRI menawarkan sebanyak-banyaknya 28,213 miliar Saham Baru Seri B atas nama dengan nilai nominal Rp50 per saham atau sebanyak-banyaknya 18,62% dari modal ditempatkan dan disetor penuh perseroan setelah Penambahan Modal Dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) I.

Harga pelaksanaan rights issue BBRI Rp3.400 per lembar saham. Pemerintah melaksanakan seluruh haknya sesuai dengan porsi kepemilikan sahamnya dalam BRI dengan cara penyetoran saham dalam bentuk lain selain uang (Inbreng) sesuai PP No. 73/2021. Seluruh saham Seri B milik pemerintah dalam PT Pegadaian (Persero) dan PT Permodalan Nasional Madani (Persero) atau PNM dialihkan kepada BRI melalui mekanisme inbreng.

Nilai total PMHMETD I yang telah memperhitungkan inbreng) serta eksekusi hak Pemegang Saham Publik adalah sebanyak-banyaknya sebesar Rp95,92 triliun. Dari total dana tersebut, nilai inbreng sebesar Rp54,77 triliun dan sisanya Rp41,15 triliun apabila seluruh pemegang saham publik mengeksekusi haknya sesuai porsi masing-masing. Adapun proses pembentukan Holding UMi telah mencapai tahap final dengan ditandatanganinya pengalihan saham (Inbreng) Pegadaian dan PNM kepada BRI selaku induk Holding UMi, pada Senin (13/9).

Dia pun menjelaskan potensi besar pertumbuhan segmen usaha ultra mikro nasional dengan mengutip data Kementerian Koperasi dan UKM. Pada 2019 terdapat 65 juta usaha mikro di Indonesia. Sekitar 46 juta di antaranya membutuhkan pendanaan. Adapun sekitar 20 juta usaha ultra mikro yang telah memperoleh akses pendanaan dari sumber formal seperti bank, BPR, perusahaan gadai, koperasi maupun lembaga keuangan lainnya.

Sekitar 12 juta usaha ultra mikro lainnya mendapatkan akses pendanaan dari sumber informal seperti keluarga, kerabat dan lembaga informal lainnya.  Sehingga masih terdapat sekitar 14 juta usaha ultra mikro yang belum memiliki akses pendanaan sama sekali, baik dari sumber formal maupun informal.  “Inilah yang akan menjadi target pertumbuhan bisnis ultra mikro ke depan,” ujar Viviana.

Editor : Frans (ftagawai@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN