Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi investasi. (Andrea Piacquadio/Pexels)

Ilustrasi investasi. (Andrea Piacquadio/Pexels)

Kilau Saham Bank Digital di Pasar Modal

Selasa, 20 April 2021 | 12:49 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

Meroket tajam telah membuat saham bank digital dinilai sudah kemahalan. Meski fundamentalnya masih belum baik, namun prospeknya di masa depan dinilai positif.”

Dwitya Putra (35) yakin saham PT Bank Jago Tbk (ARTO) masih bisa naik kencang tahun ini. Meskipun, saham bank bentukan Jerry NG ini sudah melaju 168% dalam 3 bulan terakhir (8 Januari-8 April 2021) dan 1.432% dalam 3 tahun terakhir ke level Rp 9.925 per saham (8 April 2019-8 April 2021). Padahal sebenarnya nilai buku saham Bank Jago hanya Rp 114 per saham.

Sentimen bank digital rupanya membuat karyawan swasta itu optimistis saham Bank Jago masih bisa naik lagi. Isu masuknya Gojek ke Bank Jago juga membuat Putra mempertahankan saham ini. Ternyata benar, Gojek resmi menjadi pemegang 22% saham Bank Jago pada akhir tahun lalu.

Namun, hal ini tampaknya tak cukup membuat Putra merealisasikan keuntungannya dari saham berkode ARTO ini. Dia masih ingin melihat realisasi dari isu merger Gojek dan Tokopedia. Ditambah, Bank Jago berencana kembali melakukan penambahan modal melalui rights issue. "Dalam investasi saham, saya pertimbangannya memang lebih ke isu," tutur Putra kepada Investor Daily melalui pesan singkat.

Menurut Putra, fundamental dari suatu saham seperti pertumbuhan laba, likuiditas dan komponen keuangan lain memang merupakan hal penting untuk dipertimbangkan. Namun, hal itu tidak cocok diterapkan pada saham ARTO. Sebab, saham ini lebih cocok untuk trading (jual beli), bukan investasi.

Apabila menerapkan prinsip trading dalam saham, maka ARTO hanya cocok dipegang dalam jangka pendek. Hal ini pula yang menyebabkan Putra berencana menggenggam saham Bank Jago ini hingga rencana rights issue kedua direalisasikan.

Meski demikian, bukan berarti Putra tidak mempedulikan fundamental dari sebuah saham. Dia mengaku membagi dana investasinya menjadi dua bagian, yakni satu untuk trading sehari-hari dan satu untuk investasi jangka panjang. "Untuk investasi, saya pilih saham bank yang berfundamental bagus seperti PT Bank Mandiri Tbk (BMRI)," kata dia.

Dengan strategi ini, Putra berharap tidak hanya mendapat capital gain (keuntungan modal), namun juga dari dividen yang diberikan emiten.

Berbeda dengan Putra yang hanya mengoleksi satu saham bank digital, Desty (29) justru mengumpulkan banyak saham bank digital di portofolionya. Dia kini memegang enam saham bank mini yang berencana menjadi bank digital di portofolionya. "Dari dulu memang bercita-cita mengoleksi saham bank kecil," jelas dia.

Desty yang sehari-harinya bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan badan usaha milik negara (BUMN) ini rupanya mendapat informasi akan banyak bank kecil yang bertransformasi jadi bank digital. Dia juga memeriksa kebenaran soal kabar ini dengan rajin membaca artikel di media dan sumber informasi terpercaya lainnya.

Kendati memiliki banyak portofolio saham, Desty mengaku tidak terlalu memusingkan naik turunnya harga saham yang dibelinya. Namun, dia merasa sedikit tidak sabar apabila harga saham emiten yang dibelinya mulai beranjak naik. "Kalau harga sahamnya turun, saya sudah terbiasa, tapi kalau sudah naik dikit rasanya ingin cepat di-take profit," kata dia.

Selain isu saham bank digital, menurut Desty, fundamental juga penting dalam memilih sebuah saham. Karena itu, kendati saham bank yang dipilihnya merupakan saham bank kecil, namun dia meyakini fundamentalnya bisa bertumbuh ke depannya.

Sementara itu, analis PT Pilarmas Investindo Sekuritas Okkie Setya Ardiastama mengatakan, kenaikan harga saham bank digital saat ini lebih banyak disebabkan sentimen isu akuisisi yang juga meningkatkan ekspektasi pelaku pasar. Namun, apabila sentimen bank digital mereda, bisa berisiko bagi investor yang akan membeli sahamnya.

"Apalagi harga saham bank digital saat ini telah melampaui harga wajar, sehingga cukup berisiko bagi investor. Apalagi saat ini tekanan pada indeks harga saham gabungan (IHSG) masih berlangsung," jelas dia.

Dengan mempertimbangkan kondisi saat ini, Okkie merekomendasikan investor untuk memilih saham bank berkapitalisasi besar (big caps). Saham-saham tersebut di antaranya PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI).

Bank Besar

Hal senada juga disampaikan oleh analis PT Phillip Sekuritas Anugerah Zamzami. Menurut dia, kenaikan harga saham bank kecil yang akan bertransformasi menjadi bank digital lebih disebabkan oleh spekulasi. Karena itu, harga saham bank kecil ini dinilai minim peluangnya untuk naik lagi.

Zamzami merekomendasikan investor untuk memilih saham-saham bank besar seperti BMRI, BBTN, dan BBRI. "Namun, masuknya setelah menunggu tekanan jual di pasar saham mereda dulu," tutur dia.

Zamzami melihat, dengan fundamental yang bagus, harga saham bank besar tersebut bisa meningkat ke depannya. Seperti saham BMRI, dalam jangka panjang, harga saham emiten ini bisa berpeluang menembus Rp 8.000. Kemudian saham BBRI bisa menembus Rp 5.150 dan BBTN ke level Rp 2.200.

Berdasarkan data RTI, harga saham BMRI memang mengalami penurunan dalam jangka pendek, yakni menurun 17,43% sejak 6 April 2020 hingga 6 April 2021. Namun, dalam jangka panjang, yakni 5 tahun hingga 6 April 2021, saham BMRI masih mencatatkan pergerakan positif, yakni bertumbuh 44,67% ke level Rp 6.275.

Saham BMRI juga tidak mengalami fluktuasi tajam, meski masih tercatat menurun 3,09% dalam sebulan terakhir. Dalam kurun waktu sebulan terakhir, saham BMRI mencatat penurunan terdalam pada 31 Maret 2021 yakni hingga 2,77% dalam sehari.

Begitupun dengan saham bank besar lainnya, yakni BBCA. Berdasarkan data RTI, saham BBCA masih menurun 4,2% setahun terakhir hingga periode 6 April 2021. Akan tetapi secara jangka panjang, yakni 5 tahun, saham BBCA meningkat 134,41% ke level Rp 30.825.

Dalam sebulan terakhir, saham BBCA tidak mengalami fluktuasi signifikan, walaupun sempat turun 9,34%. Penurunan saham BBCA terdalam terjadi pada 31 Maret 2021, yakni 2,81% dalam sehari.

Berbeda dengan saham BMRI dan BBCA, saham salah satu bank digital, yakni PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB) bergerak cukup fluktuatif dalam sebulan terakhir hingga periode 8 April 2021. Saham ini menurun 22,79% dalam sebulan terakhir dengan penurunan paling tajam pada 16 Maret 2021 sebesar 6,67%. Pada 8 Maret 2021, saham ini bahkan hampir menyentuh level auto rejection bawah (ARB) karena merosot 6,9%.

Meski begitu, bagi para trader yang sempat menggenggam saham ini di harga bawah, yakni di rentang Rp 200-300 per saham masih bisa membukukan keuntungan. Pasalnya, harga saham BBYB masih meningkat 76,17% dalam setahun terakhir.

Saham PT Bank Jago Tbk (ARTO) juga terbilang mencatat kenaikan spektakuler akibat sentimen bank digital ini. Saham bank Gojek ini melejit dari level Rp 604 per saham pada tiga tahun lalu menjadi Rp 9.900 pada posisi 8 April 2021. Bagi investor yang menggenggam saham ini di harga bawah memang bisa sumringah dapat cuan besar karena harga saham ini telah melaju 232,22% setahun terakhir.

Namun, harga saham ini mengalami fluktuasi cukup signifikan 11 hari terakhir dengan anjlok 32,13%. Saham ini juga hampir menyentuh ARB pada 16 Maret 2021 karena longsor 6,91%.

Fundamental

Dari sisi fundamental yang bisa terlihat dari empat indikator seperti return on equity (ROE), return on asset (ROA), earning per share (EPS), serta arus kas dan laba bersih, bank besar memang jauh lebih baik.

Berdasarkan data RTI, Bank Mandiri per akhir 2020 membukukan laba bersih Rp 17,12 triliun, kas sebesar Rp 99,47 triliun, ROE di level 9,05%, ROA 1,2%, dan EPS yang mencapai Rp 367. Begitu juga dengan BCA yang per akhir 2020 membukukan laba bersih Rp 27,13 triliun, kas Rp 50,98 triliun, ROE di level 14,7%, ROA 2,52%, dan EPS mencapai Rp 1.100.

Sedangkan Bank Jago pada akhir 2020 masih membukukan rugi bersih Rp 189,57 miliar, kas yang minus Rp 327,18 miliar, ROE minus 15,38%, ROA minus 8,7% dan EPS minus Rp 17. Sementara, Bank Neo Commerce masih bisa membukukan laba bersih Rp 15,87 miliar, namun kas minus Rp 151,65 miliar, ROE 1,42%, ROA 0,29%, dan EPS Rp 2. 

Untuk diketahui, sebuah saham layak untuk dikoleksi dalam jangka panjang apabila memiliki pertumbuhan laba yang konsisten, arus kas yang positif untuk melihat kinerja operasionalnya, serta ROE, ROA dan EPS yang tinggi. Sementara untuk aspek kualitatif, emiten harus memiliki merek yang dikenal secara luas oleh publik, dikelola oleh manajemen yang berintegritas tinggi dan merupakan pemimpin pasar di bidangnya.

Terlepas dari pergerakan harga sahamnya yang cukup fluktuatif di pasar, namun bank digital dinilai prospektif di masa depan. Praktisi Pasar Modal Rivan Kurniawan menjelaskan, setidaknya ada dua hal yang mendukung hal tersebut, yakni dari segi penetrasi masyarakat Indonesia yang cukup tinggi terhadap internet, yakni sebesar 197 juta orang. Kemudian dengan menjadi bank digital, bank tersebut bisa menghemat belanja modal untuk membuka kantor cabang.

"Bank Indonesia juga tengah menggodok kebijakan rupiah digital sehingga bisa membentuk ekosistem yang lebih stabil untuk transaksi ekonomi digital," kata dia.

Pengembangan bank digital, menurut Rivan, juga memiliki beberapa tantangan. Salah satunya dari aspek keamanan, karena bank digital harus bisa menjamin keamanan dan kerahasiaan data nasabah. Selain itu, literasi keuangan masih sangat rendah, meski tingkat penetrasi internet cukup tinggi. Hal ini jadi pekerjaan rumah bagi bank digital agar bisa menjaring nasabah baru.

Kemudian, dengan maraknya perkembangan bank digital, maka tingkat persaingannya jadi semakin tinggi. Sehingga, bank digital tidak hanya harus pandai menjaring nasabah baru yang tingkat literasinya masih rendah, namun juga harus berkompetisi dengan bank digital lainnya.

Dengan melihat prospek tersebut dan memperhatikan pergerakan harganya, Rivan menilai valuasi saham bank digital relatif sangat mahal. Dia mencontohkan saham PT BRI Agroniaga Tbk (AGRO) dengan price to book value (PBV) mencapai 6 kali, Bank Neo Commerce yang mencapai 4 kali dan Bank Jago sudah mencapai 84 kali. Nilai ini jauh lebih tinggi dibandingkan PBV wajar di angka 1 kali. 

"Dengan memperhatikan valuasi tersebut, investor yang ingin berinvestasi sebaiknya tidak terpengaruh oleh euforia bank digital," ujar dia.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN