Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
wall street.

wall street.

Fokus Pasar: AS-Tiongkok Kembali ‘Gencatan Senjata’, Selanjutnya Apa? ‘Perang’ Lagi?

Nabil Al Faruq, Rabu, 14 Agustus 2019 | 13:21 WIB

JAKARTA, investor.id – Amerika Serikat (AS) dikabarkan menunda pemberlakuan tarif baru untuk berbagai produk Tiongkok hingga Desember 2019. Sebab, dunia bisnis di AS justru yang merasakan tekanan tersebut, sehingga dikhawatirkan terjadi penurunan ekonomi di AS akibat perang dagang dengan Tiongkok ini.

“Penundaan tarif baru itu menjadi sebuah harapan di tengah ketidakpastian kondisi global saat ini. Belakangan, pasar cemas dengan Argentina yang terancam gagal bayar (default) bunga utang senilai US$ 539 miliar,” sebut Pilarmas Investindo Sekuritas dalam ulasannya, Rabu (14/8).

Sementara itu, para pejabat senior AS dan Tiongkok yang telah melakukan percakapan melalui telepon turut mempertebal harapan pasar. Ini merupakan komunikasi pertama sejak Trump mengancam akan menaikkan tarif.

Presiden AS Donald Trump mengungkapkan bahwa percakapan dengan Tiongkok berakhir dengan produktif dan mereka benar-benar ingin membuat kesepakatan. Langkah AS selanjutnya adalah melakukan pemisahan daftar produk dari yang nilainya US$ 300 miliar menjadi dua bagian terpisah. Produk seperti pertanian, barang antik, pakaian, peralatan dapur, dan alas kaki akan tetap berada dalam daftar kenaikan yang direncanakan pada 1 September nanti, dengan nilai lebih dari US$ 110 miliar.

Untuk produk seperti smartphone, notebook, dan mainan anak yang nilainya sekitar US$ 160 miliar, akan dikenakan tarif setelah tanggal 15 Desember 2019. Tak hanya itu, ada beberapa bagian produk yang senilai US$ 2 miliar telah dihapus dari daftar pengenaan tarif.

Keputusan yang dibuat oleh AS tersebut membuat indeks saham di AS melonjak, yang mungkin akan menjadi sentimen positif bagi pasar di negara lain. Wakil Perdana Menteri Tiongkok Liu He telah melakukan pembicaraan dengan Robert Lightnizer dan Steven Mnuchin melalui telepon pada Selasa. Namun, hal tersebut masih belum memberikan kepastian mengenai pertemuan yang akan terjadi pada September nanti.

Sementara itu, di Eropa, Presiden Bank Sentral Eropa Mario Draghi berencana untuk memberikan stimulus sebelum pensiun. Bank Sentral Eropa memperkirakan pemangkasan tingkat suku bunga pada September 2019, dalam pertemuan Bank Sentral Eropa. Sebab, prospek program pembelian kembali aset masih menjadi sesuatu yang tidak pasti. Investor harus menilai seberapa banyak pelonggaran kuantitatif yang dibutuhkan untuk ekonomi Zona Eropa dan berapa banyak ruang yang dimiliki bank sentral untuk melakukannya.

Sebagian besar memprediksi bahwa Bank Sentral Eropa akan menurunkan tingkat suku bunganya sebesar 10 basis poin atau minus 0,5% dalam pertemuan Bank Sentral Eropa pada 12 September nanti.

Kemudian, dari dalam negeri, pelaku pasar terfokus pada rilis data neraca perdagangan yang akan diagendakan menjelang akhir pekan ini. Meskipun Morgan Stanley melalui risetnya mengungkapkan bahwa downside risk akibat perang dagang berasal dari melemahnya supply chain yang berdampak pada currency war, hal tersebut dapat meningkatkan keuangan global dan memberikan tekanan pada kinerja ekspor kuartal II-2019.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA