Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Karyawati melintas di depan layar elektronik yang menampilkan pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Karyawati melintas di depan layar elektronik yang menampilkan pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

September, Jumlah Investor Pasar Modal Tembus 6,43 Juta

Kamis, 14 Oktober 2021 | 11:19 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mencatat, jumlah investor pasar modal mencapai 6,43 juta pada September 2021. Jumlah ini meningkat 65,73% dibandingkan akhir 2020 yang mencapai 3,88 juta.

Investor reksa dana mendominasi jumlah investor pasar modal, yakni sebanyak 5,78 juta atau meningkat 82,18% dari akhir 2020. Investor saham mencapai 2,9 juta dan investor surat berharga negara (SBN) mencapai 571,79 ribu. Investor saham dan SBN masing-masing meningkat 71,58% dan 24,2% dari akhir 2020.

Dilihat dari usia, investor berusia 30 tahun ke bawah mendominasi investor pasar modal, yaitu sebanyak 59,23%. Lalu, investor berusia 31-40 tahun berkontribusi 21,54% dan 41-50 tahun sebesar 10,69%. Namun dari nilai aset, investor yang berusia di atas 60 tahun mendominasi aset pasar modal, yakni mencapai Rp 451,9 triliun, meskipun jumlah investornya hanya 3,13% dari total investor pasar modal.

Dari sisi penghasilan, investor yang berpenghasilan Rp 10-100 juta mendominasi pasar modal, yakni mencapai 52,49%. Tetapi dari nilai aset, investor dengan penghasilan Rp 100-500 juta mendominasi pasar modal, yakni mencapai Rp 193,07 triliun.

Kemudian, investor dengan pendidikan SMA ke bawah mendominasi pasar modal, yakni mencapai 55,97%. Sementara dilihat dari pekerjaan, investor yang berprofesi sebagai pegawai, baik pegawai swasta maupun pegawai negeri mendominasi pasar modal, yakni mencapai 33,66%.

Dari sisi wilayah, sebanyak 69,93% investor berlokasi di Pulau Jawa dengan total aset sebesar Rp 3.441,5 triliun atau mencapai 96% dari total aset pasar modal. Investor paling sedikit berada di kawasan Maluku dan Papua, yakni hanya 0,96% investor dengan nilai aset Rp 3,28 triliun.

Total aset di saham pada September 2021 mencapai Rp 5.258,95 triliun. Investor domestik mendominasi dengan kepemilikan aset 58,42% dan investor asing sebesar 41,58%. Kepemilikan investor domestik meningkat dari akhir 2020 yang baru mencapai 56,85%.

Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI) I Gede Nyoman Yetna mengungkapkan, investor cukup antusias terhadap geliat yang terjadi di pasar modal tahun ini. Antusiasme ini terlihat dari indikator pasar modal yang bergerak positif pada 2021. Selain itu, terdapat sentimen positif terkait perkembangan ekonomi global maupun domestik, serta dukungan dan komitmen dari regulator-regulator terkait.

"Kondisi tersebut menjadi penting bagi pasar untuk dapat merespons secara positif segala aktivitas penggalangan dana melalui pasar modal Indonesia," ungkap dia belum lama ini.

Dari sisi indikator pasar modal, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada penutupan akhir 2020 masih berada pada level 5.979,07. Namun pada penutupan perdagangan 11 Oktober 2021, IHSG telah menyentuh angka 6.459,69.

"Adanya tren positif pada beberapa indikator pasar modal mencerminkan kepercayaan masyarakat dalam melakukan penggalangan dana melalui pasar modal dinilai relatif baik," kata dia.

Ke depan, Nyoman berharap aktivitas penggalangan dana di pasar modal terus meningkat seiring pemahaman masyarakat dalam memanfaatkan pasar modal. Dia juga berharap para pelaku pasar dan pemangku kepentingan termasuk korporasi, dapat memanfaatkan pasar modal sesuai kebutuhannya.

Ditopang Optimalisasi Digital

Lebih lanjut, Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Inarno Djajadi menjelaskan, peningkatan jumlah investor ditopang oleh optimalisasi digital di pasar modal. Transformasi digital ini diakselerasi oleh self regulatory organization (SRO) yang terdiri atas BEI, PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI), dan KSEI bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sejak 2019 dan 2020. Hal ini berdampak positif bagi terciptanya tonggak baru pencapaian pasar modal Indonesia tersebut.

"Optimalisasi digital yang dimulai sejak 2019 serta dimaksimalkan tahun 2020 yang kemudian dilanjutkan dengan sinergi serta kolaborasi bersama seluruh pemangku kepentingan pasar modal, telah menjadi kekuatan pengembangan investor pada 2021 dan menjadi alasan utama bagi pesatnya peningkatan jumlah investor baru pada tahun ini,” kata Inarno.

Sementara itu, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hoesen mengatakan, BEI bersama seluruh pemangku kepentingan di pasar modal Indonesia memang harus mengembangkan pasar modal melalui inovasi yang visioner dengan memanfaatkan kemajuan teknologi, seiring dengan situasi pandemi Covid-19 di Indonesia.

Pengembangan tersebut diimplementasikan pada berbagai fitur dan layanan ‘mesin perdagangan’ BEI, media interface investor, yaitu aplikasi online trading milik anggota bursa, serta edukasi secara masif melalui media sosial, social media influencer, komunitas, dan kelas-kelas Sekolah Pasar Modal (SPM) yang dilaksanakan secara daring.

“Terbukti bahwa stabilitas dan kekuatan pasar modal Indonesia hanya bisa terwujud jika investor domestik, terutama ritel, bangkit menjadi tuan rumah di negeri sendiri yang terefleksi dari berbagai data pencapaian di pasar modal Indonesia” ujar Hoesen.

Editor : Nurjoni (nurjoni@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN