Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Investor berada di galeri Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Foto ilustrasi: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

Investor berada di galeri Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Foto ilustrasi: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

Arah Pasar Saham Sepekan ke Depan, Pemodal Diminta Waspada

Minggu, 22 November 2020 | 21:57 WIB
Farid Firdaus (farid.firdaus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – Indeks harga saham gabungan (IHSG) diprediksi terkoreksi sehat dalam sepekan ke depan. Hal tersebut akan dipicu oleh potensi aksi ambil untung investor serta ditambah kekhawatiran global terhadap grafik meningkatnya kasus positif Covid-19 di seluruh dunia.

Analis Binaartha Sekuritas Muhammad Nafan Aji Gusta mengatakan, menjelang akhir November ini belum ada rilis data makroekonomi domestik yang memberikan imbas signifikan kepada IHSG. Sementara dari sentimen global, bertambahnya kasus Covid-19 membuat sejumlah negara kembali menerapkan lockdown.

“Terdapat proyeksi penurunan data PMI manufaktur dari negara-negara maju. Sentimen-sentimen ini membuat IHSG bergerak mixed dengan kecenderungan melemah,” jelas dia kepada Investor Daily, Minggu (22/11).

Nafan memprediksi IHSG akan berada pada kisaran 5.529,96 hingga 5.695,53 dalam sepekan ke depan. Secara teknikal, terdapat pola yang menunjukkan overbrought atau jenuh beli. Sejak 2 November hingga 21 November, IHSG telah mengalami penguatan 8,92%.

Nafan merekomendasikan saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dengan akumulasi beli pada level Rp 1.200-1.210, dengan target harga secara bertahap Rp 1.280, Rp 1.380, dan Rp 1.500. Selain itu, saham emiten barang konsumsi seperti PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) disarankan akumulasi beli pada area Rp 7.175-7.225, dengan target harga secara bertahap Rp 7.400, Rp 7.600, dan Rp 8.375.

Sebagai informasi, kekhawatiran dunia Covid-19 terlihat pada pertemuan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 ke-15 yang diselenggarakan secara virtual selama 21-22 November. Kepala negara yang tergabung dalam G20 mendiskusikan mengenai upaya penanggulangan pandemi COVID-19 di bidang kesehatan dan pemulihan ekonomi global. Termasuk pemulihan pasar tenaga kerja, perlindungan sosial, dan sistem keuangan global.

Seperti diketahui, sejumlah negara di Eropa telah mengalami peningkatan drastis kasus Covid-19, seperti Inggris yang menerapkan kembali lockdown selama empat minggu sejak 1 November hingga 2 Desember mendatang. Kebijakan ini juga terjadi di Prancis dan Jerman.

Sementara di Amerika Serikat (AS), terdapat kabar bahwa negara tersebut akan kembali menerapkan lockdown. Namun, hal ini telah diklarifikasi oleh Presiden Terpilih AS Joe Biden pada pekan lalu, jika pihaknya tidak akan menghentikan aktivitas ekonomi.

Optimisme Vaksin

Direktur PT Anugerah Mega Investama Hans Kwee mengatakan, pasar saham sebenarnya telah mengalami penguatan akibat optimisme vaksin Covid-19. Sektor yang naik karena teraprsiasi antara lain bank, tours dan travel dan komoditas. Selain itu terlihat investor mulai beralih ke saham Asia Tenggara sebagai rotasi global dari sektor bernilai tinggi ke sektor yang bertumbuh.

“UBS Global Wealth Management menyarankan investor yang mencari imbal hasil tinggi harus beralih ke surat utang Asia dan emerging market di tahun depan. Nampaknya kenaikan pasar keuangan di Asia Tenggara termasuk Indonesia di tahun depan masih akan terjadi terutama bila vaksin efektif dan berhasil di distribusikan,” jelas Hans.   

Di tengah harapan vaksin yang merupakan sentimen positif jangka menengah panjang, lanjut Hans, terjadi lonjakan kasus Covid-19 di beberapa negara. Di AS, pekan lalu terjadi kenaikan rata-rata mingguan 26 % kasus di bandingkan pekan sebelumnya.

Bill de Blasio, Walikota New York City memerintahkan sekolah menghentikan pembelajaran tatap muka. Centers for Disease Control and Prevention menyarankan warga Amerika agar tidak bepergian untuk merayakan Thanks giving. Hal yang hampir sama terjadi di beberapa Negara Eropa mendorong potensi pertumbuhan negatif pada kuartal IV-2020.

Menurut Hans, pasar keuangan global akan memperhatikan masalah antara The Fed dan Departemen Keuangan AS terkait program kredit bantuan pandemi. Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin mengatakan program kredit bantuan pandemi sebesar US$ 455 miliar yang dialokasikan musim semi lalu di bawah undang-undang Coronavirus Aid, Relief, and Economic Security (CARES Act) harus dikembalikan ke Kongres untuk dialokasikan kembali sebagai hibah untuk perusahaan kecil.

Program ini dianggap penting bagi bank Sentral dan bila dihentikan akan berdampak tidak baik bagi perekonomian. Kasus infeksi baru Covid-9 meningkat diikuti pembatasan kegiatan sosial berpotensi kembali mendorong gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) baru dan perlambatan pemulihan ekonomi.

“Hal ini mengecewakan pelaku pasar keuangan yang berhadap The Fed dan Departemen Keuangan dapat bekerja sama mengatasi dampak Pandemi yang akhir-akhir ini meningkat risikonya,” kata Hans.

Dia menambahkan, berbagai sentimen tersebut membuka koreksi sehat IHSG. Pihaknya memprediksi level support IHSG 5.541-5.462 dan resistensi pada 5.628-5.657 dalam sepekan ke depan.

Secara terpisah, analis Panin Sekuritas William Hartanto mengatakan, aksi profit taking diperkirakan akan terjadi pada awal pekan. Namun, pihaknya merekomendasikan beli saham PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) di area Rp 1.225 dengan target harga sekitar Rp 1.300-1.355. Selain itu, saham PT PP London Sumatera Indonesia Tbk (LSIP) juga bisa dilirik pada area beli Rp 1.110 dengan target harga Rp 1.140-1.200.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN