Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Presiden Tiongkok Xi Jinping (kiri) mengenakan masker pelindung saat petugas kesehatan memeriksa suhu tubuhnya selama inspeksi kerja pencegahan dan pengendalian pneumonia virus novel korona, di Komunitas Anhuali di Beijing, pada 10 Februari 2020. ( Foto: JU PENG / XINHUA / AFP )

Presiden Tiongkok Xi Jinping (kiri) mengenakan masker pelindung saat petugas kesehatan memeriksa suhu tubuhnya selama inspeksi kerja pencegahan dan pengendalian pneumonia virus novel korona, di Komunitas Anhuali di Beijing, pada 10 Februari 2020. ( Foto: JU PENG / XINHUA / AFP )

Fokus Pasar: Global Semakin Khawatir karena Virus Corona

Nabil Alfaruq, Jumat, 14 Februari 2020 | 09:15 WIB

JAKARTA — Wabah virus corona yang melanda dunia setelah merebak dari Tiongkok kian menimbulkan kekhawatiran dunia. Pasien baru yang didiagnosis virus tersebut semakin hari semakin bertambah jumlahnya.

Riset harian yang dilansir Pilarmas Sekuritas  menyebut, kasus virus corona di Tiongkok  meningkat sebesar 45% menjadi hampir 50 ribu, setelah sebelumnya pihak yang berwenang menambahkan pasien baru yang didiagnosis dengan metode yang berbeda. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang skala yang sebenarnya dari efek virus corona.

Padahal, sebelumnya virus corona disebut sudah terkendali, sehingga tidak menimbulkan efek kecemasan yang berlanjut. Pilarmas Sekuritas melihat, apa yang telah dilaporkan oleh Tencent beberapa waktu lalu merupakan sesuatu yang nyata. Meskipun beberapa jam kemudian, Tencent mengganti data tersebut dengan data yang dirilis oleh Pemerintah Tiongkok

“Data Tencent sendiri beberapa waktu lalu memberikan data yang meninggal 30 kali lebih banyak dari Tiongkok. Data Tencent ini pun sesuai dengan perkiraaan atas hasil studi modelling ilmiah oleh Universitas Hongkong dan dipublikasikan si situs Lancet,” tulis Pilarmas Sekuritas, di Jakarta, Jumat (14/2).

Dalam kurun waktu 12 hari sejak laporan tersebut ditulis, mereka memperkirakan jumlah orang yang terinfeksi virus corona berpotensi untuk mencapai 300 ribu orang. Hal ini  terjadi saat ini, ketika ternyata perubahan jumlah dari mereka yang terinfeksi secara global naik hingga sepertiga atau 60 ribu.

Kenaikkan ini seiring dengan pernyataan  Komisi Kesehatan Nasional Hubei  untuk mulai memasukkan kasus yang telah dikonfirmasi oleh diagnosis klinis. Data ini  mengacu pada penggunaan pemindaian CT Scan untuk mendiagnosis pasien. Sebelumnya pasien hanya diuji dengan menggunakan asam nukleat. Banyak pasien dengan gejala pneumonia yang ditemukan oleh CT Scan, tidak dapat ditemukan oleh tes asam nukleat.

Metode yang dilakukan perusahaan saat ini,  memberikan implikasi yang cukup besar pada kekhawatiran akan kemampuan test yang digunakan untuk mengidentifikasi pasien yang terkena secara global. Berita terkait dengan perubahan metodologi ini telah memberikan dampak terhadap pasar global, sehingga pasar ditutup negatif. Hal ini akan merambat hingga  perdagangan pasar saham hari ini.

Dari sisi dalam negeri, larangan ekspor bijih nikel kualitas rendah dinilai dapat menurunkan produksi bijih nikel pada tahun 2020. Sepanjang tahun lalu, produksi bijih nikel berkadar rendah mampu mencapai 52,76 juta WMT atau naik 138% dari realisasi produksi di 2018 yang mencapai 22,14 juta WMT.

“Apabila dicermati, proyeksi produksi bijih nikel yang 25 juta WMT ini memang lebih tinggi dari realisasi produksi di 2018 yang mencapai 20,07 juta WMT. Selain itu, kami melihat turunnya produksi tahun ini bila dibandingkan dengan realisasi tahun lalu juga dikarenakan adanya beberapa perusahaan tambang nikel yang tidak mengajukan RKAB produksi bijih nikel tahun ini,” tulis Pilarmas Sekuritas.

Sejak larangan ekspor ore nikel, banyak penambang yang memilih untuk tidak melakukan aktivitas penambangan. Ini karena harga lokal masih terlalu rendah. Menurut Pilarmas, saat ini banyak perusahaan yang terlanjur sudah memproduksi bijih nikel berkadar rendah mengembalikan lagi di stockpile ke lapisan batuan dasar sehingga nantinya dapat digunakan lagi apabila seluruh smelter nikel sudah beroperasi sepenuhnya. (bil)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA