Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
AS-Tiongkok. Foto ilustrasi: IST

AS-Tiongkok. Foto ilustrasi: IST

IHSG Diproyeksikan Masih Tertekan Perang Dagang AS-Tiongkok

GR, Jumat, 10 Mei 2019 | 10:15 WIB

JAKARTA- Pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada akhir pekan ini diproyeksikan masih tertekan oleh sentimen investor yang menunggu kepastian dari pertemuan Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok, setelah ancaman Presiden Donald Trump yang akan menaikkan bea masuk produk Tiongkok dari 10 menjadi 25%.

Tekanan dari konflik dagang yang tak kunjung berakhir itu menjadi "bayang-bayang" pergerakkan pasar saham global, termasuk Indonesia, dalam beberapa hari terakhir, karena sikap investor yang langsung mengencangkan "tali pengaman" dengan beralih ke aset-aset keuangan yang paling aman.

"Pelaku pasar tetap mencemaskan sikap dari Pemerintah AS atas China mengenai perdagangan yang dapat memicu kepanikan di pasar," kata Kepala Riset PT Valbury Sekuritas Indonesia Alfiansyah dalam risetnya, di Jakarta, Jumat.

Pada Kamis (10/5) kemarin, IHSG ditutup anjlok hingga 1,14%. Tidak cuma IHSG, bursa saham Asia pun berjatuhan seperti Indeks Nikkei 225 yang turun 0,93%, Hang Seng amblas 2,39%, dan Shanghai Composite ambrol 1,48$.

Sementara itu, pada Jumat pagi ini, IHSG dibuka menguat tipis 0,08% atau lima poin ke 6.203,104 dari posisi penutupan pada Kamis (10/5) di 6.198,8. Indeks kelompok saham unggulan atau LQ45 juga naik tipis saat pembukaan sebesar 1,026 poin (0,11%) ke 971,748.

Meski dibuka di zona hijau, IHSG di sepanjang Jumat ini memiliki probabilitas yang besar untuk tertekan, menyusul sikap pelaku pasar yang menanti-nanti hasil kunjungan Wakil Perdana Menteri Tiongkok Liu He ke Washington akhir pekan ini. Gonjang-ganjing hubungan dagang negara ekonomi raksasa dunia, AS dan Tiongkok sudah mengganggu pasar dalam beberapa hari terakhir. Pelaku pasar sempat berekspektasi positif, setelah perundingan Washington dan Beijing berjalan mulus, namun ekspektasi itu sirna setelah Presiden Trump mengancam akan menaikkan bea impor untuk Tiongkok.

Dalam cuitannya, Trump menuduh Tiongkok melanggar janji. Oleh karena itu, dia akan menaikkan bea masuk impor produk Tiongkok senilai US$ 200 miliar dari 10% menjadi 25%  pada 10 Mei 2019.

Menyikapi ancaman AS itu, Tiongkok memanaskan bara perseteruan dengan menyatakan akan melakukan serangan balik.

Dari sisi domestik, belum terdapat sentimen positif yang dapat menggugah perdagangan saham. Pelaku pasar masih menantikan kebijakan-kebijakan pemerintah untuk mengakselerasi laju pertumbuhan ekonomi agar dapat mencapai target 5,3%  tahun ini.

Hal itu tidak lepas dari pencapaian yang kurang bagi di kuartal I dengan pertumbuhan ekonomi yang hanya sebesar 5,07%  atau di bawah ekspektasi pasar dan Bank Indonesia yang sebesar 5,2%.

Pelaku pasar juga menantikan pengumuman kinerja neraca defisit transaksi berjalan dan neraca pembayaran kuartal I 2019 yang akan diumumkan Bank Indonesia pada Jumat siang.   

Sumber: ANTARA

BAGIKAN