Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Investor menggunakan telepon pintar melihat pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Investor menggunakan telepon pintar melihat pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Akhir Tahun, IHSG Berpotensi Ditutup Menguat di Level 5.400

Kamis, 17 September 2020 | 04:29 WIB
Nabil Alfaruq (nabil.alfaruq@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id — Indeks harga saham gabungan (IHSG) pada perdagangan Rabu ditutup mengalami pelemahan di level 5.058,48. Level tertinggi pada perdagangan hari ini beradai di 5.117,28 dan terendah di 5.051,75.

Ketua Umum Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI) Edwin Sebayang mengatakan, pelemahan indeks yang terjadi padaRabu (16/9/2020) disebabkan oleh adanya gap yang sudah tertutup, sehingga membuat IHSG berada di level 5.058,48.

“Jadi ini mungkin karena gap nya sudah ditutup, sehingga kejatuhannya itu minor dan tidak terlalu berat. Selain itu, saham Big Caps juga jatuhnya tidak terlalu besar,” ujar dia kepada Investor Daily di Jakarta, Rabu (16/9).

Edwin Sebayang. Sumber: BSTV
Edwin Sebayang. Sumber: BSTV

Dengan adanya gap yang sudah tertutup tersebut, Edwin menilai bahwa kedepannya tidak akan ada utang gap lagi, sehingga pergerakan IHSG diproyeksikan akan mulus untuk mengalami peningkatannya.

Kemudian, apabila dilihat secara historis, pada bulan September atau Oktober biasanya mengalami fluktuasi dengan kecenderungan melemah, namun di bulan November-Desember akan mengalami penguatan.

Penguatan tersebut didukung oleh ekspektasi Produk Domestik Bruto (Gross Domestic Product/GDP) yang diproyeksikan akan tumbuh sebesar 4,5% di tahun depan, hal ini akan membuat kinerja emiten membaik dibandingkan dengan tahun ini.

Kemudian, vaksin Covid-19 sudah mulai ditemukan dan adanya paket stimulus yang diluncurkan oleh pemerintah semakin besar.

“Berdasarkan faktor tersebut dan ditambah dengan adanya January effect serta window dressing, sehingga di bulan November-Desember biasanya market akan rally dan saya masih optimis akhir tahun IHSG masih bisa ditutup di 5.400. Sedangkan di tahun depan ada kemungkinan di level 6.000, apabila GDP nya itu lebih besar dari 4,5% ,” ujar dia.

Selain itu, berdasarkan data RTI, investor asing pada perdagangan hari ini ditutup melakukan transaksi jual bersih (net sell) di semua pasar sebesar Rp 852,52 miliar.

Edwin menilai bahwa net sell tersebut bukan seluruhnya disebabkan oleh asing melainkan adanya investor ritel yang bermain. Menurut dia, dengan adanya investor lokal ini maka kedepannya diharapkan fluktuasi tidak terlalu besar.

“Tidak apa-apa apabila investor asing itu keluar, seperti kasus di Korea Selatan yang digantikan oleh investor lokal, justru kedepannya akan semakin stabil pergerakannya karena yang bermain banyak dari lokal,” ujarnya.

Sedangkan untuk saham yang layak untuk dikoleksi oleh investor, Edwin merekomendasikan saham BBRI, BBNI, BBCA, GGRM, MBAP, JAPFA, UNVR, dan ICBP.

Selain itu, terdapat dari sektor ritel, yakni ACES dan ERAA. Selan itu, untuk sektor telco investor dapat memilih saham TLKM, EXCL, dan ISAT.

Anugerah Zamzami. Foto: IST
Anugerah Zamzami. Foto: IST

Sementara itu, Equity Analyst PT Philip Sekuritas Indonesia Anugerah Zamzami Nasr mengatakan, investor dapat melirik sektor komoditas, hal ini dinilai seiring dengan kenaikan harga komoditas.

Saham yang dapat menjadi pertimbangan adalah ANTM, TINS, dan UNTR. “Untuk strategi, para investor bisa menerapkan buy on weakness,” ujar dia.

Pelemahan indeks pada hari ini disebabkan oleh para investor yang cenderung untuk melakukan wait and see atau mengambil posisi tidak terlalu banyak menjelang pengumuman hasil pertemuan kebijakan the Fed yang merupakan pertemuan kebijakan pertama setelah ketua the Fed Jerome Powell mengumumkan pelonggaran toleransi atas laju inflasi yang lebih tinggi.

“Sentimen lainnya adalah adanya Rapat Dewan Gubernur (RDG BI) dan pandangan bank sentral mengenai kondisi ekonomi terkini, serta panduan kedepannya,” ujar Zamzami.

Sedangkan untuk perdagangan pekan ini, Zamzami menyampaikan bahwa pergerakan IHSG masih berpotensi mengalami pelemahan dengan level support di 5.010 dan level resistance di 5.141.

Kemudian, Analis Kiwoom Sekuritas Sukarno Alatas mengatakan bahwa perdagangan Kamis masih ada potensi untuk kembali melemah sampai level 5.016 sebagai area gap yg harus ditutup. Jika break level tersebut bisa lanjut ke level 4.975, investor perlu berhati-hati apabil  nantinya IHSG malah breakdown pada level tersebut.

“Namun, IHSG bisa saja mengalami rebound apabila skenario pada perdagangan Kamis mengalami penurunan mencapai 4.975 dan mampu bertahan, sehingga ada peluang untuk menguat kembali,” jelasnya.

Sukarno menambahkan bahwa pelemahan indeks pada perdagangan Rabu dinilai sedikit inline dengan bursa asia. Sentimen global datang dari masalah perdagangan, karena organisasi perdaganan dunia (WTO) memutuskan bahwa Amerika Serikat (AS) telah melanggar peraturan internasional dengan tarif pada lebih dari US$ 234 miliar ekspor Tiongkok. Ditambah lagi investor masih wait and see terkait rilis suku bunga the fed. Sedangkan dari dalam negeri, para pelaku pasar masih memantau BI yang diproyeksikan masih tetap mempertahankan suku bunganya.

“Hal lainnya yang memberatkan laju indeks adalah tekanan net asing terus berlanjut menjadi pemberat indeks hari ini. Saham-saham bluechip menjadi sasaran asing untuk melakukan aksi profit taking,” ujar dia. (bil)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN